Sekedar LPIK

My photo
Lembaga Pengkajian Ilmu Keislaman (LPIK) Bandung

Monday, September 10, 2007

Paranoid

Paranoid
Oleh AHMAD SAHIDIN

Tiap orang punya hasrat. Besar kecilnya tergantung seberapa kuat dirinya berkiprah dalam usahanya. Ini mungkin yang disebut motivasi, daya dorong, yang mesti dimiliki. Namun yang paling penting, seberapa besar kita tangguh dan berupaya keras menerjang badai-badai yang sedang menghadang. Kuncinya, adalah kekuatan jiwa dan optimalisasi sepenuhnya terhadap yang kita hasrati itu.

Dengan kata lain, siapkah diri ini berkompetisi secara baik dan benar, atau melawan—jika kita mengidentikan semua pesaing adalah—yang tidak akur (setuju) dengan kita. Maka kita harus berpikir jauh perihal itu. Sebabnya, tidak semua orang merasa dirinya dianggap lawan maupun kawan. Adakalanya lawan sering menjadi kawan. Dan juga sebaliknya, kawan menjadi lawan. Bahkan sejak 15 Abad yang lalu pernah didengungkan seorang menantu Rasulullah SAW, Ali bin Abi Thalib, cintailah orang yang kau cintai sekedarnya saja; siapa tahu—pada suatu hari kelak—ia akan berbalik menjadi orang yang kau benci. Bencilah orang yang kau benci sekedarnya saja; siapa tahu—pada suatu hari kelak—ia akan menjadi orang yang kau cintai.

Ini mungkin sekedar nasehat. Namun tidak setiap orang suka akan nasehat. Apalagi ketika berada dalam keadaan yang tidak terkendalikan. Mereka yang berada dalam kondisi terguncang—baik itu batin maupun pikirannya—senantiasa memposisikan siapa pun di hadapannya sebagai musuh.

Bahayanya, orang yang terkena penyakit ini—ketika tidak bisa melawan secara terbuka—ia akan menggunakan cara lain, sehingga yang nampak hanyalah akibat yang tidak kita duga-duga. Atau hanya dampaklah yang terasa pada kita. Dan siapa pun tidak akan mampu menggambarkan dampaknya secara lahiriah. Yang muncul hanyalah suasana-intuisi dan keadaan ruang-waktu yang tidak nyaman, dan hal-hal yang berada di luar daya tangkap kita.

Karena itu, siapa pun yang bertindak seperti itu berarti sedang mengidap paranoid. Dan kita perlu merenungi diri sendiri, apakah kita termasuk pada kategori paranoid atau tidak. Bila ya, berarti kita perlu melakukan perbaikan dan penyempurnaan-penyempurnaan. Untuk itu, mari kita menyempurnakan diri sendiri sebelum menyempurnakan yang lain.

hayamkate@yahoo.co.id

Menakar Hormat

Saling Hormat Agama dan Sains
Oleh ASEP BUNYAMIN

SEPANJANG sejarah manusia, pertarungan antara sains dan agama seolah tak pernah berhenti. Di satu pihak, ada kelompok saintis yang tak pernah dianggap sebagai intelektual, tetapi kerjanya yang berpijak pada dunia empiris secara nyata telah mengubah dunia seperti yang kita lihat sekarang ini. Di pihak lain ada para agamawan, kelompok yang secara tradisional menyebut dirinya sebagai kaum yang berhak berbicara semua ihwal tentang kebenaran. Kedua kelompok tersebut seolah tak pernah berhenti untuk saling klaim bahwa merekalah yang berhak menentukan kehidupan.

Agama dan sains adalah bagian penting dalam kehidupan sejarah manusia. Bahkan pertentangan antara agama dan sains tak perlu terjadi jika kita mau belajar mempertemukan ide-ide spiritualitas (agama) dengan sains yang sebenarnya sudah berlangsung lama.

