Sekedar LPIK

My photo
Lembaga Pengkajian Ilmu Keislaman (LPIK) Bandung

Tuesday, March 30, 2010

Bikkhu

Pelajaran dari Bikkhu
Oleh AMIN R ISKANDAR

Diceritakan di negeri Buddha. Ada seorang Bikkhu dan puluhan murid di bawah asuhannya, hidup di Vihara yang jauh dari keramaian masyarakat. Suatu hari, sang Bikkhu mengajari muridnya tentang Darma, yang bukan Darma L. Wirayuda. Dalam ajarannya, Bikkhu mengatakan:

“Wahai murid-muridku, hidup di dunia ini hanya sekali, maka buatlah menjadi berarti dengan amal bakti yang mulia. Tanggalkan segala urusan duniawi, jauhi perbuatan judi, hindari godaan wanita, jangan tergoda dengan gelimang harta, untuk apa juga tahta. Semua hanya kebahagiaan semu yang fana, tak abadi dan hanya menghalangi jalan mulus menuju alam Dewa. Itu lah inti Darma yang bukan Darma L. Wirayuda, sejatinya kita mesti menjunjung tinggi.”

Anak

Anak-anak yang Betah Main di Internet
Oleh BADRU TAMAM MIFKA

Dewasa ini anak SD kelas 4 pun bisa dengan mudah mengakses internet. Ck ck ck, anak zaman sekarang…
Ya, tadi siang, saya didatangi si Alif yang merengek ingin main internet, katanya mau cari-cari gambar Naruto. Dia masih sekolah SD. Wah, sudah pandai browsing sendiri, tanpa bantuanku.

Di satu sisi saya senang, anak sekecil itu sudah mengenal dan akrab kecanggihan tekhnologi, sehingga mereka juga bisa mendapat hiburan atau lebih mudah mencari bahan-bahan untuk memperlancar proses belajarnya; tapi di sisi lain, saya khawatir, ia bisa saja tak sengaja membuka dan menemukan situs atau gambar-gambar yang tak boleh di lihat anak-anak.

Neraka


Apa Itu Neraka
Oleh YOGI SUPRIADI

Apa yang dimaksud dengan neraka?
Hidup di dunia memang nikmat...ya sekali lagi aku bilang nikmaaattttt.......Jelas..!!!
Namun tidak bagi sebagian orang ada yang menyebut ”hidup adalah kutukan”,hidup adalah keterasingan,dan banyak pula yang berbicara tentang hidup,hingga menghardik hidupnya sendiri.

Orang terkadang banyak yang menganggap jika hidup ini adalah kutukan karena mereka mengalami kegagalan dalam realitas kehidupan,dan banyak pula yang mengagap jika hidup ini adalah anugrah karena mereka ber asumsi jika kita ke dunia tidak lain dan tidak bukan adalah masalah,jadi masalah itu adalah sebagian dari hidup.
Janganlah kalian sekali –kali mengagap jika hidup adalah masalah.....
Sudahlah ...berhenti kita omongin masalah hidup,karena hidup tidak lain dan tidak bukan adalah bernafas,karena kalo tidak bernafas saya tidak bisa menjamin......

Dalam hal ini kita akan membicarakan tentang apa itu neraka?..lihat hadist di bawah ini!
“Tempat kembali mereka ialah neraka; dan itulah seburuk-buruk tempat tinggal orang-orang yang zalim”.(QS.Ali Imraan (3):151).
Rasulullah bersabda : ” Seringan-ringan siksaan penghuni neraka adalah : Apabila seseorang yang memakai terompah dari bara api sehingga menyebabkan otaknya mendidih.( HR Bukhari – Muslim).

Neraka menurut sebagian orang adalah sesuatu yang menyeramkan,menyakitkan,dan membuat banyak orang yang beragama takut hingga mereka berani memeluk agama.
dalam beberapa agama neraka di gambarkan sebagai berikut:
Agama Kristen — Neraka dalam versi ajaran agama Kristen adalah di mana tubuh pendosa akan dibakar selama-lamanya dalam api abadi yang takkan pernah padam.

Agama Islam — Ditulis, manusia kelak harus melewati sebuah jembatan kecil bila ingin menuju surga. Kalau tidak berhasil, dia akan terjatuh dan masuk ke api neraka Jahannam.

“Hai orang-orang yang beriman, peliharalah dirimu dan keluargamu dari api neraka yang bahan bakarnya adalah manusia dan batu; penjaganya malaikat-malaikat yang kasar, yang keras, yang tidak mendurhakai Allah terhadap apa yang diperintahkan-Nya kepada mereka dan selalu mengerjakan apa yang diperintahkan.” — At-Tahrim [66]:6
Agama Hindu — Pada akhirnya setiap manusia akan mengalami reinkarnasi; dia akan kembali hidup di bumi tetapi dalam wujuh tubuh manusia lain atau hewan. Sebelum
reinkarnasi, manusia harus lebih dulu melewati hukuman neraka dari 21 macam jenisnya.(silahkan telusuri atau cari sendiri di buku,karena saya sangat kecapean dan keterbatasan catatan dari face booknya dalam menampung tulisan)
Agama Buddha — Mempunyai 15 jenis neraka, dan tujuh diantaranya adalah neraka api
Agama Taoisme — Percaya bahwa neraka sebenarnya ada di dalam kuil itu sendiri, tapi di sana ada iblis-iblis yang siap menerkam para manusia pendosa dengan senjata tajam.
Agama Judaisme — Yahudi Ortodox percaya di neraka kelak tubuh manusia pendosa akan direbus atau dikuliti.

