Sekedar LPIK

My photo
Lembaga Pengkajian Ilmu Keislaman (LPIK) Bandung
Showing posts with label Ragam. Show all posts
Showing posts with label Ragam. Show all posts

Friday, May 1, 2009

Kebudayaan Islam

Islam, Kebudayaan, dan Sejarah

> --- In SuaraHati@yahoogrou ps.com, Ahsa wrote:
>
> Kalau saya malah berpendapat bahwa kebudayaan itu merupakan ekspresi identitas. Tanpa kebudayaan, Islam akan kering dan akan dianggap sama dengan agama lainnya, yang melulu berada dalam ranah teologis atau doktrin. Jika dipahami seperti itu, Islam sebagai rahmatan lil `alamin cuma bualan. Mohon koreksinya!

> > >>>www.ahmadsahidin .wordpress. com<<<
-----------

--- On Sat, 4/25/09, hudan_ibnul_ iman menulis:
> Subject: Re: Bls: [SuaraHati] Untuk Prof.Abdul Hadi WM dan lainnya: Kebudayaan Islam ....
To: SuaraHati@yahoogrou ps.com
> Date: Saturday, April 25, 2009, 8:27 AM

> Pertanyaannya, Islam bagian dari kebudayaan atau Kebudayaan bagian dari Islam? Islam itu menuntun kepada perbuatan yang disebut ibadah ("tidak Aku ciptakan Jinn dan Manusia, kecuali untuk beribadah kepada-Ku"), maka pertanyaan di atas ditambahkan dengan, Apakah kebudayaan tersebut bagian dari atau mempunyai nilai ibadah kepada Allah? jika tidak punya nilai Ibadah kepada Allah artinya "sia-sia" alias "rugi". Walaupun berpakaian seperti Nabi Muhammad SAW yang berasal dari bangsa Arab, kalau tidak berdasarkan niat ibadah tapi hanya sekedar pakaian budaya Arab saja, artinya "Sia-sia".
> Sebagai catatan sebagai renungan, apakah sama antara pakaian kebudayaan Arab dengan pakaian yang diajarkan Nabi Muhammad SAW? Jelas tidak sama. Dan Nabi SAW berpakaian demikian adalah perintah dari Allah, saya yakin sekiranya Nabi SAW terlahir di negeri bukan Arab, beliau tetap akan mengenakan pakaian yang sesuai dengan perintah Allah. Bukti ada hadist mengatakan "Pada mulanya Islam datang dianggap asing, nanti di akhir zaman kembali asing", maka beruntunglah orang-orang yang dianggap asing karena telah melaksanakan perintah Allah.
> pernyataan "... Tanpa kebudayaan, Islam akan kering ...", kering menurut siapa, Allah atau Manusia? Kebudayaan yang beraneka menunjukkan luasnya kebudayaan yang Allah Miliki, Islam milik Allah, dan Allah menutun manusia kepada kebudayaan yang lurus melalui Islam. Kebudayaan tertentu boleh jadi bagian dari Islam, akan tetapi Islam bukan bagian dari kebudayaan.
> Wallahu 'alam.
……………


> Dari: Tommy tamtomo < >
> Topik: Re: Bls: [SuaraHati] Untuk Prof.Abdul Hadi WM dan lainnya: Kebudayaan Islam ....
> Kepada: SuaraHati@yahoogrou ps.com
> Tanggal: Sabtu, 25 April, 2009, 9:24 AM
>
QUOTE./ "Walaupun berpakaian seperti Nabi Muhammad SAW yang berasal dari bangsa
> Arab, kalau tidak berdasarkan niat ibadah tapi hanya sekedar pakaian
> budaya Arab saja, artinya "Sia-sia"./ UNQUOTE.
> Ini bisa menjadi suatu permulaan dari sebuah 'thesis' yg panjang ya.
> Salam,
> TT.
>
……………..
> --- Pada Sen, 27/4/09, Muchson Djaiz Achmad Suryadi menulis:
> Dari: Muchson Djaiz Achmad Suryadi
> Topik: Re: Bls: [SuaraHati] Untuk Prof.Abdul Hadi WM dan lainnya: Kebudayaan Islam ....
> Kepada: SuaraHati@yahoogrou ps.com
> Tanggal: Senin, 27 April, 2009, 4:06 AM

> @Mas Hudan, Ada pakaian kebudayaan arab, ada pakaian yang dituntunkan Nabi. Apakah ada beda dari kedua hal tersebut?
> Bila pakaian Nabi sama dengan pakaian budaya arab, apakah pakaian seperti demikiankah yang diperintahkan Allah SWT?
> Abu Jahal, Abu Lahab, Musailamah al-Kadzab, tokoh2 munafik dan kafir, juga mengenakan pakaian yang sama dengan pakaian Rasulullah SAW. Sorbannya pun serupa.
> Abu Sufyan sewaktu kemudian masuk Islam, sepertinya tidak ada khabar/hadis bahwa Abu Sufyan mengganti tata cara berpakaiannya mas.
> TERIMAKASIH

………………

--- In SuaraHati@yahoogrou ps.com, Abdul Hadi WM wrote:

> Anda tak memberikan contoh yang jelas, pakaian apa yang disarankan Nabi. Yang kita tahu dari al-Qur'an ialah agar orang Islam menutup aurat.. Menutupnya kan bisa dengan baju Arab, Iran, Pakistan, Jawa dan lain-lain.

……………………

--- Pada Rab, 29/4/09, hudan_ibnul_ iman menulis:
Topik: Re: Bls: [SuaraHati] Untuk Prof.Abdul Hadi WM dan lainnya: Kebudayaan Islam ....
Kepada: SuaraHati@yahoogrou ps.com
Tanggal: Rabu, 29 April, 2009, 7:55 AM

Terima kasih pak Prof. membantu saya menjelaskan. Sebenarnya saya malu bila terkadang berdebat dengan ahli2 milis ini, karena kebanyakan memiliki tingkat pendidikan yang tinggi, sedangkan saya hanya sebatas SMK saja, akan tetapi gejolak rasa ingin berbagi pendapat tak tertahankan sehingga tertuang di milis ini.
Pastinya kita semua tidak ada yang hidup pada masa Nabi SAW bagaimana beliau berpakaian, akan tetapi boleh kita bandingkan melalu hadist2 bab tentang pakaian dengan cara berpakaian budaya bangsa Arab saat ini. Dari media televisi bila menonton film2 Arab, pakaiannya garis2 putih hitam (belang) dan tidak bersurban. Sedangkan dari hadist mengatakan Nabi SAW mengenakan warna putih polos, di hadist lain ada larangan mengenakan pakaian melebihi batas mata kaki, karena masa itu banyak yang berlaku sombong mengenakan pakaian yang panjangnya sampai dapat menyapu lantai.
Pakaian untuk wanitanya pun berbeda, dimana wanita Arab belum bertudung/burghah, kemudian Allah memerintahkan kepada para Istri untuk mengenakan burghah (tercatat dalam Al-Qur'an).
Jadi seperti yang sudah di terangkan oleh Prof. Abdul Hadi, seperti halnya di Indonesia, di negeri Arab pun, terdapat berbeda suku-suku/golongan, maka berbeda pula kebudayaan, berbeda pula pakaian, bahkan berbeda pula bahasa walaupun sama-sama bangsa Arab.
Nabi SAW, segala tindak tanduknya adalah atas perintah Allah, terutama semua hal yang ada di Al-Qur'an, dan Al-Qur'an sendiri, walau dalam bahasa Arab, tata bahasanya mempunyai nilai-nilai yang tinggi berbeda dengan bahasa Arab pada umumnya, sehingga ada kalimat2 dalam Al-Qur'an yang sulit dipahami walau oleh bangsa Arab sendiri, apalagi yang ga mengerti bahasa Arab, berpatokan hanya dari terjemahannya saja, sangat riskan tiap orang akan menafsirkan masing-masing.
Wallahu'alam.
Wassalam.


--- Pada Rab, 29/4/09, Ahsa menulis:
Topik: Re: Bls: [SuaraHati] Untuk Prof.Abdul Hadi WM dan lainnya: Kebudayaan Islam ....
Kepada: SuaraHati@yahoogrou ps.com
Tanggal: Rabu, 29 April, 2009, 6:26 PM

hmm... sejarah Islam, khususnya tentang sosok dan identitas berpakaian (budaya) baginda Rasulullah saw memang kaya dan banyak diriwayatkan. Namun, dari riwayat2 yang ada sudah seharusnya kita bersikap kritis, seperti yang dinyatakan oleh Muhammad Al-Ghazali, pakar hadits dari Mesir, bahwa dalam kumpulan hadits Bukhari dan Muslim saja masih terdapat "ketidakcocokan" hadits dengan Al-Quran.
Muhammad al-Ghazali dalam buku “Sunah Nabi Muhammad Saw : Menurut Ahli Fiqih dan Ahli Hadis” (PT.Lentera, 2002) menyatakan bahwa dalam melihat Islam—terutama warisan Nabi Muhammad Saw—yaitu sunah sangat diharuskan untuk bersikap kritis dan jeli dalam memahami teks dan nilainya.
Menurutnya, setelah diteliti dalam beberapa kitab hadits seperti shahih Bukhori dan Muslim, ternyata banyak terdapat hadits-hadits atau sunah Rasulullah yang jauh berbeda dengan perilaku dan pernyataan Rasulullah saw yang digambarkan dalam al-Quran. Hasilnya, ada beberapa riwayat, yang menurutnya kurang sesuai dengan sosok Rasulullah saw. Al-Ghazali menyebutkan hadits-hadits seperti tentang mayat disiksa karena tangisan keluarganya, mendengar nyanyian adalah perbuatan jahilyah dan haram, tentang malaikat maut yang ditonjok Nabi Musa as, atau hadits mengenai Nabi kena sihir, adalah hadits-hadits yang kebenarannya tidak bisa dipertanggungjawabk an. Bukankah Nabi itu suci dan terjaga dari kesalahan dan dosa? Bukankah Nabi itu segala ucapan dan tingkah lakunya adalah perwujudan Al-Quran dan ucapannya itu berasal dari Allah (lihat QS.An-Najm ayat 3-4). Juga sangat tak masuk akal jika Rasulullah Saw yang sehari-hari berada dalam kondisi bersih dan suci serta menjalankan amalan-amalan yang diperintahkan Allah, bisa terkena sihir. Bukankah sihir itu akan mengena pada mereka yang jauh dari nilai-nilai ilahiyah dan dekat dengan setan? Rasulullah jauh dengan setan dan bahkan setan atau jin kafir pun takut bila jumpa dengannya. Karena itu, menurut Al-Ghazali, sesuatu yang sudah pasti berdasarkan wahyu Allah dan ternyata berbeda dengan hadits-hadits atau sunah, maka hadits dan sunah itulah yang harus disingkirkan.
Mas Hudan, saya kira dalam urusan pakaian atau kebudayaan atau yang berkenaan dengan Rasulullah, termasuk yg disampaikan Mas Hudan, harus diuji dahulu kebenaran sanad dan matan serta secara historis.

>>>www.ahmadsahidin. wordpress. com<<<

………………………………….

"Abdul Hadi WM" wrote:
Kepada: SuaraHati@yahoogroups.com

Sebenarnya sejak awal saya ragu apa relevan dan produktif memperdebatkan suatu masalah besar dan luas seperti: (1) Kebudayaan dan pengertiannya secara umum; (2) Hubungan Islam sebagai al-dien dengan perkembangan kebudayaan dan peradaban di wilayah-wilayah yang penduduknya kini menganut agama Islam serta menerapkan nilai-nilai, pandangan hidup (way of life) dan gambaran intuitif tentang dunia (Weltanschauung, worldview) dalam berbagai aspek kehidupannya; (3) Tak terelakkan kebudayaan suatu komunitas yang disebut etnik, kaum atau bangsa berkembang dalam suatu periode sejarah yang panjang dan tidak linear. Karena itu sejarah penyebaran Islam dan dampak bagi perubahan sosial dan kebudayaannya juga mesti dibicarakan. Khawarij, Sunnah wal Jamaah, Syiah, Mu'tazilah, Wahabi, Salafi dan lain-lain itu semua berkembang dalam periode sejarah di suatu dan beberapa negeri, dan pengaruhnya berbeda-beda di negeri satu dengan negeri lain. Karena itu corak kebudayaan yang berkembang di negeri satu berbeda pula di negeri lain.; (4) Berbicara kebudayaan juga berbicara tentang bidang-bidang yang termasuk kebudayaan. Karena secara bersahaja kata kebudayaan dapat diartikan sebagai himpunan budaya-budaya, maka kita bisa berbicara tentang budaya ilmu, budaya seni, budaya sastra, budaya baca tulis, budaya intelektual, budaya filsafat, budaya tata boga, budaya tata busana, budaya arsitektur, budaya seni kriya, budaya adat istiadat, budaya ritual dan seremonial, budaya pertanian, budaya politik, budaya ekonomi, budaya pemerintahan, dan lain sebagainya; (5) Setiap kebudayaan pada umumnya memiliki empat aspek utama -- Pertama, asas kerohanian atau metafisika berupa Weltanschauung atau semacam sistem metafisika yang dijadikan landasan untuk memandang dunia, kedudukan manusia di alam semesta. Asas metafisika ini sering ditampilkan secara simbolik dalam kesusastraan dan seni, adat istiadat, dan diuraikan dalam ilmu-ilmu dan pemikiran filsafat yang tumbuh dalam masyarakat bersangkutan; Kedua, aspek tak kalah penting yang disebut sebagai landasan epistemologis, yaitu metode atau kaidah apa saja yang lazim digunakan oleh suatu komunitas bangsa atau kaum dalam mencari kebenaran, menyusun pengetahuan dan membangun pemikiran atau gagasan. Dalam tradisi intelektual Islam, disepakati bahwa al-Qur'an menganjurkan pemakaian metode pengamatan secara inderawi (empiris), penggunaan akal pikiran (fikr, rasional), perenungan intuitif dengan metode introspeksi (makrifa) dan pengalaman sejarah (lihat kisah tentang kaum Nabi Luth, Firaun, Musa, Khaidir, Daud, Sulaiman, Yusuf, dan lain-lain). Ketiga, disamping asas metafisika dan landasan epistemologis setiap kebudayaan pastilah memiliki pandangan tentang nilai-nilai. Ini disebut aspek aksiologis. Aspek ini mengandung dua segi -- Etika dan Estetika. Kebajikan, sebagai salah satu inti kebudayaan, bersumber dari etika yaitu pandangan tentang baik buruknya sesuatu. Kreativitas, inti kebudayaan yang lain bersama-sama dengan kebajikan dan kecerdasan, bersumber dari wawasan estetik atau wawasan tentang keindahan. Misalnya bagaimana menyampaikan gagasan dan pengetahuan dengan baik, berbusana dengan sopan, dan lain sebagainya.
Ketia aspek inilah -- asas metafisika, landasan epistemologis dan aksiologis -- yang membedakan suatu kebudayaan yang satu dengan yang lain. Jadi soal berkenaan dengan berpakaian dan segala macam itu hanya persoalan sebagian kecil.




