Sekedar LPIK

My photo
Lembaga Pengkajian Ilmu Keislaman (LPIK) Bandung

Monday, March 16, 2009

Mutasi Meme

Melacak Mutasi-Mutasi Meme
Oleh ARMAHEDI MAHZAR

Budaya manusia tampaknya merupakan sistem yang paling kompleks di jagad raya ini. Itulah sebabnya, menurut kaum humaniora, kebudayaan tak bisa dirumuskan secara tuntas dengan menggunakan sains kuantitatif belaka. Munculnya fenomenologi, hermeneutika dan pos-strukturalisme di abad lalu, misalnya, merupakan upaya untuk memahami kompleksitas budaya itu secara rasional kualitatif. Ketiga pendekatan tersebut merupakan upaya-upaya mutakhir kaum humaniora untuk merasionalkan pemahaman mereka tentang budaya.
Namun demikian, para ilmuwan tetap saja mencoba mereduksi budaya sebagai gejala biologis berupa adaptasi organisme manusia terhadap lingkungannya. Hanya saja, mereka kesulitan untuk menjelaskan mengapa manusia beradaptasi melalui pengubahan lingkungan, yang kita kenal sebagai peradaban, yang berubah semakin lama semakin dipercepat. Padahal makhluk-makhluk biologis lain menyesuaikan dirinya secara morfologis, fisiologis dan etologis. Hal itu dilakukan mereka dengan cara melalui reproduksi genetik yang sangat lambat.
Untuk menanggulangi kesulitan tersebut, maka para antropolog mencari unit kebudayaan yang dapat digunakan untuk memahami budaya manusia secara khas. Banyak pengertian telah diajukan mereka selama satu setengah abad belakangan ini. Misalnya “tema,” “konfigurasi,” “kompleks,” dan “pola” telah diajukan pada tingkat organisasi budaya. Sementara itu pada tingkat yang lebih mendasar telah diajukan “gagasan,” “kepercayaan,” “nilai-nilai,” “aturan,” “prinsip-prinsip,” “lambang,” “konsep-konsep,” dan yang lain sejenisnya.
Sementara itu, di paruh abad lalu, banyak biolog yang mencoba mereduksi unit-unit budaya itu menjadi konfigurasi dari unit-unit prilaku hewani yang disebut naluri. Pendekatan ini disebut sebagai sosiobiologi. Jika ini memang benar maka pada akhirnya unit-unit budaya ini akan dapat diterangkan sebagai konfigurasi dari unit-unit informasi pada reproduksi biologis yang disebut gene. Dengan demikian, pada akhirnya, kebudayaan dapat dikatakan sebagai fenomena permukaan bagi fenomena biologis yang lebih dalam. Kebudayaan bukan lagi merupakan karya cipta bebas umat manusia.
Namun, tidak semua biolog bersepakat dalam hal ini. Setidak-tidaknya seorang biolog Inggris yang bernama Richard Dawkins sama sekali tidak setuju. Menurut dia evolusi budaya adalah baru dalam evolusi manusia. Evolusi budaya akhirnya membebaskan diri dari determinisme biogenetika. Soalnya, pada tingkat manusia, dalam perkembangan evolusi biologis mutakhir, justru muncul satu unit transmisi budaya yang baru. Unit itu disebutnya sebagai meme.