Kerinduan akan tersintesisnya agama dan sains pernah diurai Charles Percy Snow. Ceramahnya di Universitas Cambridge yang dibukukan dengan judul The Two Cultures menyorot kesenjangan antar budaya, yaitu antara kelompok agamawan yang mewakili budaya literer dan kelompok saintis yang mewakili budaya ilmiah.

Dalam edisi kedua buku itu, C.P. Snow menyertakan satu esai penutup dan mengharapkan lahirnya budaya ketiga yang menyatukan budaya literer dan ilmiah antara agamawan dan saintis. C.P. Snow mempertanyakan identitas dari kedua budaya tersebut sehingga ia merasa perlu untuk menyatukan kedua budaya tersebut atau mungkin melahirkan budaya baru yang lebih memiliki identitas sebagai wujud pengakuan atas eksistensinya.

Saat ini, di tengah-tengah kemajuan bidang teknologi dan pengetahuan, dunia dihadapkan pada berbagai krisis yang mengancam eksistensi manusia. Bahkan jauh-jauh hari Sayyed Hosen Nasr telah mengidentifikasi krisis eksistensi tersebut sebagai ancaman yang cukup serius. Lebih lanjut ia mengungkapkan bahwa krisis eksistensi ini disebabkan karena manusia modern mengingkari kehidupan beragama. Hingga pada akhirnya mereka arogan terhadap agama bahkan tak jarang menolak keberadaan Tuhan.

Modernisme –diakui atau tidak– telah membawa manusia kepada kemajuan yang tak terduga sebelumnya. Hal ini bisa kita rasakan dengan semakin mudahnya hidup. Kemudahan itu membuat manusia kehilangan fungsi sebagai makhluk sosial. Implikasi dari itu semua, manusia modern semakin hidup individualis dan tak peduli pada orang lain. Kenyataan seperti ini memang tak bisa dihindari. Sains telah berhasil menyulap dunia ini menjadi seperti yang kita lihat sekarang ini.

Kemajuan sains membawa dampak pada dikesampingkannya agama. Kenyataan yang belum pernah terjadi sebelumnya. Houston Smith dalam bukunya Why Religion Matters: The Fate of The Human Spirit in an Age of Disbelief mengungkapkan kematian agama di tengah kedigdayaan sains. Menurutnya, agama semakin tidak memiliki peran strategis dalam posisi manusia modern. Ini menyebabkan krisis spiritual melanda manusia zaman ini.

Namun, di tengah krisis spiritual ini, kritik terhadap modernisme juga datang seiring semakin terasa hampanya hidup. Banyak para tokoh intelektual yang mencoba mengambil jalan tengah dengan memadukan sains dan agama. Sebutlah Fritjof Capra, seorang ahli fisika bertangan dingin yang menulis buku The Tao of Phisics mengungkap bahwa adanya paralelisme antara mistisisme timur (Konghucu, Konfusian, dan agama timur lainnya) dengan fisika baru (dalam hal ini sains modern). Paralelisme tersebut dapat menjadi penyatu manusia dalam memasuki kehadiran kemajuan teknologi ini.

Menurut Fritjof Capra, keselarasan untuk menemukan ide-ide spiritualitas (baca: agama) dengan fisika (baca: sains) sebenarnya sudah berlangsung lama. Hal itu ditandai dengan ditemukannya rumusan fisika quantum oleh Einstein yang mengawali bangkitnya sains modern pascakemelut berkepanjangan di awal abad ke-20. Albert Einstein –dengan teori relativitasnya– mengatakan bahwa tidak mungkin alam diciptakan dengan aturan yang tidak bisa diketahui. “Tuhan tidak (sedang) bermain dadu,” katanya.

Baik sains maupun agama memiliki dua wajah, intelektual dan sosial. Agama bisa didekati dengan rasional dan empiris dan tidak melulu urusan hati. Sains pun sebaliknya bisa berwajah sosial, tidak melulu urusan rasional dan empiris. Sains mungkin telah berhasil melayani kemanusiaan tetapi ia juga menimbulkan senjata pemusnah massal yang justru mengingkari kemanusiaan. Di sisi lain, agama semakin hari semakin tereduksi oleh sikap para pemeluknya. Agama terus dilembagakan. Diakui atau tidak, banyak kasus yang dilakukan para pelaku komunitas keagamaan justru menyelewengkan toleransi yang dianjurkan oleh agama yang dipeluknya.