Tuesday, April 21, 2009

Dendam Sejarah Bergulir dalam Peradaban Manusia

Topik: [SuaraHati] Dendam Sejarah Bergulir dalam Peradaban Manusia
Kepada: SuaraHati@yahoogrou ps.com
Tanggal: Selasa, 21 April, 2009, 12:26 AM

MEMBACA buku tentang pemikiran ekonomi Islam membuat saya menjadi tahu bahwa sejarah Islam kaya dengan khazanah ilmu-ilmu. Buku yang saya baca tersebut ditulis oleh Dr.Deliarnov Anwar, yang diberi judul “Sejarah Pemikiran Ekonomi Islam: dari Era Klasik hingga Modern dan Perbandingannya dengan Ekonomi Konvensional” . Buku yang ditulis oleh dosen program studi Ekonomi Islam Pascasarjana Universitas Islam Negeri Sultan Syarif Kasim Pekanbaru dan lulusan doktor ekonomi di Amerika Serikat, ini insya Allah akan diterbitkan Penerbit Salamadani Pustaka Semesta pada akhir April 2009.
Setelah dilihat-lihat, buku itu isinya berupa ulasan tentang pemikiran ekonomi Islam dan ada sedikit tentang ekonomi konvensional. Juga membahas tentang aturan-aturan pokok ekonomi yang berdasarkan pada sumber Islam (Al-Quran dan hadits) dan memberikan gambaran tentang karakteristik ekonomi Islam yang membedakannya dengan ekonomi konvensional. Selain itu, diulas juga hukum dan prinsip ekonomi Islam menurut para ulama (Klasik dan Modern) seperti Imam Ja´far Ash-Shadiq, Abu Hanifah, Malik bin Anas, Imam Asy-Syafi´i, Ahmad bin Hanbal Abu Yusuf, Asy-Syaibani, Abu Ubayd, Al-Mawardi, Al-Ghazali, Ibnu Taimiyah, Ibnu Khaldun, Al-Maqrizi, Zaid bin Zainal Abidin, Yahya bin Umar, Ibnu Miskawaih, Ibnu Hazm, Al-Juwaini, As-Sarakhsi, Dimashqi, Fakhruddin Ar-Razi, Ibnu Qudamah, Najmuddin Ar-Razi, Nasiruddin Ath-Thusi, Shah Waliullah Dihlawi, Jamaluddin Al-Afghani, Muhammad Abduh, Muhammad Iqbal, Hasan Al-Banna, Ziaul Haque, Sayyid Abul A´la Mawdudi, Sayyid Qutb, Muhammad Baqir Ash-Shadr, Fazlur Rahman, Ismail Razi Al-Faruqi, Khursid Ahmad, Muhammad Anas Zarqa, Nejatullah Siddiqi, Yusuf Qaradhawi, dan Umer Chapra.
Dalam buku ini, Deliarnov Anwar membagi sejarah pemikiran ekonomi Islam pada empat fase. Fase pertama, pemikiran-pemikiran ekonomi Islam baru pada tahap meletakkan dasar-dasar ekonomi Islam, dimulai sejak awal Islam hingga pertengahan abad ke-5 H/ 7-11 Masehi. Pada tahap ini pemikiran-pemikiran ekonomi Islam pada umumnya bukanlah dibahas oleh para ahli ekonomi, melainkan dirintis fuqaha, sufi, teolog, dan filsuf Muslim. Pemikiran ekonomi Islam pada tahap ini banyak ditemukan dalam kitab-kitab turats (peninggalan ulama). Dari turats itulah para intelektual Muslim maupun non-Muslim melakukan kajian, penelitian, analisis, dan kodifikasi pemikiran-pemikiran ekonomi Islam yang pernah ada atau dikaji pada masa itu. Pemikiran-pemikiran ekonomi yang terdapat dalam kitab tafsir, fiqih, tasawuf dan lainnya, adalah produk ijtihad sekaligus interpretasi mereka terhadap sumber Islam saat dihadapkan pada berbagai kegiatan-kegiatan ekonomi dan persoalan-persoalan ekonomi yang dihadapi masa itu. Fase kedua adalah “cemerlang”, berlangsung dari abad 11- 15. Pada masa ini para fuqaha, sufi, filsuf, dan teolog, mulai menyusun bagaimana seharusnya umat Islam melaksanakan berbagai aktivitas ekonomi. Tidak hanya merujuk pada Al-Quran dan tradisi kenabian, tapi juga mulai mengemukakan pendapat-pendapatny a sendiri. Fase ketiga adalah stagnasi, ditandai dengan kemunduran Dunia Islam dalam khazanah intelektual, sejak 1446 hingga munculnya pemikir Muhammad Iqbal pada 1932. Fase keempat adalah modern, ditandai dengan kebangkitan Dunia Islam dari stagnasi pemikiran selama lima abad sejak pertenghaan abad ke-15 hingga pertengahan abad ke-20. Pada masa modern ini muncul pakar-pakar ekonomi Islam profesional. Jika pembahasan ekonomi sebelumnya dilakukan para fuqaha, teolog, filsuf, dan sufi, maka pada masa modern ini dikembangkan kalangan sarjana ekonomi atau cendekiawan Muslim, yang tidak sedikit mendapat pendidikan Barat.
Sebuah jejak perjalanan pemikiran ekonomi Islam. Sebuah kekayaan yang pantas kita banggakan dan hadirkan dengan kontekstualisasi dan pengembangan nalar sehingga relevan dengan zaman sekarang. Memang harus diakui bahwa pasca-tumbangnya Komunisme, Sosialisme, Liberalisme dan sistem ekonomi Kapitalisme yang menjadikan krisis global di negara-negara Barat dan yang berada di bawah naungannya, termasuk Indonesia, para ekonom Barat mencari “formula” yang kemampuan, kekuatan, dan kehebatannya melampaui sistem dan pemikiran yang sebelumnya. Mereka melihat pada Islam, khususnya pada khazanah pemikiran ekonomi yang dikemukakan para ulama dan cendekiawan Muslim. Tidak sedikit karya khazanah ekonomi Islam itu diadaptasi dan dikembangkan di negara-negara Barat sekarang ini. Bedanya dengan di negeri-negeri Islam adalah, ekonom Barat mengambil sistem dan konsepnya tanpa mengambil sisi spiritualitasnya. Mungkin, bisa diibaratkan bentuk tanpa isi. Namun, meski begitu geliatnya dalam mewujudkan sistem yang berdasarkan syari`ah sangat tampak dari beberapa perusahaan yang ada di Eropa, khususnya di Inggris sudah muncul perguruan tinggi yang mengajarkan Islamic finance dan di Jepang untuk kawasan Asia. Mengapa mesti ekonomi Islam yang menjadi solusi dalam membangun sistem perekonomian yang utuh dan paripurna?
Menurut Deliarnov, hal ini karena ekonomi Islam memiliki ciri atau karakteristik khusus, yang sangat berbeda dengan sistem dan konsep perekonomian lainnya. Ciri pertama adalah ekonomi Islam berlandaskan pada tauhid (Ilahiyah). Ciri kedua adalah mengutamakan keadilan.
Ciri ketiga adalah kemanusiaan, terutama dalam berbagi kepada yang kurang mampu secara finansial dan belum berdaya. Ciri keempat adalah menjunjung kebebasan, melepaskan manusia dari beban dan rantai yang membelenggunya karena Islam menjunjung kebebasan, berarti kreasi, inovasi dan improvisasi untuk hal-hal yang baik dan bermanfaat adalah keharusan. Ciri kelima adalah akhlak. Islam menghubungkan masalah mu`amalah dengan etika, seperti kejujuran, amanah, adil, ihsan, kebajikan, silaturrahim, dan kasih sayang. Semua itu harus tercermin dalam semua kegiatan ekonomi, mulai dari produksi, sirkulasi dan perdagangan hingga konsumsi.
Bagi saya, termasuk buku “Sejarah Pemikiran Ekonomi Islam: dari Era Klasik hingga Modern dan Perbandingannya dengan Ekonomi Konvensional” dan persoalan ekonomi Islam, merupakan sebuah bentuk terobosan (untuk tidak mengatakan latah) dan juga upaya untuk memosisikan diri di atas pentas dunia. Memang harus diakui bahwa peradaban dunia sekarang, khazanah dan wacananya masih dikuasai Barat. Lagi-lagi yang tidak saya temukan, termasuk dalam istilah disiplin yang menggunakan label Islam dibelakangnya adalah esensi, paling hanya ganti istilah dengan bahasa berbau Arab. Seperti persoalan riba, ternyata dilarang juga dalam Agama Yahudi. Hanya mereka, dalam interaksi dengan pihak luar agama dan kaumnya, sangat membolehkannya karena Yahudi memang licik, termasuk dalam urusan politik. Saya juga melihat ada kecenderungan pada para pemikir Islam sekarang, termasuk yang disebutkan di atas, bahwa sekarang ini eranya mencibir dan menuding bahwa ekonom Barat (baik itu aliran Klasik, Neo-Klasik, Kapitalisme, Fisikratisme, atau Neo-Liberalisme yang kini sedang sekarat): konsep dan teorinya adalah hasil "curian" dari khazanah Islam. Mungkin kita ingat bagaimana masa Perang Salib, atau masa kekuasaan Islam di Andalusia dan negeri Barat lainnya, banyak khazanah Islam yang diterjemahkan dan diklaim sebagai original "pemikiran" Barat hingga kini. Tampaknya sebuah dendam sejarah sedang bergulir dalam peradaban manusia. Semoga saja tidak terjadi.

AHMAD SAHIDIN, pekerja buku
>>>>>>Ingat, akhir April dan awal Mei buku “Sejarah Pemikiran Ekonomi Islam: dari Era Klasik hingga Modern dan Perbandingannya dengan Ekonomi Konvensional” beredar di toko buku ternama.
……………….

2009/4/21
Abdul Hadi WM wrote:
Ass wr wb.
Sudah berulang kali saya sampaikan kepada rekan-rekan yang gemar menyangsikan, bahkan menafikan kekayaan khazanah intelektual Islam (termasuk kesusastraan, pemikiran sosial, ekonomi, kebudayaan dan politiknya), agar bersedia meneliti dulu pustaka pemikiran Islam sebelum memperdebatkan atau meragukan kekayaan khazanah intelektual Islam. Selain buku-buku Islam yang klasik dari Dunia Arab dan Persia (saya sengaja tak menggunakan istilah Timur Tengah yang sering dikaitkan hanya dengan Arab Saudi dan negeri-negeri di sekitarnya) juga tidak sedikit karya klasik dari anak-benua Indo-Pakistan dan Nusantara yang berharga untuk dibaca dan diteliti. Karya-karya modern yang harus dibaca termasuk karya Muhammad Abduh, Muhammad Iqbal, Murtadha Muttahari, Muhammad Natsir, Muhammad Hatta, Ali Syariati, Mahbub al-Haqq, Ayatullah Khomeini, dan masih banyak yang lain yang relatif bersih dari bercak-bercak pemikiran orientalis.
Tutuplah dulu selama tiga empat tahun buku-buku karangan sarjana Barat tentang Islam, atau mereka yang sinis terhadap Islam, buka lebar-lebar dan simak halaman-halaman buku karya cendekiawan Muslim dalam berbagai lapangan. Baru berdebat tentang Politik Islam, Ekonomi Islam, kedudukan pentingh Syariat, Tasawuf, Filsafat Islam, dan lain sebagainya.
Salam.

Abdul Hadi WM
……………….



Topik: Re: Bls: [SuaraHati] Dendam Sejarah Bergulir dalam Peradaban Manusia
Kepada: SuaraHati@yahoogroups.com
Tanggal: Selasa, 21 April, 2009, 2:10 AM

Saya setuju dengan ususlan Profesor. Hanya saja, jika kita terlalu fokus dalam kajian yang berasal dari khzanah kita sendiri tanpa diringi dengan wawasan dari luar kita, saya menyangsikan bisa umat yang terbaik. Jangan2 kita nanti megalomania (jangan sampai ah!). Khazanah luar kita (baca:Barat atau yang terpercik pemikiran Barat) wajib kita baca sebagai pembanding.

Ahsa
……………….

Abdul Hadi WM to SuaraHati :

Saya kan mengatakan tutup dulu sementara waktu, karena kita sebenarnya telah cukup banyak mempelajari khazanah di luar tradisi intelektual Islam. Sedangkan dari khazanah intelektual Islam, sangat sedikit yang kita pelajari. Itupun hanya permukaan saja. Setidak-tidaknya pengalman saya menunjukkan bahwa bilamana hal itu dilakukan akan banyak manfaatnya, tahu benar kekurangan pemikiran Barat dan kelebihannya, begitu pula akan tahu kelebihan pemikiran Islam serta kekurangannya. Selanjutnya kita baca kembali pemikiran Bara, kita analisis menggunakan metode komparatif dan historis. Pada saat yang sama kita gunakan tehnik pemahaman hermeneutik dalam menafsirkan pemikiran dari tradisi Islam serta menyimpulkan relevansinya. Memang, ini bukan pekerjaan ringan. Saya sendiri pada mulanya mempelajari banyak filsafat dan kesusastraan Barat, sedikit khazanah sastra dan filsafat Timur, kemudian pindah mempelajari khazanah sastra dan intelektual Islam.
Sekian. Jika tak setuju tidak apa-apa. Biar saya sendiri saja yang menikmati manfaatnya.

Abdul Hadi WM

……………….
Abdillah Toha to SuaraHati:

Dari sedikit buku yang pernah saya baca tentang ekonomi Islam, sebenarnya yang dibahas adalah ekonomi politik Islam (Political Economy), bukan teori ekonomi (Economics). Teori ekonomi membahas behaviour (peri laku) orang, masyarakat, pasar dan sebagainya ketika bereaksi terhadap stimulus tertentu, seperti teori marginal utility, teori demand and supply, interest rate, money supply dan lain-lain. Sedangkan political economy lebih membahas apa yang seharusnya dilakukan oleh pemerintah atau komunitas untuk mencapai tujuan ekonomi tertentu seperti growth, pemerataan dsb. Islam mungkin bisa juga mengembangkan teori ekonomi dengan mengambil dasar-dasar ayat alQur'an dan hadist tentang perilaku manusia seperti bahwa manusia itu pada dasarnya bodoh (tidak rasional), tergesa-gesa, tidak sabar dsb. Saya ingin bertanya apakah Islam juga mengembangkan ilmu teori ekonomi juga, dan kalau ada saya ingin tahu buku apa yang harus saya baca.