RICHARD DAWKINS: DARI GENE KE MEME
Dalam buku Richard Dawkins The Selfish Gene,[1] Bab 11 diberinya judul Memes: the new replicators. Asal-muasal konsep meme ini sendiri, sebenarnya, terletak pada kekecewaan Dawkins pada rekan-rekannya ahli biologi yang mencoba mereduksi perilaku budaya menjadi kepentingan-kepentingan biologis organisme manusia. Bagi Dawkins, untuk mempelajari evolusi peradaban manusia, kita harus mulai dengan membuang konsep gene sebagai satu-satunya penyebab evolusi manusia. Soalnya, menurut Dawkins, evolusi budaya manusia terlalu cepat untuk diterangkan dengan konsep gene. Oleh karena itu, diperlukan konsep baru yaitu “meme” yang merupakan analogi kultural bagi “gene” yang biologis. Istilah meme itu, menurut Dawkins, sengaja dicari agar bersajak dengan kata gene.
Seperti halnya gene, menurut Dawkins, meme adalah sebuah replikator yaitu makhluk yang memperbanyak diri. Jika gene diturunkan melalui reproduksi biologis, meme diturunkan melalui proses pembelajaran budaya yaitu peniruan. Meme sebagai unit transmisi kultural, seperti gene yang merupakan unit transmisi biologis, mengalami mutasi, kombinasi dan seleksi oleh lingkungan alam. Contoh-contoh yang diberikan Dawkins sebagai meme adalah lagu, gagasan, ucapan popular, mode busana, cara-cara membuat keramik dan membuat bangunan arsitektur. Semua unsur budaya ini, menurut Dawkins, terletak dalam otak manusia, seperti halnya gen dalam sel organisme. Konon, kata Dawkins, meme itu meloncat dari satu otak ke otak manusia lain melalui proses peniruan.
Dengan menggunakan analogi budaya dan biologi, maka Dawkins kemudian bisa menerapkan teori evolusi Darwin, dalam interpretasi ultra-darwinisme yang dianutnya, ke dalam evolusi budaya manusia. Dalam paham ultra-darwinisme, unit replikasi dalam evolusi bukanlah makhluk hidup atau organisme, melainkan gene yang ada pada kromosom suatu organisme. Dalam interpretasi ultra-darwinisme ini, organisme hanyalah merupakan wahana senjata bagi gene yang bersaing memperbanyak dirinya dalam gelanggang persaingan eksistensial evolusi kehidupan. Gene itu sendiri merupakan program-program yang membangun wahana-wahana senjata itu. Jadi, ultra-darwinisme telah menggeser pusat evolusi dari organisme ke gene, seperti yang dilakukan oleh Kopernikus yang menggeser pusat jagad raya dari bumi ke matahari.
Berdasarkan analogi ultra-darwinisme ini, maka semua karya budaya manusia dari seni hingga teknologi, dari pakaian hingga organisasi sosial, sebenarnya hanyalah merupakan senjata-senjata bagi meme untuk memperbanyak dirinya bersaing dengan meme yang lain. Proses perbanyakan diri atau replikasi meme tak lain tak bukan dari imitasi alias peniruan. Seperti halnya dalam biologi tidak semua gene dapat mereplikasi secara berhasil, begitu pula tak semua meme dapat berhasil memperbanyak dirinya. Inilah yang merupakan analog bagi seleksi alami dalam tataran kebudayaan.
Sementara itu, ada beberapa jenis meme, seperti halnya ada beberapa jenis gene, yang dalam jangka pendek dapat berkembang biak secara cepat namun cepat pula lenyap sehingga tidak menyumbang banyak dalam khazanah budaya atau kolam gene. Lagu-lagu pop adalah contoh-contoh budaya yang paling kita kenal. Jenis meme yang lain seperti misalnya tatacara peribadatan dan hukum-hukum agama, sebaliknya dapat menyebar dan bertahan sampai ribuan tahun. Tampaknya meme yang bisa bertahan jangka panjang bergabung secara kolektif membentuk suatu kompleks meme yang bereplikasi secara serentak. Kompleks meme inilah yang biasanya kita kenal sehari-hari sebagai ide yang bercokol dalam otak banyak manusia. Karena itu Dawkins menyebutnya sebagai “idea-meme”
Jika sejumlah gene yang membentuk taring, cakar dan alat-alat indra bergabung bersama berevolusi dalam kolam gene karnivora, sejumlah karakteristik yang selalu muncul bersamaan juga muncul dalam kolam gen herbivora. Apakah meme tentang tuhan menjadi bersekutu dengan meme khusus yang lain agar dapat bertahan hidup bersamaan? Barangkali kita dapat menganggap sebuah organisasi gereja beserta gaya arsitekturnya, dan juga ritus-ritusnya, musiknya, serta seni dan tradisi tertulisnya yang terkait merupakan kumpulan sejumlah meme yang koadaptif dan kooperatif. Dengan kata lain sebuah kompleks meme.
Richard Dawkins dalam bukunya itu membuat hipotesa bahwa kompleks meme adaptif berevolusi serupa dengan evolusi kompleks gene yang adaptif. Mereka mirip antara satu sama lainnya, tetapi mereka bebas satu dari yang lainnya. Evolusi meme dan evolusi gene bisa saling mendukung, tetapi juga saling bersaing. Jika gene memperebutkan ruang, maka meme memperebutkan waktu. Otak manusia beserta tubuh yang dikendalikannya hanya dapat berbuat satu atau sedikit pekerjaan secara bersamaan. Jika satu meme mendominasi sebuah otak, dia hanya bisa demikian jika menyingkirkan meme yang lain. Secara lebih luas meme budaya itu bersaing berebut waktu radio dan televisi, kolom koran dan ruang rak perpustakaan.
Inilah dua kalimat terakhir buku Dawkins yang menghebohkan itu
We are built as gene machines and cultured as meme machines, but we have the power to turn against our own creators. We, alone on earth, can rebel against the tyranny of the selfish replicators.[2]
Begitulah nasib diri manusia, menurut Dawkins, terpenjara dalam dua buah mesin, mesin informasi biologis dan mesin informasi sosiologis. Tapi apakah diri itu sebenarnya? Di mana diri itu berada? Sains tak dapat menemukannya. Akan tetapi filsuf Inggris Daniell Dennett justru menemukannya dalam kumpulan meme itu sendiri. Dia mencari jawabannya pada konsep mesin informasi Dawkins dan itu tak lain adalah komputer. Menurut Dennett, diri manusia adalah komputer virtual sekuensial yang bekerja dalam komputer paralel bernama otak manusia.