Sudah saatnya kini kita menghilangkan dikotomi antara agama dan sains. Kita sudah lama merindukan sebuah harmoni yang par excellence antara ruh spiritualitas agama-agama dan sains. Saatnya agama dan sains menghadirkan kesadaran yang muncul lewat pandangan-pandangan yang lebih harmonis, holistik, serta jauh dari sistem oposisi biner yang diagungkan para penganut positivistik. Agama yang dulu sering tidak menerima penemuan-penemuan sains karena dianggap bertentangan dengan pemahaman wahyu, kini harus bersikap lebih inklusif.

Sains yang sering dianggap bebas nilai sehingga melupakan nilai-nilai kemanusiaan yang diajarkan oleh agama juga harus membuat ruang yang lebih lebar bagi saran-saran kaum agamawan. Dengan mempelajari secara komprehensif, kita bisa mengetahui keselarasan dalam relasi agama dan sains.

Paul Davies dalam bukunya God and The New Phyisics merekomendasikan kebangkitan relasi agama dan sains. Pertama, adanya dialog yang semakin intensif antara para ahli sains, filsafat dan teolog mengenai persoalan yang berkaitan dengan gagasan penciptaan (evolusi) –yang menjadi biang keladi perdebatan agama dan sains karena beda pandangan. Kedua, adanya minat yang besar untuk pemikiran mistik dan filsafat timur.

Akhirnya keinginan kita pun sama dengan kerinduan C.P. Snow bahwa semua itu dapat termanifestasi dalam sikap dan perilaku kaum agamawan dan saintis. Caranya, duduk bersama dalam rangka mengisi kehidupan yang lebih harmonis dan manusiawi sehingga menjadi pelopor dari lahirnya pencerahan jilid kedua yang dirindukan setiap orang. Wallahualam Bisshawab.

ASEP BUNYAMIN,Lahir di Bandung 23 April 1982. Sejak kecil hidup di desa kelahiran dan menempuh pendidikan hingga MadrasahTtsanawiyah di Cililin Bandung. Melanjutkan di MAN Cipasung, Tasikmalaya, Jawa Barat, sambil nyantri di Pesantren Cipasung hingga tahun 2000 dan melanjutkan di IAIN (sekarang UIN) Sunan Gunung Djati Bandung di Fakultas Tarbiyah Jurusan Kimia. Selama kuliah aktif di Lembaga Pengkajian Ilmu Keislaman (LPIK), Pergerakan Mahasiswa Islam Indonesia (PMII), Ikatan Jamaah Ahlul Bait Indonesia (IJABI) dan kini di PMII tercatat Pengurus Cabang Kabupaten Bandung Divisi Lembaga Penerbitan Pers dan Jurnalistik (LP2J) periode 2007-2008. E-mail: sayap_juang@yahoo.co.id

MARS

MARS LPIK
Musik: Ubad Lyrik: Uridz, Ughie, Ubad

Selamat datang para Pemikir Muda
Di Saung kajian bertukar wacana
Tempat yang asik untuk berfikit
Hati-hati jangan sampai kafir

Kesadaran, kebebasan, keragaman
Jalan kebenaran
Silturrahmi, silatuzdikri, silatifikri
Jangan lupa kopi
Silaturahmi, silatudzikri, silatifikri
Jangan lupa mandi

Di sinilah belajar kurang ajar
Biar pun lapar kita tetap tegar
Kita semua adalah saudara
Mencari Tuhan punya banyak cara

Membacalah, menulislah, diskusilah
Tak lupa kuliah
Kemanusiaan, kedamaian, keadilan
Jalan ketakwaan
Kebersihan, keimanan, kesehatan
Jangan lupa makan.[Ibn Ghifarie, Farid, Badru]