AT

……………….
Ahsa to SuaraHati :

Betul, yang saya baca dari buku “Sejarah Pemikiran Ekonomi Islam: dari Era Klasik hingga Modern dan Perbandingannya dengan Ekonomi Konvensional” (Penerbit Salamadani, 2009) karya Dr.Deliarnov Anwar, bahwa pemikir-pemikir Muslim, khususnya fuqaha, lebih banyak memberikan landasan etika dalam berpolitik maupun mu`amalah. Konsep atau teorinya yang tampak hanyalah tafsir dari ayat2 atau sunnah Nabi saw yang dianggapnya masuk dalam perilaku mu`amalah Muslim. Namun, dalam sejarah Islam pula tidak dipungkiri bahwa "teori" ekonomi sendiri sedikitnya bisa kita lacak dari sosok ilmuwan muslim seperti Ibnu Khaldun, Imam Ja´far Ash-Shadiq, Abu Hanifah, Malik bin Anas, Imam Asy-Syafi´i, Ahmad bin Hanbal Abu Yusuf, Asy-Syaibani, Abu Ubayd, Al-Mawardi, Al-Ghazali, Ibnu Taimiyah, Ibnu Khaldun, Al-Maqrizi, Zaid bin Zainal Abidin, Yahya bin Umar, Ibnu Miskawaih, Ibnu Hazm, Al-Juwaini, As-Sarakhsi, Dimashqi, Fakhruddin Ar-Razi, Ibnu Qudamah, Najmuddin Ar-Razi, Nasiruddin Ath-Thusi, Shah Waliullah Dihlawi, Jamaluddin Al-Afghani, Muhammad Abduh, Muhammad Iqbal, Hasan Al-Banna, Ziaul Haque, Sayyid Abul A´la Mawdudi, Sayyid Qutb, Muhammad Baqir Ash-Shadr, Fazlur Rahman, Ismail Razi Al-Faruqi, Khursid Ahmad, Muhammad Anas Zarqa, Nejatullah Siddiqi, Yusuf Qaradhawi, dan Umer Chapra. Yang disebut belakangan, sedikitnya telah membuka ke arah pembentukan ekonomi Islam. Mungkin sebaiknya Pak Abdillah menunggu hadirnya buku “Sejarah Pemikiran Ekonomi Islam: dari Era Klasik hingga Modern dan Perbandingannya dengan Ekonomi Konvensional” (Penerbit Salamadani, 2009). Kemudian didiskusikan kembali dalam forum ini. Atau jika ada yang mempunyai kafa`ah di bidang ini, kita persilahkan membongkarnya.

Ahsa

Monday, March 9, 2009

pemimpin

DISKUSI Mencari Pemimpin Besar

Re: Bls: [ikhwanusshafa] mencari PEMIMPIN BESAR
Sabtu, 7 Maret, 2009 19:07
Dari: "Afif Muhammad" Kepada: aahsa@....
Cc: ikhwanusshafa@yahoogroups.com

Mumpung sekarang lagi Maulid Nabi Saw akan enak rasanya jika kita ngobrol tentang Nabi kira yang suci. Jika kita jadikan beliau sebagai teladan dalam kepemimpinan, maka beliau adalah pemimpin yang lengkap dalam semua sisinya. Artinya, beliau adalah pemimpin agama (ummat), sekaligus pemimpin negara (bangsa). Kepemimpinan seperti ini sudah tidak kita temukan hari ini. Yang ada hanyalah pemimpin agama (ulama, MUI) atau pemimpin negara/politik.

Masing-masing bidang kepemimpinan membutuhkan ilmu dan syarat-syaratnya sendiri. Gampangnya, menjadi pemimpin agama haruslah menguasai ilmu-ilmu agama dan syarat-syarat sebagai pemimpin agama. Begitu pula dengan pemimpin negara/politik. Ia harus faham betul masalah-masalah politik-ketatanegaraan dan punya kecakapan dalam bidang politik. Mencari pemimpin yang sekaligus memiliki ilmu dan kecakapan dalam kedua bidang itu teramat sulit. Sebab, sistem pendidikan dan kultur kita sudah terlanjur dikhotomis (ilmu agama terpisah dari ilmu kealaman, termasuk politik). Inilah pang pada gilirannya melahirkan kelompok Ulama (pemimpin agama) dan Umara' (pemimpin politik).

Anak-anak UIN/IAIN bergelut di ilmu-ilmu keagamaan, dan mereka--termasuk Ahmad Sahidin (Ahsa) dan saya--bergelut di ilmu-ilmu keagamaan, dan hampir tidak mengerti tentang ekonomi, fisika, matematika, kimia, kedokteran, pertanian, etc. Karenanya kita hanya cocok menjadi Ulama. Sulit cari kerja karean kita tidak mengerti tentang ilmu-ilmu yang berurusan dengan bidang-bidang yang disebutkan terkemudian itu. Kawan-kawan kira yang lain (UNPAD, UI, ITB, UPI) bergumul dengan ilmu-ilmu yang berurusan dengan dunia tadi, tetapi kurang paham tentang ilmu agama (wong mereka belajar cuma 2 jam di SD, SMP, SMA, dan 2 sks selama hidup menjadi mahasiswa hingga menjadi sarjana). Jika kemudian masing-masing kita menjadi pemimpin, maka kepemimpinan kita pun kepemimpin yang cuma berada di satu bidang saja (menjadi Ulama atau Umara). Jika jadi ulama, kemungkinan moralnya bagus karena dibangun oleh agama. Tetapi kata Imam al-Ghazali ada juga Ulama al-su' (ulama bejat, pseudo-ulama). Mungkin, ada satu dua orang yang sekaligus memiliki dua ilmu dan kecakapan itu (di Iran rata-rata Ulama mengusai fisika, filsafat, politik: Muthahhari, Ja'far Suhani, Ali Syari'ati).

Dahulu, di Indonesia cukup banyak yang seperti itu, misalnya Pak Natsir, Syafruddin Prawiranegara. Tetapi, semakin kompleksnya kehidupan menyebabkan kita, saat ini, menjadi spesialis-spesialis di bidang-bidang yang satu sama lain terkapling-kapling seperti yang Anda katakan itu: Pak Amien ulama politik, Kang Jalal ulama Komunikasi, Pak Habibie ulama pesawat terbang. (Mohon Anda tidak lupa bahwa syarat dasar bagi keulamaan yang mana pun adalah ketakwaan kepada Allah). Di sebelah yang lain, ada "ulama" politik, ekonomi, teknologi, hukum, etc, yang akhlaknya kurang bagus (karena sejak kecil hanya belajar sedikit saja tentang agama). Memang ada satu-dua orang yang memiliki kecakapan di dua bidang atau lebih. Tetapi umumnya tidak demikian. Misalnya, orang pasti mengesani bahwa Pak Ali Yafie itu ulama agama yang hebat, tetapi mungkin kurang paham teknologi. Sebalik, Pak Habibie itu "ulama" pesawat terbang, tetapi tidak banyak tahu tentang tafsir al-Qur'an. Susahanya, sekarang ini banyak ulama (yang saya duga kurang ngerti politik), semakin banyak yang tergiur pada urusan politik (katanya, Pak Dien pengen jadi Presiden, ya?). Jika seorang ulama kurang mengerti politik, lantas terjun ke dunia politik, bisa-bisa mereka masuk penjara lho!

Lantas, apa yang mesti kita lakukan? Tentu saja melahirkan generasi yang memiliki ilmu-ilmu yang terintegrasi. Hebat kan, kalau ada di antara kita yang ngerti Mu'amalah sekaligus ekonomi konvensional? Tetapi, untuk generasi saya dan generasi Anda, hal pengintegrasian seperti itu sangat sulit, kalau tidak boleh disebut mustahil. Karenanya, anak-anak kitalah yang harus menjadi orang-orang seperti Ibn Sina (dokter sekaligus filosof dan sufi).
Salam.

--- On Tue, 3/3/09, ahmad sahidin wrote:
From: ahmad sahidin
Subject: Bls: [ikhwanusshafa] mencari PEMIMPIN BESAR
To: ikhwanusshafa@yahoogroups.com
Date: Tuesday, March 3, 2009, 5:14 AM

Model "Pemimpin yang dibesarkan" inilah yang kini sedang bertandang dan sedang mengantri di bursa pemimpin sekarang ini, dalam wajah capres-cawapres, dan caleg, dll.

Menurut Dr.Sri Bintang Pamungkas, sekarang ini tidak ada calon pemimpin yang bervisi ke masa depan. SEmuanya cuma berorientasi money dan kehendak untuk berkuasa sekaligus menguasai untuk diri dan partainya. Saya kira ini perlu kita sikapi, apalagi April 2009 ini kita memilih: memliih caleg atau golput? Di sinilah kita memilah dan memilih serta menentukan.

Namun, bagaimana sesungguhnya sosok pemimpin dalam Islam? Saya harap ada kawan-kawan/jamaah ikhwanusshafa yang sudi memberikan pencerahan untuk masalah ini. Saya kira Ustadz Afif Muhammad dan Ustadz Jalal (Jalaluddin Rakhmat), atau yang lainnya, sudi memberikan pencerahan di sini. Silahkan...

--- Pada Sen, 2/3/09, iu rusliana menulis:
Dari: iu rusliana
Topik: [ikhwanusshafa] Trs: [pstti_pps_ui] [M_S] PEMIMPIN BESAR
Kepada: ikhwanusshafa@yahoogroups.com
Tanggal: Senin, 2 Maret, 2009, 9:03 PM

INI ada tulisan bagus..mohon dipareasiasi…

PEMIMPIN BESAR
Saya melihat pemimpin atau calon pemimpin saat ini terbagi dua; 1. PEMIMPIN BESAR 2 PEMIMPIN YANG DIBESARKAN;

Pemimpin besar seperti buah kuini yang matang dan jatuh ke bumi karena ditiup angin sepoi-sepoi basah, baunya harum dan wangi yang memikat semua makhluk untuk datang ketempatnya. Rupanya cantik yang membuat orang suka padanya. Rasanya enak, sedap dan lazat yang susah dikalimatkan dengan kata-kata seorang pujangga. Sehingga menjilat jari, yang membuat kita merasa ingin, ingin dan ingin lagi. Pemimpin besar seperti pokok kelapa yang tinggi menjulang. Uratnya untuk obat, batangnya digunakan untuk papan dan jembatan, lidinya digunakan untuk membuat sapu, daunnya untuk membuat ketupat, dahan, sabut dan tempurungnya untuk kayu api, santannya untuk memasak, minyaknya untuk menggoreng.

Pemimpin yang dibesarkan seperti buah kuini muda yang jatuh karena dilempar anak-anak, dipanjat atau dijolok dengan galah yang panjang lalu diperam berhari-hari lamanya. Walaupun masak orang tetap menamakannya masak busuk, tak wangi dan harum, rupanya berkerut dan tidak cantik, rasanya masam yang membuat orang `trauma` dan tobat untuk tidak akan memakannya lagi. Pemimpin yang dibesarkan seperti benalu yang hidup menompang di atas orang lain, menompang nama besar, kehebatan, keagungan, populeritas orang lain dan membawa-bawa nama institusi karena diri sendiri hampa tak berisi.

Pemimpin besar adalah orang yang besar dengan sendirinya. Terbukti memiliki bau yang wangi, rupa yang cantik dan rasa yang enak. Pemimpin yang besar adalah seorang yang cerdas yang dapat dilihat dari tulisan-tulisannya selama ini. Seorang yang merakyat bukan hanya karena mau pemilu saja. Seorang yang terbukti sukses dalam akademik, karier, keluarga, agama, moral, kejujuran, keadilan, penyayang. Pemimpin yang besar adalah orang yang terkenal secara natural dan media akan datang menyiarkan karena kepribadiannya yang unggul dan amal soleh yang sering dia lakukan. Pemimpin yang besar adalah seperti bibit unggul yang apabila jatuh ke bumi akan menjadi benih dan akhirnya tumbuh berkembang menjadi pokok yang rindang dan menaungi. Pemimpin besar berpijak di alam nyata, membuat kreatifitas, menjadi diri sendiri dan teruji.
Pemimpin yang dibesarkan adalah seorang yang melakukan apa saja untuk mencapai tujuannya. Dia dibesarkan oleh iklan-iklan yang dia bayar untuk tv, radio, surat kabar dan berbagai media lainnya. Mereka dibesarkan oleh nama-nama nenek moyang mereka (seperti; aku adalah anak, cucu, cicit wali, raja, pahlawan, sultan eyang prabu marang kepunden marang keteper) Mereka dibesarkan oleh media dengan membuat dan mengatakan perkara-perkara yang aneh dengan tujuan khalif tu`raf (berbeda untuk terkenal). Mereka membayar media dengan jumlah yang sangat mahal agar bisa terkenal. Pemimpin yang dibesarkan adalah mereka-mereka yang mendapat nama besar bukan karena kemampuan diri pribadinya yang unggul, tetapi karena mereka di unggulkan atau mengunggulkan orang lain.

Pemimpin yang dibesarkan seperti buah yang masak dikarbit, dan buah masak busuk yang jatuh waktu muda, jangankan manusia, tupai dan kerapun enggan memakan. Hanya ulat yang datang mendekat, itupun karena menghalang jalan mereka sehari-hari... . Pemimpin yang dibesarkan bagaikan hidup di alam bunian, penuh dengan hayalan, menghitung bintang di langit. Seperti bujang lapuk yang mengharapkan bidadari, seperti labu dan labi yang yang tidak tidur sepanjang hari karena asik bermimpi menjadi tarzan, koboi, orang kaya dan kawin dengan anak dara yang cantik. Pemimpin yang dibesarkan tidak akan mampu berbuat apa dan tidak akan kemana-mana karena pribadi mereka sebenarnya kosong. Mereka hanya mengharapkan kembalinya bapak yang telah mati, mereka hanya menunggu wangsit dari nenek moyang yang sudah menjadi history dan mereka hanya berandai kembalinya zaman purba kala yang sudah tiada. Pemimpin yang dibesarkan seperti benalu yang hidup dan tumbuh diatas kebesaran orang lain, bukan karena diri yang sudah teruji. (sampai ada gambar bersalaman dengan Obama, di bawah naungan gambar sang ayah, membawa nama-nama nenek moyang yang sudah mati untuk tujuan kampanye, hahaha…100x)

Pemimpin adalah masa depan kita, pemimpin yang besar akan membesarkan negara dan bangsanya dan pemimpin yang dibesarkan akan menjadikan kita sebagai tumbal untuk membesarkan mereka. Mereka akan selalu menghisap seperti lintah, membunuh seperti nyamuk, merapuhkan seperti benalu.