Itulah dia selintas tentang gambaran dari setiap agama dalam menafsirkan neraka.
ya…tergantung pada kita sendiri,apakah kita yakin akan hal itu atau tidak?
Jika memang benar adanya agama dalam hal ini bertanggung jawab atas kenistaan manusia namun berbedahalnya dengan Tuhan yang mereka panut,seolah –olah tuhan itu maha tega dan maha penyiksa.
Tuhan maha penyiksa bagi mereka yang menistakan tuhan,dan tuhan maha penyayang bagi mereka yang menjalani dan percaya tuhan.
Berarti tuhan itu pilih kasih,bagai mana jika manusia itu ketika di lahirkan di tempat yang memang tidak mengenal tuhan apakah mereka juga akan terkena siksa?
Ya…mungkin anda juga punya jawaban masing –masing tentang hal itu.
Neraka selalu di pandang sebagai hal yang menyakitkan,terlalu jauh jika kita melihat neraka yang belum pernah kita lalui.
Neraka disini adalah jika dalam kehidupan ada sesuatu yang menyakitkan apakah itu bisa di sebut neraka?
Neraka kata ini menjadikan setiap agama banyak yang menganut,hingga mereka berani berkorban,tidak hanya materi,bahkan nyawa pun mereka sanggup untuk mengorbankan untuk menjauhi apa yang disebut dengan neraka.
Ini adalah suatu cerita dimana neraka tidak lagi di pandang sebagai hal yang menakutkan namun justru dipandang sebagi hal yang mengasyikan untuk kita ketahui.
Berawal dari nikmatnya dunia saya mencoba mengambarkan yang disebut dengan neraka itu seperti apa?dan teryata neraka yang dimasksud oleh sebagian khalayak umum jika neraka itu ketika kita jatuh sakit itulah neraka kita namun itu tidak selalu diartikan sebagai neraka di atas.
Banyak orang ketika mengalami atau mendatangi orang sakit lalu si orang itu hingga meninggal,dia ber’doa “semoga sakitnya jadi penebus segala dosanya”.


mungkin jurnal ini kan berlanjut,maka saya harap teman teman atau semua kerabat bisa memberi masukan kepada saya hingga menjadi bahan referen saya dalam menerbitkan edisi selanjutnya,dengan segala keterbatasan saya mohon maaf apabila ada salah kata dan salah penulisan.

Filsafat

"Injak Aku dengan FILSAFAT....!!"
Oleh TIAN AF

Al kisah..

Bertutur tentang dahaga seorang manusia yang sama sekali binasa. Binasa karena tersumpal dogma, terlambat akal bekerja, buta berfikir atas realita.

--------

Bedug shubuh mengetuk tulang sanggurdinya dan berkata.. ; “sadarlah!”. Manusia ini diperkenalkan sebagai “dia” yang turun dari singgasana mimpinya. Terasa ada yang lain. Sedikit berbeda. Terlalu beda. Berat.. lagi dingin merajam iga. Mungkin, tangisan awan tadi malam menuliskan angin di nadinya.
Sepi kamar menemani ia terjaga. Di sampingnya tampak semangkuk bubur tanpa kacang dan satu strip permen pait. Keduanya seolah berdendang menikmati merdunya Doel soembang nuansa pedasaan dari hometeatre tetangganya.

Jibril


Pembangkangan Jibril
Oleh TEDI TAUFIQ RAHMAN

Previously…

Di Arsy, Godot yang kesibukan penciptaannya telah disudahi sering menghabiskan waktunya dengan duduk-duduk sembari menyaksikan hasil kreasinya. Melamun. Terkadang menerawang ke bumi. Melihat apa yang dilakukan anak cucuk adam.

“tuanku…” Jibril memecah kesunyian.
“ada apa,”
“beberapa saat ke belakang hamba ziarah ke bumi, maaf kan atas kelancangan hamba tidak memberi tuanku terlebih dahulu, tapi …” Jibril menahan bicaranya.
Godot mengetahui bukan itu inti dari percakapannya kemudian berkata “…teruskan jibril, apa sebenarnya yang hendak kau katakan?”
“hamba bertemu dengan iblis… “
“ah… bagaimana keadaannya,”
“entahlah… tetapi hamba melihat perbedaan dalam matanya”
“apa maksudmu?”
“saat hamba bertemu dengannya, dia seolah mengendap penyesalan sungguh dan kesendirian yang penuh… dia, ” Jibril tak melanjutkan bicaranya. Seolah-olah ada keraguan pada kesimpulannya.
Godot menatap mata Jibril dengan tajam.
“dia menitikkan air mata.., baginda” mendengar perkataan Jibril ini Godot terdiam.