Saung kajian LPIK, 07 Desember 2006

HYMNE

HYMNE LPIK
Musik: Ubad Lyrik: Uridz, Ughie, Ubad

La...la..la...4x
Anak LPIK bertubuh dekil
Biar dekil, tapi berfikir
Tapi tak semuanya dekil
Ada juga bergaya lecir

Bangun pagi, jam sembilan
Menghambat peradaban
Tidak mandi, langsung ngopi
Hati-hati
Ngutang lagi
La....la.....la...4x

Membaca tokoh sedunia
Dari Plato sampai Adorno
Tapi kalau dittolak cinta
Hati panas lumpur lapindo

Bolotisme, ayam negeri
Budaya hedonisme
Ada DKM, dan Pak Kyai
Marah-marah
Sandal berloncatan
La..la....la...4x

Dor-dar Israel Palestina
Dor-dar LPIK pun berwacana
Diskusi sampe lupa waktu
Kepepet pake referen palsu

Beras mahal, minyak langka
Kiamat sudah dekat
Ada koruftor di kantor-kantor
Astagfirullah
Jangan di contoh.
La...la..la.....4x

Anak LPIK bertubuh kurus
Biar kurus, tapi tak terurus
Tapi tak semuanya kurus
Ada juga berbodi paus

Tidur malam, jam tiga pagi
Makan kurang gizi
Hidup jomlo, lawan sumanto
Ora-ono
Tahan libido
La....la.....la...4x

Banyak mahasiswa bergaya
Lupa baca berpoya-poya
Ada yang kuliah selesai
Asal bisa beli nilai

Agama baru, Tuhan baru
Budaya bujuk rayu
Kita ludahi konsumerisme
Cukup saja
Ala kadarisme
La..la....la...4x

Dor-dar wacana kanan-kiri
Dor-dar TNI dan Polisi
Feminisme dan Patriarki
Berakhir pada poligami

Banyak frustasi, makan ektasi
Ayo kembangkan kreasi
Ajaklah kakak, ajaklah adik
Biar asyik
Ayo masuk LPIK
La...la..la.....4x [Ibn Ghifarie, Farid, Badru]

Saung kajian LPIK, 12 Desember 2006

Friday, August 3, 2007

Menikah

Selamat Dan Sukses

Kami atas nama Keluarga Besar LPIK (Lembaga Pengkajian Ilmu Keislaman) dan Post LPIK Turut Mengucapkan Selamat dan Sukses atas Pernikahan Budiman Rojali (POst LPIK) dengan Henna. Yang insyallah akan dilaksanakan pada:

Hari/Tanggal : Senin, 06 Agustus 2008
Tempat : Garut
Pukul : 11.00 selesai

Semoga menjadi keluarga Sakinah, Mawadah Warahmah. Amien.

Wassalam


Ibn Ghifarie (Post LPIK)

Muhammad Alzybilla (Ketum LPIK)

Thursday, August 2, 2007

HAM

Pendidikan Berbasis HAM

Asep Bunyamin

Pada dasawarsa terakhir, terjadi kecenderungan baru dunia pendidikan yaitu tumbuhnya (kembali) kesadaran tentang pentingnya penegakkan hak-hak asasi manusia (HAM). Kecenderungan ini terjadi secara global yang dapat digambarkan sebagai titik balik dalam peradaban manusia. Beberapa waktu lalu, dewan HAM PBB atau Human Rights Council melakukan sidang perdana di Geneva. Salah satu agenda yang di bahas dalam sidang tersebut adalah pentingnya membangun prospek yang lebih baik penegakan HAM di dunia.

Dimana-mana orang berbicara seputar isu-isu yang berkaitan dengan HAM. Dan dalam banyak kesempatan tema-tema tentang HAM atau yang terkait dengan HAM banyak dibahas. Bahkan untuk bidang yang sebelumnya tak pernah tersentuh dengan HAM sekalipun, kedudukan dan peran HAM makin banyak diperbincangkan.