Kuala Lumpur, 13/02/09,
Afriadi Sanusi
PhD Cand. Islamic Political Science University Of Malaya

Friday, February 27, 2009

Intelektual

Peran Kaum Intelektual Dalam Perubahan Sosial
Oleh James Petras

Pengantar
Membicarakan atau menulis tentang “kaum intelektual” hari ini, kita harus merujuk pada tataran posisi politik, mulai dari sayap kanan ekstrim (neoliberal-neokonservatif), melewati kanan-tengah (sosial-liberal), lalu menapak pada kiri-tengah (sosial demokrat), hingga sampai pada kiri-revolusioner (Marxis). Di dalam dan di luar kategori politik ini, kita juga memasuki dataran ekologi politik, feminis, gay, ras dan identitas etnik.

Sebagai tambahan, intelektual politik ini berada dalam latar (setting) kelembagaan yang berbeda. Beberapa di antaranya adalah pemimpin-pemimpin dalam NGO (organisasi non-pemerintah), yang lain ditemukan di dunia akademik. Sebagian lainnya berkutat sebagai “intelektual publik,” wartawan, profesor, penasehat-penasehat serikat buruh, pemimpin-pemimpin partai politik, agamawan dan penulis lepas.

Untuk tujuan paper ini, saya ingin memberikan fokus pada kaum intelektual kiri-tengah (center-left/CL) dan intelektual kiri-revolusioner (revolutionary-left/RL). Fokus pada dua kelompok intelektual ini karena keduanya paling mudah diidentifikasikan dengan proses perubahan sosial yang progresif. Kaum CL umumnya bermain dalam latar kelembagaan. Sementara intelektual RL ditemukan terutama sebagai “intelektual publik” dan di universitas-universitas.

Pembedaan antara intelektual CL dan intelektual RL adalah jauh dari tetap seperti pada massa-masa sebelumnya. Faktanya, gambaran utama intelektual kiri adalah “cair/fluidity” atau “bergerak” di antara identitas politik. Pergeseran terbesar adalah pergeseran dari RL menjadi CL dan selanjutnya menjadi kanan-tengah (liberalisme sosial) dan akhirnya menjadi neoliberal. Ada beberapa mantan gerilya di kawasan Amerika Latin, yang pada 1960an dan 1970an adalah seorang revolusioner. Tapi, kini mereka telah menjadi menteri neoliberal, senator dan wakil rakyat. Mereka juga menjadi pembela militerisme, imperialisme, sektor agribisnis dan kontra-pemberontakan. Sebaliknya, sebagian kecil yang dianggap sebagai intelektual kanan-tengah kini bergerak menuju kiri-revolusioner, khususnya setelah dekade 1990an, lebih khusus lagi setelah mereka berumur di atas 50 tahun.

Apapun pergerakan dalam politik dan loyalitas politiknya, kaum intelektual secara relatif memiliki peranan penting dalam politik, khususnya di Amerika latin – di bawah kondisi-kondisi tertentu. Kaum intelektual memang tidak selalu secara langsung membengaruhi politik massa, tidak juga mereka memimpin atau mengorganisir perjuangan massa, kecuali klaim-klaim dan pretensi-pretensi sebagian dari mereka.

Intelektual menjadi penting karena (1) mempengaruhi pemimpin-pemimpin dan militan-militan partai, gerakan sosial dan politisasi klas sosial; (2) melegitimasi dan mempropagandakan secara halus sebuah rejim, kepemimpinan atau gerakan politik; (3) menyediakan diagnosa atas masalah ekonomi, politik negara, kebijakan dan strategi-strategi imperialis: (4) menguraikan solusi-solusi, strategi-strategi politik dan program-program bagi rejim, gerakan dan para pemimpin; dan (5) mengorganisasi dan berpartisipasi dalam pendidikan politik partai atau aktivis gerakan.

Dalam paper ini, saya ingin fokus pada dan secara kritis membandingkan peran intelektual kiri-tengah (CL) dan intelektual kiri revolusioner (RL) dalam menyediakan kepada gerakan dan partai sebuah diagnosa dan solusi-solusi politik.


Metode dan Analisis

Diskusi kita akan fokus pada peran intelektual CL dan RL di Amerika Latin, setelah lebih dari 25 tahun. Kita akan fokus pada dua garis pembatas: (a) peran intelektual reformis dan intelektual revolusioner dengan merujuk pada beberapa peristiwa penting; dan (b) analisis kritis atas konsep-konsep prinsipiil yang diuraikan oleh intelektual CL dan RL.

Terdapat empat peristiwa penting yang akan kita diskusikan: (a) “transisi” dari kekuasaan militer ke politisi-politisi sipil yang terpilih melalui pemilu; (b) kebangkitan dari apa yang disebut “gerakan sosial baru/new social movement” pada dekade 1980an (identitas gerakan) dan dekade 1990an (massa tani, pengangguran dan gerakan Indian); (c) kemunculan rejim-rejim “kiri-tengah” yang terpilih melalui pemilu pada milenium baru; dan (d) ekspansi kapital ke seluruh dunia dan peningkatan secara cepat perang imperial.

Konsep, yang dipopulerkan oleh intelektual CL akan dihadapkan dengan konsep yang digunakan oleh intelektual RL. Ini termasuk diskusi tentang “transisi demokrasi/democratic transition” versus “transisi menuju politik elektoral otoritarian/transition to authoritarian electoral politics”: gerakan sosial baru dengan “basis identitas”/new “identity-based” social movement” versus “gerakan sosial berbasis kelas/class-based social movement”: dan “globalisasi/globalization” versus “imperialisme/imperialism.” Pada bagian terakhir paper ini, saya akan mengevaluasi performa intelektual CL intelektual RL dalam pengertian diagnosis politik mereka, solusi-solusi politik yang ditawarkannya dan konsekuensinya bagi perubahan sosial.

Intelektual Reformis dan Intelektual Revolusioner: Menguji Peristiwa-peristiwa Kunci.

Baiklah kita mulai dari catatan selama periode diskusi (1980-2005), dimana mayoritas terbesar intelektual kiri berada di barisan kaum reformis: kiri-revolusioner pada masa itu dan hingga kini jumlahnya minoritas. Tapi ini bukan dasar dari paper ini untuk menganalisa dan menjabarkan mengapa kasus ini terjadi. Tujuan saya adalah menganalisasi relevansi dan validitas posisi-posisi politik yang diserap oleh kedua kelompok intelektual dimaksud.


Transisi Menuju Demokrasi

Intelektual reformis berpendapat, “transisi menuju demokrasi” ditandai oleh pergeseran kekuasaan dari militer ke politisi sipil hasil pemilu. Mereka berpendapat, legalisasi partai, pers, pemilihan umum dan kebebasan individual merupakan kondisi yang dibutuhkan untuk kepentingan “demokrasi.” Kiri-revolusioner mencatat, keberlanjutan struktur kelas, aparatus ngara (militer, pengadilan, intelijen dan bank sentral), model ekonomi dan pengambilan keputusan oleh lembaga-lembaga keuangan internasional, merupakan penentu utama kebijakan sosio-makroekonomi.

Kaum reformis tidak sulit untuk menerima argumen yang disodorkan oleh kelompok kiri-revolusioner bahwa struktur yang otoritarian tidak berubah dan mendesakkan pembatasan-pembatasan dalam sistem politik. Tetapi mereka menilai, “perubahan pesat” adalah mungkin dan selanjutnya secara bertahap akan terjadi keadilan yang lebih besar. Sebaliknya intelektual revolusioner berpendapat, kerangka kerja politik elektoral berada dalam posisi subordinat dari lembaga-lembaga negara kapitalis dan kelas berkuasa (ruling class) dan secara organik tidak memiliki kapasitas untuk mentransformasikan masyarakat atau bahkan dalam menyebarkan kemakmuran dan meningkatkan standar kehidupan.

Sebuah survey yang lebih detil mengenai 24 tahun politik elektoral di Amerika Latin menunjukkan, asumsi-asumsi kalangan intelektual CL, bahwa politik elektoral merupakan instrumen bagi perubahan sosial terbukti gagal. Selama seperempat abad, seluruh variasi regim politik di seluruh Amerika Latin, gagal dalam meningkatkan standar hidup, redistribusi kemakmuran, mempromosikan pembangunan nasional atau menyelesaikan masalah-masalah mendasar seperti perumahan, distribusi tanah, pekerjaan dan denasionalisasi ekonomi. Sebaliknya, rejim elektoral menjadi semakin tergantung pada negara imperialis dan paket kebijakannya semakin buruk. Kepemilikan tanah semakin lebih terkonsentrasi; perbedaan antara 10 persen teratas dan 50 persen terbawah semakin lebar; sebagian besar perusahaan-perusahaan publik telah diprivatisasi dan didenasionalisasi; dan ratusan miliar dollar dirampas dari buruh dan ditransfer ke bank-bank asing untuk membayar utang luar negeri yang jatuh tempo.

Di semua tempat dan di semua negara, sistem elektoral mengekspresikan karakter kelas yang dominan – mengkonfirmasikan analisis kiri-revolusioner. Seluruh “reformis kiri” yang masuk ke dalam rejim pada akhirnya menghasilkan kebijakan-kebijakan administratif yang buruk dan mendapat tekanan dari rakyat yang menentangnya. Telah jelas bahwa analisa dan solusi-solusi yang diberikan oleh kiri-reformis – transisi demokrasi bermakna politik elektoral akan menyebabkan terjadinya perubahan sosial adalah keliru dan gagal. Sebaliknya, analisis kiri-revolusioner menjelaskan tentang keberlanjutan kekuasaan borjuis dan kapitalis telah membatasi “transisi: adalah benar dan masuk akal.


Gerakan Sosial Baru
Dalam perkembangan selanjutnya, para intelektual kiri yang terlibat dalam proses elektoral tidak memimpin untuk perubahan sosial, tapi membangun apa yang disebut “gerakan sosial baru.” Sekali lagi, muncul perdebatan tentang bagaimana komposisi sosial dan agenda sosial gerakan ini. Kalangan “reformis” – sering juga disebut “post-modernis” – menekankan “identitas sosial” sebagai lawan dari definisi kelas. Selama periode 1970-1980an, intelektual reformis mengklaim bahwa “identitas” baru – sebagai basis gerakan telah menggantikan gerakan yang berbasis-kelas, seperti gerakan yang berbasis ekologi, etnis, feminis dan gerakan gay. Intelektual revolusioner, walaupun tidak menolak kelompok identitas, mencatat bahwa perjuangan massa dari gerakan sosial berbasis kelas-etnik, seperti CONAINE di Ekuador, Cocaleros di Bolivia, Zapatista di Meksiko dan gerakan pedesaan berbasis klas di Brazil seperti MST, merupakan kekuatan pendorong bagi perubahan sosial. Kaum intelektual reformis selalu mencatat keuntungan yang terbatas dari perubahan yang dilakukan oleh segelinter “elite” di dalam kelompok “indentitas.” Sebaliknya, gerakan sosial berbasis kelas sangat berhasil dalam merealisasikan beberapa perubahan mendasar, dalam menjatuhkan rejim neoliberal dan memblok undang-undang dan peraturan pemerintah yang merugikan.

MST di Brazil, yang berbasis pada perjuangan kelas, memaksa pendudukan terhadap jutaan hektar tanah dan memindahkan 350 ribu keluarga (lebih dari 1,3 juta orang) ke sektor pertanian. CONAINE sukses menjatuhkan dua presiden neo-liberal; pekerja pengangguran dan kelas menengah yang dimiskinkan di Argentinga, berhasil memaksa presiden Fernanado De La Rua untuk keluar dari istana; buruh dan gerakan petani di Bolivia juga sukses menjatuhkan presiden Sanchez de Losada dalam mempertahankan industri perminyakan negeri itu.


Politik Elektoral dan Kiri-Tengah
Perdebatan di antara intelektual-intelektual reformis dan revolusioner semakin mendalam, khususnya bersangkut dengan masalah “jalan elektoral atau jalan revolusioner menuju kekuasaan politik dan perubahan sosial.” Sebagian terbesar intelektual reformis dan dan lebih banyak lagi intelektual “revolusioner” mendukung kandidat dari kiri-tengah yang terlibat dalam pemilu, termasuk Toledo di Peru, Gutierrez di Ekuador, Lua Da Silva di Brazil, Vazquez di Uruguay dan Kirchner di Argentina, sebagai intrumen reform sosial. Sebagian kecil minoritas intelelektual revolusioner, menolak para politisi itu. Mereka berpendapat, para politisi tersebut dan partainya memang tidak terlalu jauh dari kiri tetapi, telah bergerak ke kanan dan mengadposi IMF, neoliberalisme dan ALCA.

Para intelektual reformis mempengaruhi para pemimpin gerakan sosial dan massa pendukungnya untuk mendukung politisi-politisi kiri-tengah. Sementara para intelektual kiri-revolusioner sangat sedikit dan tidak memiliki pengaruh ketika pemilu dilangsungkan dan sesudahnya. Hasilnya sekarang telah kita saksikan: Lula, Gutierrez, Toledo dan mereka yang mendaur ulang kekirian, telah berbalik menjadi seorang neoliberal yang memperdalam dan memperluas privatisasi, mempromosikan perluasan agro-bisnis di atas penderitaan petani skala kecil dan buruh tuna-tanah, memindahkan ratusan miliar dollar ke bank-bank internasional, menyetujui undang-undang ketenagakerjaan yang memasung buruh dan hak pensiunnya dan mempromosikan penghisapan Amazon di atas penderitaan masyarakat adat. Konsekuensi dari strategi intelektual reformis yang mendukung “kiri-tengah” adalah hancurnya gerakan sosial. Di Ekuador, serikat buruh minyak di tindas, CONAINE kehilangan dukungan dari anggota-anggota terpercayanya ketika para pemimpinnya berhasil dikooptasi oleh Gutierrez. Di Brazil, MST mengalami disorientasi politik, menderita represi dan terusir dari tanah yang telah didudukinya. Di Uruguay, rejim Vazquez mengikuti petunjuk-petunjuk IMF, mendukung investasi asing oleh pencemar-pencemar besar (perusahaan selulosa) dan memaksakan upah umum yang “terbatas” terhadap serikat buruh. Semua itu bisa dilakukan dengan mengatasnamakan para pemimpin serikat buruh prestisius dan intelektual kiri-reformis yang mendukungnya.