. . . .

Beberapa saat kemudian Dia bersabda ;
“perintahkan Izrail meniup terompetnya.”


Satu

Sesaat setelah mendengar intruksi Sang Maha, Jibril sesungguhnya sudah tak berkuasa, lemas lunglai tak berdaya. Karena mau tak mau, ia dan segenap semesta mesti menerima putusan Godot itu apa adanya tanpa cela. Bagi Godot, Jeda dari perintahnya berarti marabahaya. Tanya dari perintahnya berarti malapetaka! Ingatlah itu.

Jibril pun memaksa diri ngeloyor berjalan tersendat meninggalkan ruangan Godot, meski kakinya terasa berat sangat, sekali untuk melangkah pergi. Karena apa? Karena ada sesuatu yang mengusik batinnya. Apa itu? Sebuah spekulasi.

Maka tak ayal. Suasana di Kerajaan Awan pun mendadak sibuk. Bahkan kesibukan mereka melebihi ketika menciptakan makhluk baru yakni Adam. Hampir semua makhluk di Kerajaan Awan ini mendadak heri(baca; heboh sendiri, saya sebagai pengarang sengaja menyisipkan diksi ini. Alasannya sederhana, karena tiba-tiba ngelebat di kepala saya seorang teman bernama Heri. Hmmm, banyak juga teman saya yang bernama Heri; ada yang jangkung tapi hitam, Heri yang itu teman semasa SMP dulu. Tapi ada juga yang pendek tapi putih sekaligus penjilat hehe. Nah kalau yang putih itu teman kerja saya. Lantas Heri mana yang ngelebat ketika saya menceritakan kisah Pembangkangan Jibril ini? Bukan yang putih, bukan yang pendek juga tapi Heri tetangga saya yang pernah kehilangan jam tangannya ketika membeli martabak. Kok bisa? Iya, aneh juga ceritanya… Nanti saya ceritakan di lain kesempatan, untuk sekarang mari saya lanjutkan cerita ini dulu).


Dua

Yang paling lucu adalah Izrail—ketika dia mendengar intruksi ini dari Jibril yang bertugas sebagai Juru Bicara Kerajaan Awan—dia mendadak stress berat. Izrail terserang penyakit Shocki’nReuwas. Izrail mengira, dia akan di beritahu dulu sebelum-sebelumnya. Dalam jangka masa yang tidak singkat dan tiba-tiba, sehingga dia bisa mempersiapkan diri; melatih tiupannya. Ini adalah tugas baru yang, Izrail sendiri mengendus adanya kekeliruan.

“ini kesalahan besar” gumam Izrail pada suatu malam. Tapi Izrail tidak berani berkomentar.

Semua penduduk Kerajaan Awan kisruh, tidak pararuguh.

Di ruangannya Izrail blingsatan, berjalan kesana kemari tak keruan. Izrail bahkan tak bisa memicingkan matanya barang sedetik pun. Seperti seorang anak SD yang baru menghadapi THB. Setiap malam dia menghafal manual book Sang Sakala yang di pinjamnya dari Perpustakaan Umum Kerajaan Awan, lebarnya buku itu hampir menyamai samudera yang ada di dunia.

“sungguh, aku tidak bisa menguasai rumus-rumus terompet ini dalam sekejap mata” gerutu Izrail. Setelah beberapa masa Izrail menguat-nguatkan mental untuk mempelajari meniup terompet, akhirnya Izrail menyerah. Dia menghadap Jibril untuk mengadu dan mendapatkan solusi.

Izrail melesat terbang ke tempat Jibril.


Tiga

Di ruangan, Jibril terlihat termenung. Seperti halnya Izrail yang mengalami sHocki’nMetaFisica, Jibril juga sebenarnya mengalami hal yang sama. Hanya saja sHocki’nMetaFisica tiap makhluk berbeda-beda. Jibril kelihatan kalem, sekalipun batinnya gamang dan hancewang, menyikapi keputusan Godot yang mendadak itu.

“nampaknya ada yang salah Sobat pada perintah Paduka Godot itu” adu Izrail

“salahnya?” jawab Jibril tenang,

“ya, seharusnya Israfil bukan si guwe yang mestinya meniup terompet? Coba kakanda cek dulu buku besar Kepesonaliaan karyawan Kerajaan Awan, jabatan saya adalah Pencabut Nyawa, julukanku adalah Sang Maut bukan Peniup Terompet.”

“Mohon kakanda lihat dulu, bukan maksud adinda untuk mengelak dari perintah Paduka Godot, tapi kakanda sendiri yang bilang the right man in the right place, Apabila urusan itu diserahkan kepada orang yang bukan ahlinya, maka tunggulah saat-saat kehancurannya”

“subhanallah, adinda… ” jawab Jibril bijak sekaligus bangga.

“baiklah, kakanda cek dulu…” Jibril masuk ke ruangan kerjanya. Tak begitu lama Jibril datang, sembari membawa buku yang dua kali lipat lebih besar dari manual book Sang Sakala.