Di Indonesia, isu-isu seputar HAM –bagi sebagian orang– mungkin masih dianggap tabu untuk dibicarakan. Inti persoalan dari ini semua adalah tema-tema sentral seputar HAM masih belum serius dipelajari dengan seksama terutama dalam pendidikan. Dalam beberapa tahun terakhir, memang ada arus pemikiran dan kebutuhan baru dalam dunia pendidikan untuk memberikan perhatian yang proporsional terhadap dimensi-dimensi apektif dari tujuan pendidikan, bersama-sama dengan aspek pengetahuan dan keterampilan. Para ahli pendidikan mulai secara intensif mengembangkan teori pendidikan yang memberikan perhatian akan pentingnya pendidikan berbasis HAM di sebarluaskan.

Organisasi Perserikatan Bangsa-Bangsa untuk pendidikan (UNESCO) wilayah Asia Pasifik telah melakukan penelitian di negara-negara Asia termasuk Indonesia, bahwa sistem pendidikan di Indonesia kurang mengakomodasi HAM peserta didik. Hasil penelitian tersebut tentunya bisa dijadikan referensi bagi para ahli pendidikan di Indonesia untuk terus mengkampanyekan akan pentingnya pendidikan HAM di sekolah-sekolah sebagai bagian dari sistem pendidikan Indonesia.

Departemen Pendidikan Nasional (Depdiknas) dengan rekomendasi dari UNESCO mencanangkan sistem pendidikan berbasis Hak Asasi Manusia (HAM) untuk semua jenjang pendidikan. Masalah hak asasi manusia akan di implementasikan dalam kurikulum pendidikan. Untuk pendidikan dasar dan menengah, masalah HAM akan di integrasikan dalam mata pelajaran agama.

Jika dilihat dari kaca mata psikologi, pentingnya pendidikan berbasis HAM pada dasarnya merupakan upaya mengokohkan tujuan pendidikan nasional terhadap keyakinan peserta didik agar berbuat kebenaran dan berlaku adil kepada sesama manusia tanpa memandang agama dan dari golongan mana ia berasal. Penyadaran ini memerlukan usaha sungguh-sungguh dan terintegrasi. Penyadaran yang bersifat monolitik dengan memberikan tanggung jawab pendidikan berbasis HAM kepada guru mata pelajaran agama dan guru mata pelajaran kewarganegaraan merupakan langkah maju dalam mengimplementasikan pendidikan berbasis HAM. Dengan cara itu, tanggung jawab membentuk kepribadian moral dan akhlak peserta didik merupakan tanggung jawab guru dan tenaga kependidikan.

Keperluan penjelasan tentang arti, fungsi, peran, posisi dan isi pendidikan berbasis HAM relevan dengan perkembangan nasional dewasa ini yang sedang berusaha membangun kepercayaan publik tentang penegakkan HAM di Indonesia. Kebijakan otonomi pendidikan pada dasarnya merupakan pencerahan dan pemberdayaan pendidikan agar lebih bermakna. Kini lembaga pendidikan dituntut untuk mampu mengembangkan kepribadian peserta didik secara optimal, selain berusaha untuk meningkatkan kemampuan akademis.

Pentingnya pendidikan berbasis HAM ini tentu mesti ada dukungan dari semua pihak terutama para pelaku pendidikan baik secara langsung maupun tidak langsung. Guru, yang merupakan penopang dunia pendidikan paling depan, harus melibatkan diri secara aktif peranannya dalam sosialisasi di berlakukannya kurikulum berbasis HAM ini. Oleh sebab itu peranan guru, tidak hanya menyampaikan materi pelajaran saja, akan tetapi juga mengajarkan betapa pentingnya penegakkan nilai-nilai Hak Asasi Manusia (HAM) dalam kehidupan nyata di masyarakat.