Setelah tahun-tahun penerapan kebijakan brutal neoliberal, banyak dari para intelektual-reformis yang pada dasarnya mendukung partai kiri-tengah berkuasa menjadi kritis terhadap rejim. Mereka lebih aktif mengkritisi kebijakan-kebijakan rejim yang salah (mistaken policies), ketimbang mengikuti kritik sistematik yang dilakukan oleh intelektual revolusioner. Sementara itu, para intelektual kiri-revolusioner, karena validitas diagnosanya, pengaruhnya semakin meningkat di kalangan sektor-sektor yang sebelumnya terilusi oleh intelektual reformis. Penyelesaian masalah (prescriptions) melalui tindakan politik revolusioner bagi perubahan sosial yang diadvokasikan oleh intelektual kiri-revolusioner mulai memperoleh getarannya pada beberapa sektor gerakan massa. Para pemimpin gerakan-gerakan massa itu menerima metode perjuangan revolusioner tapi, tidak dengan sendirinya bertujuan revolusioner.


Globalisasi atau Imperialisme
Arena perdebatan keempat antara intelektual reformis dan intelektual revolusioner adalah menyangkut diagnosa mereka mengenai watak dan motor penggerak kapitalisme global. Kaum reformis berbicara tentang globalisasi dan penciptaan sebuah tata dunia baru yang didominasi oleh korporasi-korporasi multinasional (MNC) yang melintasi batas-batas negara. Mereka mengadakan perlawanan terhadap globalisasi ini dengan cara menggalang pertemuan “raksasa” yang tidak mengandung muatan kelas dalam pertemuan “forum sosial” atau menjadi demonstran setia dalam setiap ajang pertemuan yang dilakukan oleh elite-elite internasional.

Intelektual revolusioner berpendapat, gambaran utama dalam epos kita hari ini adalah bangkitnya kekuatan militer imperialis Amerika yang berhadapan dengan imperialisme Eropa dan Jepang, untuk mengontrol dunia. Kebangkitan militer itu ditandai dengan kebijakan negara imperial yang agresif memelopori perang dan penaklukan kapitalis. Kalangan reformis fokus pada ekspansi ekonomi MNC tanpa mengantisipasi perang imperialis di Yugoslavia, Afghanistan dan Iraq, intervensi CIA dalam kudeta di Venezuela dan ancaman perang bergelombang Amerika di Timur Tengah. Sementara itu, kalangan intelektual revolusioner fokus pada sentralitas negara imperial, perang imperial dan pendudukan kolonial. Bagi kalangan intelektual RL, inilah bukti yang lebih relevan untuk memahami watak dan motor penggerak dunia kontemporer.

Lebih dari itu, analisa kelas dari kalangan intelektual revolusioner lebih berdayaguna sebagai alat untuk memahami watak dari efektivitas perlawanan terhadap imperialisme, ketimbang konsep yang tidak jelas dari “massa.” Gerakan massa pengangguran di Iraq, misalnya, menjadi tulang punggung perlawanan bersenjata terhadap pendudukan kolonial Amerika. Petani, buruh dan pengangguran di Amerika Latin menjadi pemimpin dalam mengalahkan klien-klien imperial dan mencegah privatisasi listrik (Meksiko), air (Bolivia) dan pelabuhan (Uruguai). Sejumlah besar petani-bersenjata melawan imperialisme dan neoliberalisme di Kolumbia, Nepal dan Filipina. Sekali lagi, ideolog-ideolog reformis globalisasi gagal memberikan diagnosis yang memadai dan aksi-aksi politik yang efektif. Forum Sosial dan pertemuan massa terbukti kehilangan efektivitasnya. Sementara itu, intelektual revolusioner yang fokus pada imerialisme dan perlawanan kelas-nasional, sanggup mendapatkan penerimaan yang luas karena korespondensinya dengan realitas.

Pendekatan konseptual-teoritis yang saling bertentangan antara intelektual revolusioner dan intelektual reformis ini memberikan pnegaruh yang besar pada perjuangan untuk perubahan sosial. Kami telah menunjukkan tipikal pendekatan kalangan reformis yang sangat mempengaruhi para pemimpin gerakan massa dan massa ketimbang analisis kiri-revolusioner. Namun demikian seiring berjalannya waktu, kami menemukan bahwa diagnosa, deskripsi, prediksi dan praktek intelektual reformis telah menyebabkan kekacauan ekonomi dan konsekuensi politik yang merusak. Hasilnya adalah penguatan rejim “neoliberal” baru dan aliansinya dengan imperialisme, yang selanjutnya menghasilkan penyebaran dan disorientasi gerakan sosial.

Sebaliknya, diagnosa dan solusi untuk perubahan sosial yang dikemukakan oleh intelektual kiri-revolusioner semakin populer di kalangan pemimpin rakyat dan sedikit demi sedikit berdampak pada massa. Semakin hari, pengaruh mereka semakin meningkat, khususnya ketika analisa itu mereka kemukakan kepada gerakan sosial, gerakan akar rumput dan di kalangan intelektual. Masalah kunci yang dihadapi oleh beberapa intelektual revolusioner adalah mereka terisolasi dari perjuangan massa dan mereka tidak mempunyai akses kepada media untuk menyebarkan gagasan-gagasannya.

Konsekuensinya, perubahan sosial akan tiba jika ada titik hubung antara intelektual revolusioner dan gerakan massa. Di sini dibutuhkan perjuangan untuk mengatasi reform-reform mendesak melalui metode kepemimpinan revolusioner menuju perjuangan untuk kekuasaan negara oleh organisasi kelas yang independen. Hanya rejim revolusionerlah yang mau melakukan perubahan struktural dalam hubungan kepemilikan, struktur kelas dan negara yang permanen dan berkelanjutan.


6 Maret, 2005
Diterjemahkan oleh Coen Husain Pontoh dari judul asli "Role of the Intellectuals in social change," dalam http://www.rebelion.org.

SUMBER: http://coenpontoh.wordpress.com/2005/10/15/peran-kaum-intelektual-dalam-perubahan-sosial/


Thursday, February 26, 2009

Keyakinan

Salam.
Di bawah ini merupakan dokumen diskusi akhir 2007 yang terdapat dalam milis: ikhwanusshafa@yahoogroups.com. Mudah-mudahan bermanfaat dan mencerahkan.
Wassalam.


DISKUSI Tentang Perilaku Penertiban Keyakinan

Oleh Ibn Ghifarie
ibn_ghifarie wrote:

Apa pun alasannya mengumpat, mencaci-maki, menghancurkan tempat ibadah
tertentu, hingga menghilangkan nyawa orang lain, tak termasuk dalam kategori perbuatan baik. Diridhoi oleh Tuhan apalagi, jelas tidak.

Terlebih lagi, hanya karena beda pemahaman dalam menafsirkan sumber umat Islam (al-Quran dan hadis). Rasanya tak pantas bila kita > menyelesaikan persoalan beda pendapat dengan budaya preman. Mengerikan sekali.

Kedengaranya perbuatal lalim itu tak mugkin terjadi, tapi kuatnya arus
modernitas dan lemahnya keimanan acapkali perlakuan tak terpuji itu
menjadi bagian yang tak bisa dipisahkan dalam menuntaskan persoalan
yang dihadapi.

Di tengah-tengah keterpurukan umat Islam dan krirsis kepemimpinan,
masih banyak kelompok tertentu melakukan perbuatak senonoh dalam
menyelesaikan persoalan dengan jalan pintas. Adalah budaya baku hantam
menjadi jurus pamungkas guna menumpas semua golongan yang berbeda.

Sekedar Catatan Kecil dan Terlupakan di Tubuh Islam. > Pertama, Hery dan Ahyari; Islam Sejati Menuai Badai adalah aliran Islam Sejati, di Desa Nyompok, Kecamatan Kopo, Serang
> Banten. Konon, kemunculan pemahaman ini dianggap meresahkan
> masyarakat, hingga menafikan Tuhan. Pasalnya, mereka mengajarkan
> pemahaman di antaranya; Pertama, shalat menghadap 4 arah mata angin,> yakni utara, barat, timur dan selatan.
>
> Salah satu alasannya karena perbuatan ini dikenal sebagai shalat > mencari rezeki. Kedua, shalatnya dilakukan 3 waktu (3 kali) dalam > sehari. Ketiga, Keyakinan bahwa bulan 6 (Juni) 2007 akan terjadi
> kiamat. Tidak diketahui secara pasti tanggal terjadinya. [Tim Derap> hukum SCTV]
>
> Kedua, Agus Yulianto.; Pondok Alif. > Kali ini, peristiwa naas itu terjadi pada kelompok pengajian alif di
> Blok D Vila Siberi Desa Banjarejo, Kecamatan Boja, Kabupaten Kendal,
> Jawa Tengah. Alih-alih menyebarkan risalah yang dapat meresahkan
> masyarakat luas sekaligus menjerumus kepada kegiatan teroris.
> Setahun setelah musala berdiri munculah kelompok Alif di bawah
> pimpinan ustad Agus Yulianto. Mereka menggelar pengajian setiap Ahad.
> Selama itu kegiatan golongan Alif tak pernah menuai masalah.
> Belakangan barulah sebagian warga merasa terganggu dengan kegiatan
> ini. `Kalau shalat tidak pakai doa qunut, Yasinan dan tahlilan
> apalagi` ungkap Darmaji, warga.
>
> Ketidak hadiran qunut dalam sholat atau tradisi Yasinan dan tahlilan> mendorong warga untuk melarang kelompok Alif menjalankan kegiatan di > musala Baitussalam. Memagarai tajug pula menjadi jalan pamungkas> supaya pengikut alif berhenti memanfaatkan Baitussalam. [Suara Medeka,
> 24/06/07]
>
> Ketiga, Wahidiyah. > Seratusan anggota Front Pembela Islam (FPI) mendatangi salah satu
> rumah yang dianggap sebagai pusat pertemuan kelompok Wahidiyah di
> Kampung Keretek, Mangkubumi, Tasikmalaya, Jawa Barat, Selasa (11/9)
> sekitar pukul 15.00 WIB. Kepada warga setempat, FPI menyatakan akan
> membersihkan daerah itu karena Wahidiyah dinilah telah merusak
> kesucian Islam.
>
> Di rumah tersebut, FPI tidak menemukan anggota Wahidiyah. Anggota FPI
> kemudian mencabut spanduk berlambang Wahidiyah dan membakarnya. Aksi
> pembakaran ini didiamkan oleh polisi yang berjaga di rumah itu. Usai
> aksi pembakaran, anggota FPI melempari rumah itu dengan batu serta
> telur busuk. Melihat itu, polisi pun segera menghentikan dan kelompok
> FPI segera membubarkan diri.
>
> Untuk diketahui, Majelis Ulama Indonesia (MUI) Kabupaten Tasikmalaya,
> Jabar, telah mengeluarkan fatwa yang menyatakan Wahidiyah sebagai
> aliran sesat. Salah satu alasannya, karena pimpinan Wahidiyah bisa
> menentukan keimanan seseorang.[liputan6, 12/09/07]
>
> Keempat, Ahmad Mushaddeq; Al Qiyadah Al Islamiyah. > Majelis Ulama Indonesia Pusat menegaskan ajaran Al-Qiyadah yang dianut> oleh sebagian warga Padang, Sumatra Barat, menyimpang dari ajaran
> Islam. Namun demikian, MUI tidak membenarkan tindakan anarkis terhadap para pengikut ajaran itu.
>
> "Aliran ini [Al-Qiyadah] sesat, pada masyarakat saya memberikan > imbauan supaya tidak bertindak sendiri," ucap kata Ketua MUI Pusat > Ma'ruf Amin di Jakarta, Kamis (4/10). Pernyataan Ma'ruf Amin ini hanya> penegasan dari fatwa MUI Sumbar yang dilansir September silam.
>
> Sementara warga menilai Al-Qiyadah menyimpang karena mengajarkan salat > hanya sekali sehari dan Nabi Muhammad bukan rasul terakhir. Warga pun > marah dan mengusir pemimpin serta pengikut ajaran Al-Qiyadah [baca:> Ricuh, Demonstrasi Menuntut Pembubaran Aliran Sesat].
>
> Hingga kini polisi memeriksa pemimpin Al-Qiyadah Dedi Supriyadi dan 12
> pengikutnya. Apabila terbukti bersalah, maka akan dijerat pasal
> tentang penodaan agama dengan ancaman hukuman lima tahun penjara.
> [baca: Pemimpin dan Pengikut Al-Qiyadah Diperiksa Polisi].[ Tim
> Liputan 6 SCTV]
>
> Kelima, Al-Quran Suci. > Aliran Alquran Suci memiliki modus sama dengan NII, yang diduga kuat
> buatan pemerintah. Aliran ini juga merupakan bagian dari rekayasa
> intelijen dan merupakan bagian dari kegiatan pemerintah yang legal,
> untuk mencapai tujuan-tujuan politik mereka.
>
> "Aliran-aliran sesat ini termasuk Alquran Suci merupakan rekayasa
> intelijen, mungkin bisa dikonfirmasi ke pejabat intelijen. Pemerintah
> sengaja membentuk ini untuk memecah nasionalisme Indonesia dan
> mengambil jalur Islam," ujar Dosen Universitas Malikul Saleh,
> Lhoksemauwe, Al Chaidar yang juga mantan pengikut aliran Negara Islam > Indonesia (NII) pada okezone, Sabtu (6/10/07).
>
> Menurutnya, ajaran aliran baru Alquran Suci ini mirip sekali dengan
> NII yang tidak mengakui adanya hadist hingga sunah-sunah rasul. Selain
> itu, kedua aliran itu sama-sama mewajibkan infak sebagai kewajiban utama.
>
> "Bagi mereka salat bukanlah kewajiban, puasa belum saatnya, haji belum
> saatnya yang ada kewajiban syahadat saja," jelasnya lagi.
>
> Bagi Al Chaidar percuma jika sang korban melaporkan hal ini pada pihak
> kepolisian untuk menanganinya. Sebab, lembaga penegak hukum justru
> telah melakukan kongkalikong agar jaringan yang telah tertata apik ini
> tidak terbongkar.
>
> "Percuma lapor polisi tidak akan selesai masalahnya. Para korban cuma
> bisa disadarkan dengan rasionalistis. Mereka harus disadarkan oleh
> orang-orang yang pernah juga ikut dalam aliran itu. Para korban harus
> berani menggertak," katanya.
>
> Ia juga mengatakan kebanyakan dana nonbudgeter pada pemerintah
> diperoleh dari hasil pemasukan infak para korban, yang diwajibkan
> memberikan setoran sebesar Rp.3 juta/orang tiap bulannya.
>
> "Kebanyakan uang itu masuk sebagai dana nonbudgeter yang digunakan
> oleh oknum untuk menjalankan program-program pemerintah itu. Jadi, ini
> memang suatu program yang sengaja dibentuk pemerintah" tandasnya lagi.
> [Tempo, 07/10/07]
>
> Keenam, Mirja Gulam Ahmad; Ahmadiyyah.> Tasikmalaya--Tindakan anarkis menyikapi perbedaan keyakinan kembali > dilakukan. Kali ini rumah ibadah jemaah Ahmadiyah di Kampung Sukajaya,
> Kecamatan Sukaraja, Tasikmalaya, Jawa Barat, yang dirusak massa, Rabu
> (19/12) petang. Akibatnya, kaca jendela dan genteng hancur berantakan.
>
> Menurut warga sekitar, aksi ini dilakukan sekitar 30 orang, namun
> belum diketahui asal mereka. Polisi yang datang langsung mengamankan
> lokasi dengan memasang garis polisi. Hingga malam ini belum ada
> keterangan resmi dari pihak kepolisian tentang penyebab pengrusakan.
> Diduga tindakan ini disebabkan digunakannya kembali tempat tersebut
> setelah disegel sejak tiga bulan lalu. [liputan6,20/12/07]
>
Kuningan- Pondok Pesantren Miftahul Huda di Desa Baros, Kecamatan
> Baros, Kabupaten Serang, Banten, Kamis (13/12), dibakar warga. Warga
> melakukan itu karena menduga pimpinan pondok pesantren telah
> menyebarkan aliran sesat kepada para santrinya.
>
> Menurut warga, ketika terjadi penyerangan dan pembakaran seluruh
> santri dan pimpinan pondok pesantren telah melarikan diri. Mereka
> telah mengetahui akan adanya penyerangan. Saat ini Majelis Ulama
> Indonesia Banten belum mengeluarkan fatwa larangan terhadap Pondok
> Pesantren Miftahul Huda yang dibakar tersebut [Metro, 14/14/07]
>
> Pedoman Penetapan Satu Aliran Sesat Versi MUI
> Maraknya aksi 'penertiban' keyakinan oleh sebagian golongan mayoritas
> terhadap minoritas. Sudah tentu 'mengamini' adagium homo homoni lupus
> . Siapa yang kuat dia pasti berkuasa.
>
> Terlebih lagi, saat para ulama `bermain mafa` dengan para penguasa.
> Niscaya keragaman menjadi sesuatu yang mustahil ada. Apalagi dengan
> adanya pedoman penetapan satu aliran sesat.
>
> Tentunya hasil Rapat Kerja Nasional 2007 Majelis Ulama Indonesia (MUI)
> ini salah satunya menjadi rekomendasi pihak aparat keamanan untuk
> menindak kelompok aliran sesat. > Zainut Tauhid Saadi, Sekretaris MUI Pusat menuturkan pedoman itu di antaranya berisi pengertian aliran sesat. Menurut MUI, pengertian
> aliran sesat adalah kelompok yang menganut dan mengamalkan faham atau
> pemikiran yang bertentangan dengan aqidah dan syariat Islam. Artinya,
> sebuah kelompok dinyatakan aliran sesat jika menyimpang berdasarkan
> dalil Syar`i.