“nampaknya yang adinda bicarakan itu benar adanya, biar nanti kakanda mencari masa yang tepat untuk membicarakannya sama Paduka Godot“

“tetapi… “jawab Izrail tidak sabar “kesalahan ini mesti segera di koreksi Mang. Hari itu kian mendekat sedang hanya segelintir saja yang tahu ”

“lha, apakah adinda Israfil sudah tahu perkara ini?” tandas Jibril

“o iya” jawab Izrail sembari menepuk dahinya, “seharusnya saya bicarakan dulu dengan Israfil, karena dialah yang in charge dalam perkara ini“

“begini saja…” simpul Jibril “adinda pergi dulu ke kediaman Israfil bicarakan sagala rupana, biar urusan dengan Paduka Godot, Mamang yang selesaikan. Serahkan saja ka Emang!”

“baiklah mang, Ayi pamit dulu”

Izrail pun melesat pergi ke kediaman israfil.

Cinta


Agama yang Cinta Lingkungan
Oleh PEDI AHMAD HAMBALI

Sering kita lihat dalam berita bahwa sudah banyak terjadi bencana alam. Bencana ini hampir sebagian besar diakibatkan oleh perbuatan manusia, karena manusia mengeksploitasi alam secara besar-besaran tanpa mempedulikan lingkungan sekitarnya.

Selain itu sebagian manusia juga hanya melihat alam sebagai objek atau benda yang diteliti saja sehingga mengakibatkan alam hanya jadi benda mati dan berada di luar manusia.

Pandangan modern seperti di atas sampai saat ini masih tetap ada dalam kehidupan kita, yaitu terjadi dikotomi antara manusia dengan alam. Dimana manusia menjadi subjek dan alam menjadi objek. Pandangan ini masih sangat tertanam dalam sebagian besar manusia saat ini karena doktrin yang diberikan di sekolah seperti yang disebutkan diatas masih terus diajarkan sejak sekolah dasar (SD) bahkan sampai perguruan tinggi. Dari pandangan tersebut lahirlah sains dan teknologi yang tidak menpedulikan alam sekitar. Bahkan lebih parah lagi dari perkembangan sains dan teknologi dapat kita lihat dalam sejarah bahwa ribuan orang meninggal ketika Hirosima dan Nagasaki di bom atom oleh tentara sekutu.

Bukan maksud membenci sains dan teknologi, tapi dalam hal ini bagaimana kita menanamkan paradigma bahwa dalam tradisi seperti itu akan menghasilkan dampak yang tidak baik karena manusia hanya melihat alam sebagai sesuatu yang ada di luar dirinya (dalam pemikiran). Oleh sebab itu harus ditanamkan paradigma bahwa alam adalah bagian dari manusia itu sendiri, dimana manusia harus mencintai alam karena kehidupan manusia tidak terlepas dari alam sekitarnya. Sains dan teknologi sangat diperlukan, tapi dalam hal ini sains dan teknologi digunakan untuk kepentingan manusia tanpa harus merusak alam. Seperti diungkapkan oleh Muhammad Iqbal seorang filosof muslim yang ketika itu menyadari bahwa dampak negative perkembangan ilmu dan teknologi, beliau menulis “kemanusiaan saat ini membutuhkan tiga hal, yaitu penafsiran spiritual atas alam raya, emansipasi spiritual atas individu, dan satu himpunan asas yang dianut secara universal yang akan menjelaskan evolusi masyarakat manusia atas dasar spiritual”. Apa yang diungkapkan itu adalah sebagian dari ajaran al-Qur’an menyangkut kehidupan manusia di alam raya ini (Quraish Shihab, 1995).

Banyak terjadi bencana sekarang ini seperti banjir longsor dan yang paling hangat di bicarakan seperti pemanasan global pada dasarnya adalah ekses dari perbuatan manusia. Kalau kita lihat ini semua karena manusia memperlakukan alam semaunya dia, seperti menebang pohon dan menggunduli hutan, ini otomatis akan menyebabkan terjadinya bencana karena hutan dan pohon adalah sumber pengubah karbondioksida (CO2) dan penghasil oksigen (O2). Ketika hutan dan pohon berkurang maka kadar CO2 akan meningkat dan akan menyebabkan rusaknya lapisan ozon, setelah itu akan menyebabkan pemanasan global.

Al-Quran sejak 14 abad yang lalu sudah memperingatkan kita akan semua itu, yaitu dengan turunnya surat ar-Rum ayat 41yang artinya “telah banyak kerusakan di darat dan di laut diakibatkan oleh tangan manusia”, dari ayat tersebut sudah jelas terlihat bahwa kita harus hati-hati dalam bertindak karena akan merusak alam. Dalam ajaran Islam juga ada suatu doktrin yang ditanamkan yaitu kita harus baik terhadap alam ini, karena alam adalah sebuah bukti dari adanya Tuhan. Dan alam tersebut merupakan titipan Tuhan yang harus dirawat, dijaga dan dimanfaatkan manusia sebaik mungkin karena manusia adalah khalifah di muka bumi ini. Dengan merawat, menjaga dan memanfaatkan alam dengan baik secara tidak langsug kita sudah beribadah kepada Allah.