DANIEL DENNETT: DARI MEME JADI MEME-PLEX
Daniel Dennett adalah seorang filosof neo-darwinisme dari Inggris yang mempopulerkan konsep meme dari Dawkins dalam kedua bukunya Consciousness Explained[3] dan Darwin's Dangerous Idea[4]. Dalam buku yang disebut pertama, dia telah mendekonstruksi konsep kesadaran tunggal manusia yaitu substansi diri atau “aku” menjadi sekedar kumpulan meme yang beredar di dalam otak manusia. Menurut Dennett, secara provokatif, manusia dalah monyet yang otaknya kejangkitan banyak meme.
Kepribadian kita dengan segala kemampuan dan keunikannya, bagi Dennett, terbentuk karena permainan antar replikator. Berbeda dengan Dawkins yang mengatakan meme itu melompat dari satu otak ke otak yang lain, maka Dennett telah membuat meme pun bergerak dan berinteraksi dalam otak manusia sendiri. Maka meme berubah dari unit budaya menjadi unit psikologis. `Aku' manusia, bagi Dennett, adalah salah satu dari banyak kompleks meme yang saling menyesuaikan.
Dalam bukunya kedua, Dennett's mengajukan sebuah menara proses pembelajaran yang disebut sebagai menara pembuatan dan pengujian. Pada dasar menara itu ada proses adaptasi Darwinian dimana makhluk-makhluk biologis itu dibuat oleh seleksi alam lalu mati. Diatasnya ada proses Skinnerian di mana makhluk-makhluk hidup dapat belajar melalui coba dan salah sehingga dia bisa mcmbuang atau meneruskan kebiasaannya hingga dia bisa terus hidup.
Di atasnya lagi terdapat proses Popperian di mana makhluk-makhluk biologis itu dapat melakukan uji coba dalam khayalannya sehingga belajarnya menjadi lebih efektif. Puncak menara adalah proses Gregorian di mana makhluk-makhluk biologis itu bisa mengajarkan kepandaiannya pada yang lain sehingga tak semua organisme harus belajar dari mula. Setiap tingkat menara itu dibangun berdasarkan proses di bawahnya. Proses pembelajaran puncak itulah yang menjadi rumah bagi meme.
Menurut Dennett, mengikuti Dawkins, meme itu semacam virus, yaitu virus pikiran. Menurut Dawkins mem budaya dapat dipandang sebagai parasit. Sebagai parasit mereka lebih mirip dengan virus yang sederhana ketimbang cacing. Pada dasarnya sebuah virus adalah sebuah untai DNA atau RNA dengan kecenderungan tertentu. Begitu juga meme adalah paket informasi yang mempunyai kecenderungan tertentu berupa semua kebiasaan dan pepakaian manusia, baik estetik maupun teknik, sebagai analog budaya bagi fenotipe organisme.
Jadi analogi dengan biologi, meme dapat dianggap sebagai parasit budaya yang menguasai organisme untuk kepentingan replikatifnya. Namun kita harus kita ingat bahwa ada tiga jenis bentuk simbiosa di mana simbiosa parasitis hanyalah salah satunya. Kedua bentuk simbiosa yang lain adalah simbiosa komensalis, di mana kehadiran simbion tamu tidak mengganggu tuan rumahnya, dan simbiosa mutualistis, di mana para simbion justru meningkatkan kebugaran baik tamu maupun tuan rumahnya. Jadi meme merupakan simbion secara umum. Dan dalam satu tuan bisa terdapat sejumlah meme membentuk kompleks mem koadaptif yang disebut Dennett sebagai meme-plex.