> Selain itu, juga disebutkan 10 kriteria sesat. Satu faham dinyatakan
> sesat apabila memenuhi salah satu dari 10 kriteria ini, di antaranya
> menyakini dan atau mengikuti aqidah yang tidak sesuai dengan dalil
> Syar`i. Selain itu mereka mengingkari salah satu dari Rukun Iman dan
> Rukun Islam.
>
> MUI menegaskan, penetapan pedoman ini pendapat pribadi perorangan,
> namun merujuk pada Al-Quran dan hadist Nabi. Rakernas MUI juga mengeluarkan 14 rekomendasi ekstern. Pedoman ini berisi > seruan kepada pemerintah untuk mengoptimalkan fungsi kontrol dan
> antisipasi terhadap kecenderungan gerakan yang memperkeruh kehidupan
> beragama, seperti aliran Al Qiyadah Al Ilsmiyah dan lainnya.[Merto TV,
> 06/11/0]
>
> Tertutupnya Ruang Dialog dan Saling Menghargai
> Mencermati perseteruan antara kelompok dalam islam itu, membuat kita
> mengerutkan kening. Pasalnya, sulut untuk mengurai benang kusut
tersebut.
>
> Adalah tertutupnya kebiasaan berdialog manakala iningmenyelesaikan
> pesoalan. Perbedaan pendapat pun menjadi jurang pemisah sekaligus
> penyulit konfil.
>
> Kendati mereka tidak meninggal. Namun, kerusakan fisif dan fisikis tak
> terelakn lagi. Lebih parahnya lagi, hamper kemunculan `aliran ganjil'
> setiap para pengikutnya ingin kembali ke ajaran sebelumnya selalu
> mendapatkan bimbingan lebih dari pemuka agama setempat. Termasuk MUI
> menjadi juru selamat atas perbuatan ganjil ini. Hingga memberikan
> pengajaran dua kalimat syahadat lagi kepada mereka supaya bersyahadat
> lagi. Karena mereka telah dianggap menyimpang dan keluar dari Islam.
> Ironis memeng.
>
> Padahal Rasulullah sangat mengecam perbuatan itu, dengan mengeluarkan
> sabdanya, "Mencaci maki orang muslim itu kufur, sedangkan membunuhnya
> juga kafir." (H R Bukhari-Muslim).
>
> Kalau begitu, apalah artinya petuah Rasulullah mengenai perbedaan
> sebagai rahmat. Jelas hal ini belum membuahkan hasil yang memuaskan
> hati kita. Sebab kita masih berkeyakinan bahwa dengan keseragaman
> (monolitik) kita bisa mengentaskan segala permasalahan yang kita
> hadapi dengan dalih mudah dikendalikan dan teratur.
>
> Sejatinya kehadiran pewaris nabi harus menjadi perekat sekaligus
> memperkuat temali silaturahmi antar golongan dalam umat Islam, bukan
> memperburuk kondisi masyarakat.
>
> Hal ini tak lain guna membangun rasa penghargaan satu sama lain dalam
> bertukar fikiran. Dengan munculnya Fatwa MUI itu tak ada jaminan akan
> memperbaiki ukhuwah di antara kedua aliran tersebut. Malahan akan
> menyulitkan persoalan akut itu. Hingga terjadilah budaya saling
> bunuh-membunuh.
>
> Dengan demikian, mari kita sama-sama belajar menghargai perbedaan
> pendapat, baik dalam kelompok maupun di luar golongannya.
>
> Jika perbuatan beradab itu tak menjadi bagian keseharian kita maka
> tunggulah perpecahan di umat Muhammad ini. Dus, kaum iman minoritas
> pun menjadi satu kelompok yang terpingirkan lagi.
>
> inilah potret buram `penertiban keyakinan' oleh kelompok tertentu.
> Segala persoalan apapun selalu diakhiri ngengan pengrusakan tempat
> ibadah, komplek aliran ganjil itu. Semoga dengan adanya pergantian
> tahun ini, berahir pula kekerasan atas nama agama tersebut. `Selamat
> menyambut tahun 2008 sebagai tahun kebebasan beragama'.
>
> Cag Rampes, Pojok Sekre Kere, 21/12/07;15.36 Wib.


--- ahmad sahidin wrote:
>
> Laporan yang bagus...namun ada sisi analisis yang kurang diangkat...
> Mengapa dan kenapa? atau adakah kepetingan politis di balik itu
semua? itu yang belum Anda bahas....?> Adakah yang berani mengguarnya?


ibn_ghifarie wrote:
Memang tak ada niatan lain dalam tulisan itu selain keinginan untuk menunjukan bahwa tak selamanya 'kebenaran' itu hanya di milik oleh satu kelompok tertentu.

Namun, kebajikan akan selalu hadir pula pada 'komunitas ganjil' sekalipun.

Ikhtiar inilah yang tetap membakar semangatku untuk menuliskan sekedar Catatan Akhir Tahun ini. Kendati coretan ini menuali pelbagai kemelut. Tapi aku masih yakin soal keimanan hanya dia dan Tuhanya yang lebih mengetahui daripada orang lain.

Sebelumya saya ucapkan terimaksih atas komentarnya.


Komunitas Ganjil, Benarkah Ada Kebajikan?
ahmad sahidin wrote:

Kiyai Ghifarie, kau ini masih seperti anak mahasiswa saja. Yakin akan kepastian orang lain. Tanya saja dirimu, apakah kau dapat jaminan kelak pasca mati. Atau apakah kau yakin dengan pasti bahwa yang kau perjuangkan itu sebuah kebenaran? TIdak, itu semata-mata hanya pra duga Antum.

Seperti yang telah kuutarakan sebelumnya, bahwa kebenaran itu bukan milik kita dan juga orang lain. Hanyalah sebuah klaim, atau setidaknya ngaku-ngaku saja. Karena di atas aku " bener" ini ada yang Maha Aku, Yang Bener. Jika kau yakin padaNYa, kukira tak semraut pikirannmu itu.

Sebuah keniscayaan yang tak tergugah, bila seorang yang mengaku beragama masih beranggapan ada kyakinan pada yang lain. Sungguh ironi.

Bagiku pluralis itu sebuah pengakuan alias mengakui mereka sebagai yangt bener. Yang kupahami, adalah bagaimana aku bisa hidup damai dan sejahtera bersama yang berbeda dan yang lain. Itu saja prinsipnya.

Jika Kiyai Ghifarie masih tetap memagang itu, kukira sebuah intelectual snobism yang oleh Muthahhari dianggap sebagai bagian dari kegilaan bertuhan. Hal ini dikarenakan is tak punya jiwa yang mandiri, yang kokoh dan tangguh, sehingga ketika berhadapan dengan yang lain, tak cukup kuat untuk mempertahankan nilai atau "keyakinannya".

Ghifarie, Antum harus banyak lagi baca tentang tasykik wujud. Sebab di sana akan mengetahui mana yang terbener, mana yang sekedar percikan, dan yang tak termasuk bagian ilahiyah.

Persoalan kebajikan memang ada pada tiap orang. Imam Ali memang bicara, bahkan pada seorang munafik. Tapi itu hanyalah sebuah nilai, yang kedudukannya sama seperti dari pengalaman yang telah kita lalui. Saat berlalu sebuah peristiwa, kadang ada yang muncul dalam benak kita: sebuah kearifan atas apa yang kita kerjakan atau alami. Inilah hikmah, yang ku sebut sebagai nilai dari peristiwa. Komunitas ganjil, memang ada nilainnya. Tapi dalam kebenaran dan keyakinan yang hakikiyah, aku belum berani bilang ada padanya. Bagiku tetap Islam is way of life go to the God.

AHMAD SAHIDIN
http://ahmadsahidin.wordpress.com

Monday, February 16, 2009

Watt

SEKILAS TENTANG WILLIAM MONTGOMERY WATT
Oleh FIRMAN MAHARDIKA

Dua tahun sudah W. Montgomery Watt meninggalkan kita, Islamolog asal Skotlandia.ada semacam kesedihan yang amat besar bagi kita semua, dunia kesarjanaan barat umumnya dan dunia islam khususnya amat kehilangan pemikir dan sejarawan ternama ini.

Bagi mahasiswa dan sarjana bidang studi ilmu agama agama besar, nama beliau bukanlah nama yang asing.Profesor Watt mewakafkan hidupnya di Edinburgh University, Inggris.Dia masternya ilmu ilmu keagamaan islam khususnya, karena wawasannya yang luas, institusi mempercayainya sebagai Kepala Departemen Bahasa arab Dan studi Islam
Banyak sekali karya karya watt yang sudah diterjemahkan dalam bahasa Indonesia diantaranya; pengantar studi Al Quran, Muhammad Nabi dan Negarawan, Titik temu islam Kristen, Fundamentalis dan Modernitas Dalam Islam, Studi islam Klasik, Dan islam dan Peradaban Dunia. Dan masih banyak lagi karya Watt lainnya yang saya tahu tapi belum sempat saya baca seperti: Muhammad at Mecca, Muhammad at Medina, Islam and Christianity Today, Islam and the Integration of Society, Free Will and Predestination in Early Islam, Islamic Political Thought: The Basic Concepts, dan Islamic Philosophy and Theology.


Jujur saja, karena kurangnya penguasaan saya dalam bahasa inggrislah yang menyebabkan saya tersendat untuk membacanya.Namun tidak mengurangi semangat dan progresifitas saya dalam melahap karya karya Watt

Watt adalah sedikit dari sarjana Barat yang sering disebut Orientalis, tapi ia sendiri tidak menggunakan label itu, saya sendiri tak begitu sepakat dengan gelar itu, mengingat dari sudut harfiah istilah tersebut sudah mengalami pergeseran makna terutama oleh sebagian muslim yang sentimen terhadap mereka. Orientalis dianggap sebagai kelompok yang memandang islam secara negatif, pandangannya tehadap islam merupakan sebuah sikap menjelek jelekkan, menghina dan mencaci maki Islam. Padahal tak semuanya pemikir orientalis berusaha melakukan tindakan act provocating.Montgomery Watt salah satunya.

Watt juga mendalami bahasa Arab dan giat menggali sumber-sumber dasar Islam untuk meramunya menjadi karya yang kaya fakta dan analisis yang mencerahkan. Watt juga sarjara Barat yang simpatik terhadap kehidupan Nabi Muhamad dan optimistis tentang hubungan Islam dan Kristen. Karena itu, Watt menulis bagaimana Islam mempengaruhi peradaban Eropa.
Watt setuju tantangan zaman modern adalah menjalin hubungan harmonis antara Muslim dan Kristen. Salah satu caranya adalah dengan menggali sejarah perjalanan kedua penganut agama ini dari sumber-sumber aslinya. Pengkajian yang lebih ”obyektif” terhadap keduanya sangat penting, karena kebanyakan tokoh dan penganut kedua agama ini lebih mengedepankan apologi teologis semata-mata.

Watt secara khusus telah menulis adanya persepsi dan mispersepsi dalam hubungan Islam dan Kristen. Dia menawarkan pemikiran dan praktek yang berguna bagi dialog Islam-Kristen. Mengenai fundamentalisme Islam, Watt berpendapat itu merupakan fenomena modern. Sejarah Islam awal juga mengenal pertentangan teologis yang diawali oleh pertentangan politik. Bagi Watt, perbedaan teologis Islam zaman awal, yang berdampak sampai sekarang, pada dasarnya bersifat politis, yaitu perselisihan tentang kepemimpinan.