Dari pemahaman agama diatas kita secara tidak langsung diperingatkan bahwa manusia harus baik terhadap alam ini, karena jika tidak alam yang merupakan bukti dari adanya Tuhan akan memberikan sesuatu yang tidak manusia harapkan, seperti banjir, tsunami, longsor dll. Bahkan dengan penemuan-penemuan seperti Masharu Emoto dengan mengatakan bahwa air itu hidup dan dapat merespon apa yang kita sampaikan, itu secara tidak langsung menuntut kita untuk baik terhadap alam ini karena sebagian besar planet yang kita huni ini bahan dasarnya adalah air. Selain itu pula sekarang sudah mulai di dengungkan teori butterfly effect yang menyatakan bahwa suatu tindakan kecil di bumi ini akan mempengaruhi alam begitu besar.

Berangkat dari pemahaman agama dan penemuan diatas, sudah selayaknya kita bersahabat dengan alam ini dan mampu mengambil hikmah dari semua bencana yang melanda negri ini.

Tuesday, May 12, 2009

Ustadz

Ustadz, Tak Lagi Sakral

PADA suatu hari teman saya yang kuliah di jurusan Pendidikan Bahasa Arab UIN Sunan Gunung Djati Bandung, bercerita tentang pertemuannya dengan seorang dosen dari Mekkah, Arab. Dosen yang sedang berkunjung ke Bandung itu bilang sangat kagum dengan Bandung, karena banyak professor.

Teman saya bilang, professor di Bandung jumlahnya sedikit. Dia menyanggahnya, “Tidak. Saya lihat di masjid-masjid tertera ustadz-ustadz yang mengisi khutbah Jumat dan ceramah mingguan. Luar biasa, mungkin lebih dari seribu kalau dijumlahkan. Tapi aneh, kenapa masih ada yang belum mengerti tentang Islam dan orang-orang yang di mobil dan motor tak berhenti saat adzan berkumandang. Kenapa ya?”

Mendengar penjelasan itu, teman saya tersenyum. Teman saya lalu menjelaskan bahwa istilah ustadz di negeri ini berbeda dengan ‘ustadz’ di negeri Arab. Di Indonesia, ustadz dinisbatkan pada mereka yang sering menggunakan kopiah, sarung, pakai baju koko, memiliki ilmu agama—meskipun hanya menyampaikan yang dikatakan gurunya—dan dilekatkan pada mereka yang sering nongkrong di masjid. Padahal, bisa jadi yang di masjid itu petugas kebersihan masjid atau yang numpang tidur. Tapi, biasanya dipanggil ustadz. Jadi, bukan orang yang memiliki ilmu agama (wawasan Islam) yang luas dan mendalam atau spesialisasi dalam dirasah islamiyah. Gelar ustadz di Indonesia, kata teman saya, tidak bernuansa sakral seperti di negeri Arab maupun Timur Tengah; hanya istilah penghormatan saja. Setelah dijelaskan, barulah orang Arab itu tersenyum dan manggut-manggut.

Mendengar cerita itu saya tertawa. Saya tertawa karena istilah itu sempat dilekatkan pada saya. Begini ceritanya: suatu saat saya shalat berjamaah di masjid dekat rumah. Orang yang shalat berdampingan dengan saya gerakannya mendahului imam. Itu dilakukan hampir tiap shalat berjamaah.

Anehnya, bapak itu kalau berjamaah pasti berdampingan dengan saya. Karena setiap shalat begitu, suatu saat setelah shalat ashar saya tegur. Saya beri tahu kepada bapak itu bahwa seorang makmum itu harus mengikuti imam; kalau mendahului batal shalatnya. Bapak itu manggut-manggut sambil mengucapkan terima kasih: “Haturnuhun ustadz. Abdi janten terang (Terima kasih ustadz, saya jadi tahu).”

Sejak itulah si Bapak itu tiap bertemu memanggil saya dengan panggilan ustadz. Saya jadi merenung: kenapa si bapak itu memanggil saya ustadz. Bukankah dia sudah tahu nama saya? Lalu, suatu waktu saat menunggu adzan maghrib di masjid, saya jelaskan bahwa gelar “ustadz” itu sangat berkaitan dengan sosok yang memiliki ilmu agama, pemahaman agama yang mendalam, berwawasan luas, hafal Al-Quran dan hadits, dan berperilaku saleh. Sedangkan saya jauh dari itu: saya masih bangun kesiangan dan shalat shubuh jam 05.45, selalu mengakhir-akhirkan waktu shalat, dan perilaku pun belum mulia.

“Ooo… punten atuh cep ustadz,” kata bapak itu. Euh…itu lagi muncul, gumam saya. Meski sudah saya beri tahu, tetap saja tiap bertemu menyapanya begitu. Mendengar sapaan itu saya agak kesal: kenapa sih bapak itu tidak mengerti juga. Setelah saya pikir-pikir, itu mungkin sebuah canda plus doa biar saya ngaji dan terus menggali ilmu agama. Maklum, saya ini bodoh dalam masalah agama dan masih butuh bimbingan. Adakah “ustadz” yang mau ngebimbing saya?