Sebagai langkah awal demi suksesnya keberlangsungan dan peningkatan kualitas pengetahuan guru dalam bidang HAM, maka sosialisasi terhadap sistem pendidikan berbasis HAM ini perlu disosialisasikan ke seluruh perangkat-perangkat pendidikan sehingga tujuan agar tegaknya nilai-nilai HAM bisa benar-benar terwujud. Pendidikan, diyakini sebagai instrumen yang sangat strategis dalam penyebaran nilai-nilai HAM ini. Karenanya, dunia pendidikan kita diharapkan dapat membantu proses pembelajaran HAM di tingkat pelajar yang nantinya akan memperkuat pemahaman para siswa didik kita untuk lebih memahami pentingnya nilai-nilai HAM.

Ditengah banyaknya kejadian pelanggaran HAM, para siswa akan lebih sadar jika kenyataan tersebut bisa dipelajari secara langsung. HAM adalah sesuatu yang universal dan tak perlu diperdebatkan lagi. Tentu saja keinginan kita untuk membangun pendidikan berbasis HAM harus pula di barengi dengan infra struktur yang bisa juga di jadikan acuan bahwa HAM merupakan hak dasar bagi setiap manusia. Yang tercakup didalam HAM adalah hak hidup, hak beragama dan hak-hak dasar lainnya yang orang lain –siapapun dia– tidak boleh mengganggu apalagi melanggar dan memaksakan.

Indonesia adalah negara multikultural yang menuntut adanya kesepahaman dari seluruh elemen bangsa. Sehingga, multikultural yang secara alamiah ada dan hadir di bumi pertiwi ini bisa menjadi pemersatu dan sebagai lahan untuk saling menghargai. Krisis HAM di Indonesia perlu penyelesaian yang sistemik. Melalui pendidikan berbasis HAM, akan lebih memudahkan dalam menyiapkan generasi yang faham tentang Hak Asasi Manusia (HAM). Pemahaman yang mendalam dari siswa tentang HAM diharapkan akan memperkuat posisi mereka (siswa) untuk memperjuangkan hak asasinya dalam kehidupan bermasyarakat.

Hak-hak asasi manusia Indonesia sekarang ini sedang menjalani transisi separuh hati dari rezim otoritarian. Transisi separuh hati ini, menyediakan ruang yang luas bagi kekuatan-kekuatan keamanan untuk mempertahankan dan bahkan meningkatkan kembali kekuasaan mereka. Akibatnya sangat sulit bagi sistem peradilan untuk menyelenggarakan pengadilan yang adil demi menegakkan prinsip-prinsip HAM. Karena itu sangat penting bagi para korban pelanggaran HAM meningkatkan kapasitas mereka untuk menuntut keadilan dan akuntabilitas melalui pengadilan serta melakukan advokasi untuk mendorong reformasi hukum dan kelembagaan yang bertujuan melindungi hak-hak mereka sebagai warga negara dan manusia.

Pendidikan diyakini sebagai kekuatan yang bisa membangun peradaban bangsa. munculnya gagasan mengenai pendidikan berbasis HAM harus di sambut dengan gembira. Sebab, pendidikan merupakan sarana paling efektif untuk menegakkan prinsip-prinsip HAM. Kenyataan bahwa pendidikan di Indonesia kurang mengakomodasi HAM peserta didik merupakan kritik untuk terus meningkatkan perannya dalam melindungi HAM. Pendidikan kita pada kenyataannya masih menampilkan sistem yang tidak manusiawi, dengan kecenderungan dehumanisasi. Kebijakan dalam pelaksanaan Ujian Nasional (UN) yang di sinyalir melanggar HAM seharusnya tidak perlu terjadi. Pendidikan seharusnya memperlakukan siswa didik sebagai manusia. Sehingga tujuan utama pendidikan untuk menciptakan manusia yang bukan hanya unggul dalam bidang kognitif tetapi juga harus bisa menjadikan siswa didik unggul secara afektif maupun psikomotorik.