Secara pribadi saya senang menikmati karya karya para orientalis, karena selain mencerahkan, karya karya mereka juga selalu di perketat dengan sumber sumber yang akurasinya sangat jelas dan dapat dipertangungjawabkan secara ilmiah.selain itu karya para orietalis jauh lebih bermutu dibandingkan para sarjana islam sendiri.memang banyak juga mahakarya sejarah nabi yang ditulis para sarjana muslim seperti, Sejarah Hidup Muhammad karya Muhammad Husein Haekal, Atau Al Muassanah Fil Hayat Muhammad Karya Abul Hayyan At Tauhidi. Namun diantara mereka hanya karya orintalis sajalah yang memiliki mutu kualitas tinggi dimata saya
Kita tengok saja “Muhammad sang nabi” karya mantan biarawati asal inggris Karen Armstrong, membaca bukunya membuat saya terasa nikmat, inspiratif dan amat menyegarkan.
pernyataannya tak jauh dari Watt yang amat simpatik terhadap islam terutama nabi Muhammad. Saya amat terpana dan terkagum kagum ketika membaca karyanya, kok bisa sih sejarah nabi muhammad ditulis dengan sangat indah oleh kalangan diluar muslim?.selain Armtrong banyak juga tokoh orientalis lainnya yang tak kalah simpatik dari Watt seperti Martin Lings, Maxime Rodinson, Toshihiku Izutsu. Semuanya mengkaji islam dan menulis biografi Nabi dengan penuh nuansa persahabatan. .bahkan diantara mereka ada yang sampai masuk Agama Islam seperti Abdul Malik Germanus dari Hongaria, Vincent Monteil dari Perancis dan Fritjof Schouf dari Austria, mereka adalah para orientalis kelas kakap di zamannya, tentu saja ini membuat geger dunia orientalisme.

Namun dari semua orientalis tersebut saya tetap memiliki ketertarikan yang lebih terhadap sosok Montgomery Watt. Diantara beberapa pandangan Watt yang begitu memikat saya adalah, dia mengakui secara jelas mengenai pandangannya akan realitas yang dihadirkan tuhan oleh Al Quran adalah benar dan berasal dari tuhan, dan karenanya Muhammad adalah seorang nabi yang benar. Ia juga menolak pendapat yang mengatakan bahwa islam tak lebih dari suatu bentuk penyimpangan dari sistem sitem pemikiran monoteistik yang telah mapan sebelumnya, baik kristen atau yahudi.namun disisi lain Watt juga mengungkapkan bahwa Al Quran merupakan Hotch potch, yaitu pencampurbauran unsur unsur perjanjian lama, perjanjian baru dan Sumber Sumber kitab suci lainnya.Mungkin ini sedikit pandangan dari Watt yang Problematis, cukup beralasan apa yang dialami Watt ini, mengingat pengkajiannya dalam islam berangkat dari keyakinan yang berbeda dengan kita, Dia merupakan seorang Kriten Yang sangat Relijius, sehebat apapun seorang orientalis mempelajari islam tentu ekspektasi emosionalnya tak akan sebaik kita.

Watt adalah seorang pengkaji yang serius dan amat teliti dalam melakukan observasinya, kerja kerasnya selama 40 tahun dalam mengenal islam dibuktikannya dalam sikap keterbukaannya yang sangat luar biasa. Syekh ahmad Zaki, pemikir islam timur tengah mengatakan:”bahwa Watt telah mencapai tingkatan tertinggi dalam hal keterbukaan”.

Kini Watt telah tiada, namun kontribusi dan dedikasinya terhadap umat islam tetap bermanfaat besar bagi perkembangan khazanah keilmuan kita, terlalu bodoh menurut saya bersikap skeptis dan apriori apalagi curiga yang berlebihan terhadap ketulusannya.

Selamat jalan Profesor Watt….
Bandung, 18-12-2008

Friday, January 30, 2009

IJABI

IJABI sebagai Gerakan Sosial-Keagamaan
Oleh A.M. SAFWAN

Mukaddimah
Perjalanan sejarah nusantara hingga republik kita hari ini ditandai dengan berbagai unsur kebudayaan yang berinteraksi dengan paham keagamaan yang masuk. Salah satu yang menonjol dan sering menimbulkan banyak perdebatan adalah tradisi masyarakat di nusantara dalam sejarah Islam awal di nusantara. Sehingga polemik sejarah itu tak kunjung usai antara fakta dan mitos.

Dalam konteks sejarah perkembangan gerakan ahlulbait atau lebih spesifik paham keagamaan syi’ah di nusantara, kita mendengar dan membaca ada kesan yang tidak tuntas. Tidak sedikit yang mendukung analisis bahwa perkembangan Islam di Indonesia pada awalnya adalah dipelopori oleh Islam syi’ah, tetapi terdapat juga pandangan yang melihat adanya hipotesis tersebut oleh karena merunut pada kesamaan tradisi saja tanpa memiliki signifikansi dengan kerangka teologi dan ideologi politik syi’ah. Contoh yang paling sering dikutip adalah tradisi perayaan hari Asyura, peringatan syahidnya Imam Husain as. di Padang Karbala pada tanggal 10 Muharram 61 H, peringatan ini di Aceh dikenal bahwa bulan tersebut sebagai bulan “Asan Usen”, di Sumatera Barat dikenal sebagai “bulan tabuik”, di Jawa sebagai bulan “Suro”.

Untuk pembahasan yang detail lihat artikel Azyumardi Azra, Syi’ah di Indonesia; Antara Mitos dan Realitas, Jurnal Ulumul Qur’an No. 4,Vol.VI, Tahun 1995. Apapun, sejarah kebudayaan Islam di Indonesia memiliki tradisi seperti dalam tradisi ahlulbait dan bahkan isi kebudayaan mereka misalnya tidak lepas kepada pengkhidmatan kepada AhlulBayt Nabi as. Persoalan apakah itu dibentuk dan dikembangkan oleh kaum Syi’ah atau tidak tidak menjadi masalah. Kita tidak mementingkan klaim tetapi nilai sebuah kebudayaan itu sendiri.

Gerakan AhlulBait di Indonesia Kontemporer
Di Indonesia kontemporer, perkembangan gerakan AhlulBait tidak bisa dilepaskan dari pengaruh Revolusi Islam Iran 1979 yang dipimpin oleh Imam Khomeini yang merupakan seorang pencinta AhlulBayt dari kalangan Syi’ah Imamiyah.

Pengaruh revolusi ini begitu kuat terutama dengan publikasi-publikasi tulisan Ali Syari’ati, Murtadha Muthahhari dan Imam Khomeini sendiri ke dalam bahasa Indonesia yang mendapat respon besar dari pembaca Indonesia, terbukti dari ramainya perbincangan mengenai revolusi dan dasar pemikiran Imam Khomeini mulai paruh tahun 1980. Salah satu tokoh intelektual di Indonesia yang kemudian banyak menjadi referensi dalam perbincangan mengenai Iran dan Syi’ah oleh publik kita adalah Dr. Jalaluddin Rakhmat, M.Sc. Dia banyak menulis dan memberi tanggapan mengenai pemikiran Syi’ah dan juga menjadi pembicara dalam berbagai seminar di Indonesia.

Oleh karena itu, peran besar Jalaluddin Rakhmat tidak dapat dilepaskan dalam perkembangan ahlulbait di Indonesia. Penerbitan yang bertema sekitar madzhab ahlulbayt ini juga sangat intens, awalnya oleh penerbit Mizan, terus berkembang dan didukung oleh penerbit lainnya, misalnya, Pustaka Hidayah dan Lentera.

Penerbit Mizan sendiri misalnya menerbitkan buku Dialog Sunnah Syiah yang dicetak hingga beberapa kali . Penerbitan buku-buku bertema ahlulbait (berbahasa Indonesia) hingga kini terus saja berlangsung, tidak kurang dari 373 judul yang telah diterbitkan mengenai AhlulBayt oleh 59 penerbit yang ada di Indonesia hingga Februari 2001 (Sumber : Pusat Data AhlulBait Indonesia Yayasan RausyanFikr) .

Berikut ini tabel penerbitan buku bertema ahlulbait oleh 4 penerbit besar. Penerbit Dengan Jumlah Judul Buku Terbanyak NO. Nama Penerbit Jumlah Judul 1. Pustaka Hidayah 60 2. Mizan 56 3. Lentera 50 4. YAPI Jakarta 31 Sumber : Pusat Data AhlulBait Indonesia Yayasan RausyanFikr Pengiriman pelajar ke Hawzah Ilmiyyah (semacam pondok pesantren) Qum, Iran, juga terlaksana dan hingga kini pengiriman pelajar terus berlangsung demikian hal dengan kembalinya beberapa pelajar yang kemudian mengajarksn pemikiran ahlulbait di Indonesia, mereka berpartisipasi melalui kelompok pengajian dan yayasan yang dibentuk oleh para pencinta ahlulbait karena didorong oleh kepentingan perkembangan jamaah dan kebutuhan untuk melakukan sosialisasi pemikiran ahlulbait secara terorganisasi.

Berikut ini adalah data perkembangan gerakan ahlulbait melalui yayasan dan kelompok pengajian Jenis Kegiatan Jumlah Yayasan 36 Kelompok Pengajian 43 Sumber : Pusat Data AhlulBait Indonesia Yayasan RausyanFikr Penyebaran kelompok pengajian dan yayasan-yayasan ahlulbait di Indonesia dapat dilihat melalui tabel berikut ini : Daerah Jumlah TK I (Propinsi) 21 TKII (Kabupaten/Kota) 33 Sumber : Pusat Data AhlulBait Indonesia Yayasan RausyanFikr Faktor globalisasi dan iklim sosial-politik Indonesia tentunya sangat mendukung perkembangan tersebut. Secara global, lahirnya berbagai madzhab pemikiran sosial di dunia menunjukkan kepentingan untuk mencari solusi akan berbagai permasalahan manusia yang ternyata, katanya, banyak pemikiran yang ada sekarang tidak mampu menjawabnya.

Oleh karena itu, lahir dan berkembangnya berbagai wacana keagamaan menjadi bahan yang menarik bagi banyak kalangan. Dalam konteks Indonesia, kita melihat mulai meningkatnya jumlah masyarakat yang terdidik secara modern tetapi memiliki social origin Islam. Hal ini memungkinkan sekali adanya penggalian wacana keagamaan kita secara kritis dan terbuka serta positif dan historis.

Munculnya IJABI
Pada tanggal 1 Juli 2000 di Gedung Merdeka Bandung dideklarasikanlah berdirinya organisasi massa Ikatan Jamaah Ahlu Bait Indonesia. Ormas ini dipelopori oleh tokoh intelektual Indonesia Dr. Jaluluddin Rakhmat, M.Sc yang kini duduk sebagai ketua Dewan Syuro’.

Kang Jalal (akrab disebut demikian) yang pakar komunikasi ini juga dikenal sebagai cendikiawan muslim Indonesia. Kang Jalal mendirikan bersama beberapa orang diantaranya dua orang doktor dari ITB yaitu Dimitri Mahayana dan Hadi Suwastio Pendirian IJABI tersebut tentunya didasarkan pada perkembangan yang digambarkan di atas. IJABI terdaftar secara resmi di Departemen Dalam Negeri melalui Direktorat Jendral Kesatuan Bangsa dan Perlindungan Masyarakat nomor : 127 Tahun 2000/D.I tanggal 11 Agustus 2000.

Pendirian dan pengembangan IJABI ini memang banyak dipelopori oleh para pencinta ahlulbait dari kalangan Syi’ah (imamiyah) tetapi misi IJABI adalah menghimpun seluruh pencinta ahlulbait dari kalangan manapun untuk melakukan kerja-kerja pemberdayaan mustadha’afin dan pencerahan pemikiran umat, yang tampaknya dengan ormas yang ada sekarang akan sulit efektif karena banyaknya kontaminasi politik yang bias konflik politik..

Tujuan IJABI secara eksplisit dijabarkan dalam AD/ART, salah satu keunikan tujuan itu adalah mengenalkan dan menyebarkan ajaran Islam yang diriwayatkan melalui jalur keluarga Nabi SAWW. Keunikan inilah yang menantang ormas ini untuk membuktikan bagaimana epistemologi dan implikasi aksiologis dari kecintaan kepada AhlulBait Nabi SAWW.

Dengan asas kecintaaan kepada AhlulBait Nabi SAWW, IJABI merumuskan metode pergerakannya dengan pendekatan cinta (tasawwuf, irfan). Pendekatan ini adalah kajian tasawuf -filosofis, jadi pengembangan konsep cinta itu dibentuk oleh dasar-dasar teologis-rasional. Dalam kajian ahlulbait, pengembangan gerakan sosial manusia dibentuk oleh gerakan yang berkembang dalam diri manusia sendiri.

Pengenalan terhadap diri adalah kunci mengenal Allah SWT. Pengenalan kepada Allah SWT tidak dapat hanya melalui wahyu semata (tekstualitas nash) tetapi juga dengan kebenaran akliah. Secara sederhana, pengembangan gerakan sosial harus didukung bukan saja oleh perangkat analisis sosial dan dukungan masyarakat tetapi juga harus didukung oleh manusia yang takzim kepada Allah SWT dan Rasulullah SAWW.

Di sinilah peran Imamah (kepemimpinan) menjadi kajian selanjutnya yang harus dipahami oleh para pencinta ahlulbait dengan dasar-dasar teologis-rasional. Dalam konteks itu, maka sikap terhadap keberagaman adalah terbuka, karena kita percaya keterbukaan adalah syarat untuk menguji sebuah pemikiran. Pengujian ini sesungguhnya inheren dalam kritisisme ahlulbait sebagaimana dalam gambaran penantian (okultisme) kepada Al-Mahdi as. Demikian gambaran singkat mengenai perkembangan gerakan ahlulbait di Indonesia dan serba sedikit tentang analisis pergerakannya. Wallahu’alam bi al-Shawab.


PENULIS adalah Pengurus Wilayah IJABI Yogyakarta

(Makalah ini disampaikan dalam Diskusi Panel bertema “Khazanah Keberagaman Islam, Bagaimana Memahami dan Mensikapinya, Dilaksanakan oleh HMI Teknologi Pertanian UGM, Yogyakarta, 21 Februari 2001)




Friday, January 23, 2009

Menulis

Telisik Lengkap Ghost Writer
Oleh BAMBANG TRIM

APAKAH ada hantu dalam jagat penulisan? Ya benar, hantu itu sering disebut ghost writer--para penulis profesional yang bergentayangan di dunia tulis- menulis. Para ghost writer ini benar-benar paham bahwa menulis bukan lagi pekerjaan, melainkan sebuah bisnis.

Apa itu ghost writer? Saya kutipkan saja defenisi dari wikipedia berikut ini. Anda upayakan sendiri terjemahannya, ya.