Ahsa,
pekerja buku



Friday, May 1, 2009

Kebudayaan Islam

Islam, Kebudayaan, dan Sejarah

> --- In SuaraHati@yahoogrou ps.com, Ahsa wrote:
>
> Kalau saya malah berpendapat bahwa kebudayaan itu merupakan ekspresi identitas. Tanpa kebudayaan, Islam akan kering dan akan dianggap sama dengan agama lainnya, yang melulu berada dalam ranah teologis atau doktrin. Jika dipahami seperti itu, Islam sebagai rahmatan lil `alamin cuma bualan. Mohon koreksinya!

> > >>>www.ahmadsahidin .wordpress. com<<<
-----------

--- On Sat, 4/25/09, hudan_ibnul_ iman menulis:
> Subject: Re: Bls: [SuaraHati] Untuk Prof.Abdul Hadi WM dan lainnya: Kebudayaan Islam ....
To: SuaraHati@yahoogrou ps.com
> Date: Saturday, April 25, 2009, 8:27 AM

> Pertanyaannya, Islam bagian dari kebudayaan atau Kebudayaan bagian dari Islam? Islam itu menuntun kepada perbuatan yang disebut ibadah ("tidak Aku ciptakan Jinn dan Manusia, kecuali untuk beribadah kepada-Ku"), maka pertanyaan di atas ditambahkan dengan, Apakah kebudayaan tersebut bagian dari atau mempunyai nilai ibadah kepada Allah? jika tidak punya nilai Ibadah kepada Allah artinya "sia-sia" alias "rugi". Walaupun berpakaian seperti Nabi Muhammad SAW yang berasal dari bangsa Arab, kalau tidak berdasarkan niat ibadah tapi hanya sekedar pakaian budaya Arab saja, artinya "Sia-sia".
> Sebagai catatan sebagai renungan, apakah sama antara pakaian kebudayaan Arab dengan pakaian yang diajarkan Nabi Muhammad SAW? Jelas tidak sama. Dan Nabi SAW berpakaian demikian adalah perintah dari Allah, saya yakin sekiranya Nabi SAW terlahir di negeri bukan Arab, beliau tetap akan mengenakan pakaian yang sesuai dengan perintah Allah. Bukti ada hadist mengatakan "Pada mulanya Islam datang dianggap asing, nanti di akhir zaman kembali asing", maka beruntunglah orang-orang yang dianggap asing karena telah melaksanakan perintah Allah.
> pernyataan "... Tanpa kebudayaan, Islam akan kering ...", kering menurut siapa, Allah atau Manusia? Kebudayaan yang beraneka menunjukkan luasnya kebudayaan yang Allah Miliki, Islam milik Allah, dan Allah menutun manusia kepada kebudayaan yang lurus melalui Islam. Kebudayaan tertentu boleh jadi bagian dari Islam, akan tetapi Islam bukan bagian dari kebudayaan.
> Wallahu 'alam.
……………


> Dari: Tommy tamtomo < >
> Topik: Re: Bls: [SuaraHati] Untuk Prof.Abdul Hadi WM dan lainnya: Kebudayaan Islam ....
> Kepada: SuaraHati@yahoogrou ps.com
> Tanggal: Sabtu, 25 April, 2009, 9:24 AM
>
QUOTE./ "Walaupun berpakaian seperti Nabi Muhammad SAW yang berasal dari bangsa
> Arab, kalau tidak berdasarkan niat ibadah tapi hanya sekedar pakaian
> budaya Arab saja, artinya "Sia-sia"./ UNQUOTE.
> Ini bisa menjadi suatu permulaan dari sebuah 'thesis' yg panjang ya.
> Salam,
> TT.
>
……………..
> --- Pada Sen, 27/4/09, Muchson Djaiz Achmad Suryadi menulis:
> Dari: Muchson Djaiz Achmad Suryadi
> Topik: Re: Bls: [SuaraHati] Untuk Prof.Abdul Hadi WM dan lainnya: Kebudayaan Islam ....
> Kepada: SuaraHati@yahoogrou ps.com
> Tanggal: Senin, 27 April, 2009, 4:06 AM

> @Mas Hudan, Ada pakaian kebudayaan arab, ada pakaian yang dituntunkan Nabi. Apakah ada beda dari kedua hal tersebut?
> Bila pakaian Nabi sama dengan pakaian budaya arab, apakah pakaian seperti demikiankah yang diperintahkan Allah SWT?
> Abu Jahal, Abu Lahab, Musailamah al-Kadzab, tokoh2 munafik dan kafir, juga mengenakan pakaian yang sama dengan pakaian Rasulullah SAW. Sorbannya pun serupa.
> Abu Sufyan sewaktu kemudian masuk Islam, sepertinya tidak ada khabar/hadis bahwa Abu Sufyan mengganti tata cara berpakaiannya mas.
> TERIMAKASIH

………………

--- In SuaraHati@yahoogrou ps.com, Abdul Hadi WM wrote:

> Anda tak memberikan contoh yang jelas, pakaian apa yang disarankan Nabi. Yang kita tahu dari al-Qur'an ialah agar orang Islam menutup aurat.. Menutupnya kan bisa dengan baju Arab, Iran, Pakistan, Jawa dan lain-lain.