Tentu saja, dalam implementasinya pendidikan berbasis HAM ini harus melandaskan diri pada penguatan nilai-nilai HAM secara universal. Potensi yang dimiliki masyarakat Indonesia dengan ragam budaya yang dimiliki bisa dijadikan sebagai fondasi untuk penguatan wilayah tersebut.

Di tengah semakin maraknya pelanggaran HAM, pendidikan berbasis HAM di pandang perlu untuk di implementasikan dalam seluruh jenjang pendidikan. Dengan ini, diharapkan siswa didik –dengan segenap pengetahuan yang dimilikinya– menjadi lebih tahu akan tanggung jawabnya serta perannya sebagai manusia untuk senantiasa menjadi pelopor bagi penegakkan HAM.

Alumni LPIK.Kini menjadi Guru di Cililin

Thursday, July 19, 2007

Matabat Bangsa

Mencoreng Martabat Bangsa
Oleh Sukron Abdillah*

Martabat manusia terletak dalam kenyataan bahwa ia memiliki suara hati dan kebebasan untuk menentukan dirinya sendiri. Inilah yang dikatakan manusia itu adalah makhluk persona yang membedakannya dengan makhluk lain. Itu pula yang menyebabkan mengapa manusia jadi satu-satunya makhluk yang terbuka pada transendensi yang tidak boleh dipersaldokan dengan pelbagai kepentingan (Franz Magnis Suseno, Berfilsafat Dari Konteks, 1999: 191).

Hendak kemanakah martabat manusia kita bawa pergi? Ke arah etika utilitarian ataukah hanya berkutat di sekitar proyeksi dorongan destruktif? Atau juga dijabarkan jadi perilaku yang mencoreng wajah martabat kemanusiaan kita yang memantulkan kesucian diri, dengan melakukan tindak kekerasan?

Hidup tak terperiksa

Berita kekerasan fisik di negeri ini juga menggambarkan suara hati nurani yang terhujam di kedalaman hati hanya untuk diri sendiri. Manusia selain dirinya dipandang sebagai “yang lain” dan tidak patut dihargai. Maka penderitaan pun menjadi sebuah kondisi psikologis yang (hanya) pantas diberikan kepada selain dirinya.

Dalam konteks inilah, kekerasan atas dalih kepentingan, kepuasan dan keserakahan diri menggejala. Militer tidak lagi segan memukul dan menembaki rakyat. Teroris berani merancang peledakan bom hanya untuk menderitakan nasib orang lain atas dalih agama.

Kekerasan fisik yang dilakukan mahasiswa dan Pembina IPDN atas alasan senioritas juga adalah potret buram dari etika moral kepemimpinan bangsa kita. Pun demikian, kekerasan berbalut diskriminasi keadilan sosial (khususnya ketimpangan ekonomi) mengundang “tuntutan” dari pelbagai daerah di Indonesia untuk mengibarkan “bendera lokal”.

Peristiwa itu menampar kita dari belakang. Mencekik rasa kemanusiaan kita dari arah yang tak disangka-sangka, bahkan menghancurkan martabat kita yang mestinya menebarkan kasih-sayang. Kekerasan juga merupakan cermin bergambar dari pantulan hidup yang tak terperiksa atau tidak diisi dengan refleksi kritis atas eksistensi diri. Tak salah jika Socrates pernah berujar “Hidup yang tak terperiksa, tidak layak untuk diteruskan”.

Sebab jiwa para pejabat kita tumpul dari kepekaan, mati suri dari rasa kepedulian sosial dan direcoki bisikan nekrofilia yang destruktif. Nilai-nilai kemanusiaan sebagai ciri keotonoman serta tanda dari eksisnya jasad dan spiritualitas kita di mata orang lain, jika tak terperiksa secara kritis akan terseret arus kekerasan dalam pelbagai bentuk.