(A ghostwriter is a professional writer who is paid to write books, articles, stories, reports, or other content which are officially credited to another person. Celebrities, executives, and political leaders often hire ghostwriters to draft or edit autobiographies, magazine articles, or other written material. In music, ghostwriters are used in classical music, film score composition, and popular music such as top 40, country, and hip-hop. The ghostwriter is sometimes acknowledged by the author or publisher for his or her writing services.)

Penulis bayangan (demikian padanannya menurut saya, bukan penulis hantu) adalah seorang penulis profesional. Artinya, dia memang sudah malang melintang di dunia kepenulisan dan bukan seorang penulis pemula. Ada yang spesialis pada bidang tertentu dan ada pula yang cenderung generalis. Mereka dibayar untuk menuliskan sesuatu dengan langsung menyerahkan hak cipta (termasuk hak ekonomi dan hak moral penulisan) kepada si pemesan. Dengan demikian, urusan eksploitasi naskah tersebut menjadi produk bisnis dan nama pencipta yang dicantumkan sudah menjadi hak si pemesan.

Ghost writer sebatas dibayar dengan tarif tertentu untuk menuliskan naskah dan dia memang pada umumnya tidak disebut-sebut sebagai penulis naskah itu atau namanya tidak tercantum di cover buku. Pada beberapa kasus, namanya disebut dengan ungkapan "with ..." (Dian Putri dengan Bambang Trim) ataupun "as told to ..." (Seperti yang Diungkapkan kepada Bambang Trim). Ada lagi yang namanya disebut dalam halaman ucapan terima kasih (acknowledgement) , ada yang disebut sebagai kontributor ataupun asisten periset.

Pekerjaan yang biasa diberikan kepada seorang ghost writer adalah menulis naskah, sekaligus terkadang juga menyunting naskah. Untuk kerja profesional ini, ia pun harus mampu bekerja layaknya seorang jurnalis dan periset. Beberapa naskah memang membutuhkan aktivitas wawancara dan riset yang intensif. Terkadang seorang ghost writer hanya menerima draft naskah mentah dari seorang penulis dan tugas beratnya adalah mewujudkan draft tersebut menjadi naskah yang sempurna.

Ghost writer tidak sama dengan co-writer ataupun co-author. Co-writer adalah penulis pendamping (profesional juga) yang biasa diajak oleh seseorang untuk menulis buku bersama-sama. Misalnya, Jack Canfield mengajak Mark Victor Hansen untuk menulis buku Chicken Soup. Alasannya, Jack Canfield bukan seorang penulis, melainkan seorang trainer dan penggagas saja. Nama c0-writer sebagai penulis jelas dicantumkan dan biasanya menjadi nama kedua setelah penggagas (author).

Ada beberapa kompetensi penting yang perlu dimiliki seorang ghost writer (menurut saya) :

1) kemampuan berbahasa yang baik dan benar, termasuk menguasai ejaan; 2) keterampilan dan kecepatan menulis di atas rata-rata; 3) kemampuan jurnalistik; 4) kemampuan berkomunikasi dengan semua kalangan; 5) kemampuan dan keterampilan editing; 6) wawasan kepenulisan dan dunia penerbitan; 7) kemampuan menggunakan teknologi tinggi.

Ghost writer dapat bekerja secara mandiri (one man show) ataupun bergabung di dalam lembaga jasa alihdaya penerbitan (publishing service) . Tentu setiap pilihan ada untung dan ruginya. Jikalau memilih bekerja sendiri, paling tidak harus disiapkan peralatan berbasis teknologi tinggi, seperti laptop untuk mobile, mobile modem untuk akses internet, mobile phone (diupayakan smart phone seperti communicator ), tape recorder atau yang lebih canggih digital recorder, kamera digital minimal 8 megapixel, dan tentunya PC di rumah serta buku-buku referensi. Namun, bekerja sendiri tentu lebih mengundang kepuasan, termasuk dalam soal penghasilan. Adapun bekerja bersama lembaga, tentu segala sesuatu seperti peralatan sudah disediakan. Namun, dari sisi penghasilan hanya mendapatkan gaji, plus bonus bagi hasil.


Telisik Tarif
Adakah standar tarif seorang ghost writer? Mari kita lihat dulu basis penentuan tarif penulisan seperti yang berlaku di dunia kepenulisan.

1) Tarif dibayarkan per kata (biasanya untuk tulisan ringan atau sedikit halaman, seperti artikel, feature, dan resensi). Tarif per kata di luar negeri bisa mencapai $4 per kata. Wah, mahal sekali! Di Indonesia, tarif per kata bisa kita sebutkan Rp500 per kata. Jika asumsi dalam satu halaman A4 (1,5 spasi) ada 300 kata, berarti Rp150.000 per halaman. Tarif ini bisa lebih rendah lagi. Adapun tarif untuk editing Rp25 per kata dengan asumsi Rp7.500 per halaman. Untuk seorang profesional, jumlah ini termasuk minim.

2) Tarif dibayarkan per halaman biasanya untuk penulisan buku yang memang tebal dan memerlukan riset. Lembaga jasa alihdaya (outsource) penerbitan di India memberlakukan tarif $12-$18 per halaman atau dengan kurs saat ini (rata-rata Rp12.000) bisa mencapai Rp144.000 per halaman. Hmm... lumayan banget karena menulis 10 halaman saja sudah hampir sama dengan UMK di daerah Bandung, padahal jasa alihdaya di India ini termasuk sangat murah (bisa hemat 50% dari jasa sejenis di Eropa-Amerika) . Untuk Indonesia, tarif per halaman ini bervariasi minimal di Rp25.000 per halaman dengan asumsi Rp250.000 per sepuluh halaman.

3) Tarif kombinasi dalam hal ini seorang ghostwriter mendapatkan advance fee dengan jumlah tertentu dan selanjutnya mendapatkan bagian royalti antara 2%-3% dari total royalti misalnya 10%. 4) Tarif total yaitu tarif yang ditetapkan langsung per proyek atau per buku. Seorang ghost writer di Eropa-Amerika dibayar flat per buku antara $12.000-$28. 000. Di Kanada ditetapkan flat fee minimum untuk ghost writing yaitu $25.000 untuk buku dengan tebal 200-300 halaman. Biaya flat fee minimum ini di luar biaya riset yang dikategorikan extra charge. Di Jerman, seorang ghost writer untuk penulisan kategori confidential ditetapkan dengan bayaran $100 per halaman. Di India, tarif per buku lebih murah lagi antara $3.000-$5.000 untuk buku dengan ketebalan 200 halaman. Koran The New York Times membayar ghost writer untuk buku biografi Hillary Clinton hingga angka $500.000! Di Indonesia, masih banyak penerbit yang menetapkan tarif flat fee untuk naskah dengan ketebalan 80-120 halaman sebesar harga bandrol Rp3 jutaan-Rp5 jutaan. Bahkan, Depdiknas lewat program BSE-nya membandrol harga buku dengan sistem flat fee untuk penguasaan selama 10-15 tahun sebesar Rp40-Rp100 juta. Jumlah ini dikatakan sangat layak membantu kehidupan para penulis, tetapi jika Anda bandingkan tarif di luar negeri sangat kurang layak menurut saya untuk sebuah buku pelajaran yang digunakan oleh jutaan siswa di Indonesia dan ditetapkan sebagai public domain.

Telisik Aturan Kerja
Pengguna jasa ghost writer ini, termasuk di Indonesia. Banyak orang yang ingin mencurahkan pemikiran atau gagasannya ke dalam tulisan, tetapi tidak mampu. Karena itu, orang-orang seperti ini cenderung akan menggunakan jasa ghost writer.

Seorang Yusril Ihza Mahendra populer sebagai seorang ghost writer pidato untuk Presiden Soeharto, Presiden Habibie, Presiden Megawati, bahkan juga Presiden SBY. Dulu kita mengenal almarhum Ramadhan KH sebagai spesialis penulis buku biografi para pejabat. Saya kira pun kini banyak ghost writer yang bergentayangan di Indonesia ini, termasuk saya sendiri.

Ghost writer harus memahami aturan dan kode etik sebagai penulis. Dalam hal ini ghost writer hendaknya mengikat perjanjian tertulis dengan klien ataupun paling tidak mendapat surat perintah kerja (SPK) resmi dari klien. Dalam hal ini patut dipahami perbedaan pekerjaan menulis dan menyunting dan pekerjaan meriset. Anda sebagai ghost writer bisa menetapkan tarif khusus untuk tulisan, sedangkan meriset menjadi extra charge atau ditanggung pembiayaa nnya oleh klien di luar penulisan, seperti akomodasi, transportasi, maupun pembelian buku- buku referensi.

Hal utama yang harus dijaga oleh seorang ghost writer adalah kerahasiaan content buku ataupun kerahasiaan klien apabila diminta. Ghost writer tidak boleh sembarangan mengumbar pekerjaannya kepada publik secara detail. Hal ini biasanya diungkapkan di dalam perjanjian.

Setelah menerima permintaan klien, ghost writer perlu membuat proposal penulisan buku dengan mempertimbangkan waktu yang dibutuhkan, riset yang akan dilakukan, serta penawaran tarif sesuai dengan basis yang diinginkan. Jaminan yang dipertaruhkan adalah jaminan kualitas, content yang akurat, serta ketepatan deadline. Kendala utama ghost writer biasanya kendala waktu untuk mengejar deadline karena terkadang harus menyesuaikan waktu dengan narasumber ataupun klien.

Ghost writer juga harus mempertimbangkan apakah dirinya sanggup menulis di bidang yang memang bukan bidang keahliannya. Sikap profesional perlu ditunjukkan termasuk kejujuran apabila memang tidak mampu.


Jejak Pengalaman Saya
Saya menjadi ghost writer tidak pernah disengaja. Awalnya memang terdorong dari kemampuan menulis yang sudah saya miliki. Di perusahaan tempat saya bekerja, saya dilanggan untuk menulis berbagai macam dokumen, dari mulai surat dinas, proposal, makalah, hingga pidato untuk atasan saya. Semua saya kerjakan dengan senang hati. Lalu, order tulisan pun mengalir ke bentuk lain, seperti puisi ucapan selamat ulang tahun, ucapan selamat lebaran, hingga termasuk surat pengunduran diri dan surat minta naik gaji (he-he-he). Secara tidak langsung, order tulisan ini meskipun saat itu baru dibayar dengan sebatang coklat ataupun ditraktir makan siang, sangat membantu mengasah kemampuan saya menulis berbagai hal--menjadi generalis.

Di Penerbit Rosda, tempat awal saya berkarier, saya mulai membantu merancang berbagai teks iklan buku. Alhasil, saya pun menjadi seorang copy writer. Selain itu, saya mulai banyak menulis artikel, feature, dan resensi untuk beberapa media massa.

Saya lalu membantu kakak saya yang kebetulan pemusik untuk membuat syair lagu. Satu syair lagu saya buat untuk Dimensi Band. Lalu, saya pun membuat beberapa syair untuk jingle iklan dan mars perusahaan. Untuk hal ini, saya baru dibayar ratusan ribu rupiah.

Di MQS, saya menjadi ghost writer untuk sebagian buku-buku karya Aa Gym. Saya mulai menimbang-nimbang menjadi profesional dalam dunia tulis-menulis untuk membantu beberapa orang tokoh.

Saya pernah menjadi ghost writer untuk buku yang ditulis oleh seorang dokter militer tentang manajemen rumah sakit. Buku ini memberi kesan tersendiri bagi saya karena saat buku ini terbit, saat itu pula terakhir sang dokter tersenyum. Operasi jantung beliau gagal sehingga buku tersebut mengiringi kepergiannya.

Kini saya tengah mengerjakan sekitar dua proyek buku pesanan dengan posisi sebagai ghost writer. Ada juga satu proyek editing buku spiritual. Jumlah ini belum termasuk buku pesanan dengan posisi saya sebagai penulis murni.

Berapa tarif saya? Saya menetapkan tarif tertinggi untuk satu halaman (saya mengambil basis halaman) Rp250.000 dan sudah ada yang deal untuk jumlah tersebut. Lalu, ada juga tarif Rp100.000 per halaman dan juga sudah ada yang deal. Tarif terendah yang saya tetapkan untuk buku adalah Rp50.000 per halaman. Rata-rata ketebalan halaman adalah 160 hingga 250 halaman naskah dengan format A4 dan spasi 1,5. Harga demikian di luar extra charge untuk akomodasi serta transportasi yang menjadi beban klien.

Untuk tarif penyuntingan, saya tetapkan minimum adalah Rp10.000 per halaman dalam kategori copyediting. Namun, untuk editing total (termasuk substantive editing) adalah Rp20.000-Rp25. 000 per halaman. He-he-he mengutip iklan: harga sewaktu-waktu dapat berubah tanpa pemberitahuan terlebih dahulu.

Prosedur yang saya berlakukan untuk menangani klien adalah: 1) tahap penjajakan yaitu pertemuan untuk menelisik kebutuhan dan harapan klien terhadap naskah yang akan dibuat atau melihat draft naskah; 2) tahap pengajuan proposal dan negosiasi untuk mencapai kesepakatan, baik tarif maupun deadline; 3) tahap penandatanganan perjanjian dan penerimaan SPK; 4) tahap penulisan dengan memberikan rencana penulisan serta draft outline.

Kadang-kadang ada juga proyek sosial yaitu jasa penulisan yang saya berikan kepada beberapa kolega ataupun sahabat tanpa dibayar ataupun dengan biaya minim. Bisa jadi saya mengerjakan juga beberapa buku anak dengan bayarang bandrol Rp3 jutaan ataupun makalah dengan bayaran ditraktir makan. Untuk soal ini, bagi saya silaturahmi lebih penting daripada tarif secara profesional. Nah, saya kira pun ada ghost writer lain yang lebih berpengalaman dengan tarif lebih besar dari yang saya tetapkan. Albertine Endah, misalnya, saya kira tarif beliau lebih tinggi karena spesialis menangani buku- buku para selebritas, seperti Krisdayanti dan almarhum Chrisye.

Menjelang Pemilu 2009 nanti, peran ghost writer tampaknya akan semakin signifikan dan mungkin laris manis. Saya kira para calon presiden ataupun calon wakil presiden tidak akan ragu-ragu merogoh kocek hingga ratusan juta rupiah untuk sebuah buku bermutu ataupun artikel berbobot di media massa. Tidak pelak sebuah tulisan membuat posisi intelektual mereka akan naik di mata publik.

Anda berminat menjadi ghost writer? Mengapa tidak? Writing is not a job; it's a business.


BAMBANG TRIM,
Ketua Forum Editor Indonesia