……………………

--- Pada Rab, 29/4/09, hudan_ibnul_ iman menulis:
Topik: Re: Bls: [SuaraHati] Untuk Prof.Abdul Hadi WM dan lainnya: Kebudayaan Islam ....
Kepada: SuaraHati@yahoogrou ps.com
Tanggal: Rabu, 29 April, 2009, 7:55 AM

Terima kasih pak Prof. membantu saya menjelaskan. Sebenarnya saya malu bila terkadang berdebat dengan ahli2 milis ini, karena kebanyakan memiliki tingkat pendidikan yang tinggi, sedangkan saya hanya sebatas SMK saja, akan tetapi gejolak rasa ingin berbagi pendapat tak tertahankan sehingga tertuang di milis ini.
Pastinya kita semua tidak ada yang hidup pada masa Nabi SAW bagaimana beliau berpakaian, akan tetapi boleh kita bandingkan melalu hadist2 bab tentang pakaian dengan cara berpakaian budaya bangsa Arab saat ini. Dari media televisi bila menonton film2 Arab, pakaiannya garis2 putih hitam (belang) dan tidak bersurban. Sedangkan dari hadist mengatakan Nabi SAW mengenakan warna putih polos, di hadist lain ada larangan mengenakan pakaian melebihi batas mata kaki, karena masa itu banyak yang berlaku sombong mengenakan pakaian yang panjangnya sampai dapat menyapu lantai.
Pakaian untuk wanitanya pun berbeda, dimana wanita Arab belum bertudung/burghah, kemudian Allah memerintahkan kepada para Istri untuk mengenakan burghah (tercatat dalam Al-Qur'an).
Jadi seperti yang sudah di terangkan oleh Prof. Abdul Hadi, seperti halnya di Indonesia, di negeri Arab pun, terdapat berbeda suku-suku/golongan, maka berbeda pula kebudayaan, berbeda pula pakaian, bahkan berbeda pula bahasa walaupun sama-sama bangsa Arab.
Nabi SAW, segala tindak tanduknya adalah atas perintah Allah, terutama semua hal yang ada di Al-Qur'an, dan Al-Qur'an sendiri, walau dalam bahasa Arab, tata bahasanya mempunyai nilai-nilai yang tinggi berbeda dengan bahasa Arab pada umumnya, sehingga ada kalimat2 dalam Al-Qur'an yang sulit dipahami walau oleh bangsa Arab sendiri, apalagi yang ga mengerti bahasa Arab, berpatokan hanya dari terjemahannya saja, sangat riskan tiap orang akan menafsirkan masing-masing.
Wallahu'alam.
Wassalam.


--- Pada Rab, 29/4/09, Ahsa menulis:
Topik: Re: Bls: [SuaraHati] Untuk Prof.Abdul Hadi WM dan lainnya: Kebudayaan Islam ....
Kepada: SuaraHati@yahoogrou ps.com
Tanggal: Rabu, 29 April, 2009, 6:26 PM

hmm... sejarah Islam, khususnya tentang sosok dan identitas berpakaian (budaya) baginda Rasulullah saw memang kaya dan banyak diriwayatkan. Namun, dari riwayat2 yang ada sudah seharusnya kita bersikap kritis, seperti yang dinyatakan oleh Muhammad Al-Ghazali, pakar hadits dari Mesir, bahwa dalam kumpulan hadits Bukhari dan Muslim saja masih terdapat "ketidakcocokan" hadits dengan Al-Quran.
Muhammad al-Ghazali dalam buku “Sunah Nabi Muhammad Saw : Menurut Ahli Fiqih dan Ahli Hadis” (PT.Lentera, 2002) menyatakan bahwa dalam melihat Islam—terutama warisan Nabi Muhammad Saw—yaitu sunah sangat diharuskan untuk bersikap kritis dan jeli dalam memahami teks dan nilainya.
Menurutnya, setelah diteliti dalam beberapa kitab hadits seperti shahih Bukhori dan Muslim, ternyata banyak terdapat hadits-hadits atau sunah Rasulullah yang jauh berbeda dengan perilaku dan pernyataan Rasulullah saw yang digambarkan dalam al-Quran. Hasilnya, ada beberapa riwayat, yang menurutnya kurang sesuai dengan sosok Rasulullah saw. Al-Ghazali menyebutkan hadits-hadits seperti tentang mayat disiksa karena tangisan keluarganya, mendengar nyanyian adalah perbuatan jahilyah dan haram, tentang malaikat maut yang ditonjok Nabi Musa as, atau hadits mengenai Nabi kena sihir, adalah hadits-hadits yang kebenarannya tidak bisa dipertanggungjawabk an. Bukankah Nabi itu suci dan terjaga dari kesalahan dan dosa? Bukankah Nabi itu segala ucapan dan tingkah lakunya adalah perwujudan Al-Quran dan ucapannya itu berasal dari Allah (lihat QS.An-Najm ayat 3-4). Juga sangat tak masuk akal jika Rasulullah Saw yang sehari-hari berada dalam kondisi bersih dan suci serta menjalankan amalan-amalan yang diperintahkan Allah, bisa terkena sihir. Bukankah sihir itu akan mengena pada mereka yang jauh dari nilai-nilai ilahiyah dan dekat dengan setan? Rasulullah jauh dengan setan dan bahkan setan atau jin kafir pun takut bila jumpa dengannya. Karena itu, menurut Al-Ghazali, sesuatu yang sudah pasti berdasarkan wahyu Allah dan ternyata berbeda dengan hadits-hadits atau sunah, maka hadits dan sunah itulah yang harus disingkirkan.
Mas Hudan, saya kira dalam urusan pakaian atau kebudayaan atau yang berkenaan dengan Rasulullah, termasuk yg disampaikan Mas Hudan, harus diuji dahulu kebenaran sanad dan matan serta secara historis.