Kekerasan Vs kebersamaan

Kekerasan adalah sebentuk pelanggaran terhadap kebutuhan-kebutuhan dasar (basic needs) yang mengakibatkan bertebarannya penderitaan hingga pada ambang batas yang mengkhawatirkan. Kekerasan juga dapat berproduksi jadi dua stigma yang bertentangan – meminjam istilah J Galtung – yakni kekerasan “dapat diwujudkan” dan “dapat dielakkan”. Kekerasan juga kerap muncul ke permukaan dibumbui doktrinasi Agama, politik kekuasaan, dan perbedaan etnis (Hagen Berndt, 2006).

Berkaitan dengan merebaknya isu kekerasan di tubuh bangsa ini, penting untuk mengembalikan landasan bern egara, berbangsa dan bermasyarakat pada nilai-nilai etika moral berbalut kebersamaan. Tanpa kehadiran soliditas di dalam tubuh bangsa, boleh jadi aneka bentuk kekerasan akan meramaikan jagad keindonesiaan. Dengan persatuan dan kerja bersama-sama atau “sama-sama kerja” menanggulangi “benang kusut” persoalan bangsa, maka semangat gotong royong ini akan menyingkirkan duri di tubuh bangsa.

Dalam teks buku lawas tanpa tahun terbit, yang bertajuk: Pancasila dan Religi, Prof. Dr. N. Driyarkara, SJ menulis: “Menurut strukturnya ada kita itu baru ada bersama. Bahwa ada berarti ada bersama. Manusia tidak hanya meng-Aku, dia juga meng-Kita. Aku selalu memuat engkau. Hanya dengan dan dalam pertemuan dengan engkaulah; aku menjadi aku.” (hlm 12).

Artinya, hubungan berlandaskan cinta-kasih-sayang antarsesama ialah keniscayaan yang tak pernah nisbi dimakan usia yang meruang dan mewaktu. Ia akan terus-menerus dibutuhkan bangsa ini. Maka, kita mestinya terus mempertanyakan apa dan bagaimana fungsi kita (manusia) di dunia profan ini. Mengutip bahasa Max Scheler “Was ist der Mensch, und was ist seine Stellung in Sein”, Apakah manusia itu dan bagaimanakah kedudukannya dalam realita penampakkan?

Apabila kita merasai bersama bahwa manusia atau bangsa ini, secara eksistensial mesti menampakkan apa dan bagaimana fungsi kemanusiaannya. Maka, yang nampak ialah bahwa manusia bukanlah “monade” atau barang yang tidak memiliki relasi dengan apa pun juga. Namun, sebaliknya. Ia (manusia atau warga bangsa) selalu memiliki keterangan yang jelas tentang dirinya dan menunjukkan kesalinghubungan bersama melalui cara hidup dalam ruang sosial tanpa kekerasan.

*Aktivis Ikatan Mahasiswa Muhamadiyyah (IMM) Bandung. Kini, tinggal di Garut.

Saturday, July 14, 2007

Sukses Ya..!!

Selamat Dan Sukses

Kami atas nama Keluarga Besar LPIK (Lembaga Pengkajian Ilmu Keislaman) dan Post LPIK Turut Mengucapkan Selamat dan Sukses atas terpilihnya Muhammad Alzybilla sebagai Ketua Umum LPIK Periode 2007-2008 pada acara Musyag Ke-XII (14/07) di Pelataran UIN SGD Bandung dengan menyisihkan Naufal M. Nuhal Abrar Hafidz.

Kendati dalam bursa Ketua terdapat tiga calon; Muhammad Alzybilla, Naufal M. Nuhal Abrar Hafidz dan Muhammad Dhian Hariyadi. Saat penjaringan ketiga kanditad itu mendapatkan suara; Alzy (5), Fardi (2), Oval (5) dan abstain (1).

Namun, diputaran terakhir Alzy dapat mengungulinya dengan memperoleh suara 6 (enam) dan Oval 5 (lima) serta abstain 2 (dua).

Semoga dapat membawa LPIK ke arah yang lebih baik dan kami tunggu karyanya.


Bandung, 14 Juli 2007; 19.06 wib



Te.Ditaufiqrahman (Ketum LPIK Demosioner)

Ibn Ghifarie (Koord Post LPIK)