>>>www.ahmadsahidin. wordpress. com<<<

………………………………….

"Abdul Hadi WM" wrote:
Kepada: SuaraHati@yahoogroups.com

Sebenarnya sejak awal saya ragu apa relevan dan produktif memperdebatkan suatu masalah besar dan luas seperti: (1) Kebudayaan dan pengertiannya secara umum; (2) Hubungan Islam sebagai al-dien dengan perkembangan kebudayaan dan peradaban di wilayah-wilayah yang penduduknya kini menganut agama Islam serta menerapkan nilai-nilai, pandangan hidup (way of life) dan gambaran intuitif tentang dunia (Weltanschauung, worldview) dalam berbagai aspek kehidupannya; (3) Tak terelakkan kebudayaan suatu komunitas yang disebut etnik, kaum atau bangsa berkembang dalam suatu periode sejarah yang panjang dan tidak linear. Karena itu sejarah penyebaran Islam dan dampak bagi perubahan sosial dan kebudayaannya juga mesti dibicarakan. Khawarij, Sunnah wal Jamaah, Syiah, Mu'tazilah, Wahabi, Salafi dan lain-lain itu semua berkembang dalam periode sejarah di suatu dan beberapa negeri, dan pengaruhnya berbeda-beda di negeri satu dengan negeri lain. Karena itu corak kebudayaan yang berkembang di negeri satu berbeda pula di negeri lain.; (4) Berbicara kebudayaan juga berbicara tentang bidang-bidang yang termasuk kebudayaan. Karena secara bersahaja kata kebudayaan dapat diartikan sebagai himpunan budaya-budaya, maka kita bisa berbicara tentang budaya ilmu, budaya seni, budaya sastra, budaya baca tulis, budaya intelektual, budaya filsafat, budaya tata boga, budaya tata busana, budaya arsitektur, budaya seni kriya, budaya adat istiadat, budaya ritual dan seremonial, budaya pertanian, budaya politik, budaya ekonomi, budaya pemerintahan, dan lain sebagainya; (5) Setiap kebudayaan pada umumnya memiliki empat aspek utama -- Pertama, asas kerohanian atau metafisika berupa Weltanschauung atau semacam sistem metafisika yang dijadikan landasan untuk memandang dunia, kedudukan manusia di alam semesta. Asas metafisika ini sering ditampilkan secara simbolik dalam kesusastraan dan seni, adat istiadat, dan diuraikan dalam ilmu-ilmu dan pemikiran filsafat yang tumbuh dalam masyarakat bersangkutan; Kedua, aspek tak kalah penting yang disebut sebagai landasan epistemologis, yaitu metode atau kaidah apa saja yang lazim digunakan oleh suatu komunitas bangsa atau kaum dalam mencari kebenaran, menyusun pengetahuan dan membangun pemikiran atau gagasan. Dalam tradisi intelektual Islam, disepakati bahwa al-Qur'an menganjurkan pemakaian metode pengamatan secara inderawi (empiris), penggunaan akal pikiran (fikr, rasional), perenungan intuitif dengan metode introspeksi (makrifa) dan pengalaman sejarah (lihat kisah tentang kaum Nabi Luth, Firaun, Musa, Khaidir, Daud, Sulaiman, Yusuf, dan lain-lain). Ketiga, disamping asas metafisika dan landasan epistemologis setiap kebudayaan pastilah memiliki pandangan tentang nilai-nilai. Ini disebut aspek aksiologis. Aspek ini mengandung dua segi -- Etika dan Estetika. Kebajikan, sebagai salah satu inti kebudayaan, bersumber dari etika yaitu pandangan tentang baik buruknya sesuatu. Kreativitas, inti kebudayaan yang lain bersama-sama dengan kebajikan dan kecerdasan, bersumber dari wawasan estetik atau wawasan tentang keindahan. Misalnya bagaimana menyampaikan gagasan dan pengetahuan dengan baik, berbusana dengan sopan, dan lain sebagainya.
Ketia aspek inilah -- asas metafisika, landasan epistemologis dan aksiologis -- yang membedakan suatu kebudayaan yang satu dengan yang lain. Jadi soal berkenaan dengan berpakaian dan segala macam itu hanya persoalan sebagian kecil.