SUSAN BLACKMORE: DARI MEME-PLEX KE SELF-PLEX
Susan Blackmore adalah seorang psikolog, dari Universitas West of England di Bristol Inggris, yang menggunakan kata-majemuk baru dari Dawkins The Meme Machine. Dalam bukunya itu dia mencatat ada dua buah definisi meme.
First, Dawkins, who coined the term meme, described memes as units of cultural transmission which "propagate themselves in the meme pool by ... a process which, in the broad sense, can be called imitation" (Dawkins, 1976 p 192). Second, the Oxford English Dictionary defines a meme as follows: "meme (mi:m), n. Biol. (shortened from mimeme ... that which is imitated, after GENE n.). An element of a culture that may be considered to be passed on by non-genetic means, esp. imitation".[5]
Menurut Blackmore ada 3 macam jenis proses pembelajaran: individual, sosial dan kultural. Yang dimaksud dengan pembelajaran individual ialah belajar yang langsung menyesuaikan dengan lingkungan, seperti pengkondisian klasik Pavlov dan pengkondisian operan Skinner. Pembelajaran sosial adalah proses belajar yang dibantu oleh orang lain. Proses ketiga adalah proses pembelajaran kultural yang memerlukan kemampuan meniru. Ada tiga macam pembelajaran kultural: (1) yang meniru perbuatan secara langsung, (2) yang diajarkan melalui kata-kata dan (3) yang membutuhkan kerjasama antar pribadi. Pembelajaran kultural inilah yang merupakan metoda transmisi meme dari satu otak ke otak yang lain.
Tempat hunian meme adalah otak manusia. Otak manusia itu walaupun beratnya hanya 2% dari seluruh tubuh manusia, namun ia menggunakan 20% dari seluruh energi yang dimiliki tubuh. Berbeda dengan struktur DNA yang spiral sebagai penyimpan informasi genetik, di dalam otak tak terdapat molekul-molekul khusus yang menyimpan informasi. Berbagai neurolog telah sia-sia mencari struktur selular atau molekuler yang setara dengan gen dalam otak manusia. Namun, kemungkinan besar penyimpanan informasi itu dalam konfigurasi jaringan sel-sel saraf di dalam otak yang bernama neuron.
Neuron-neuron itu dalam sejarahnya dibantu oleh media penyimpanan informasi di luar tubuh manusia. Mulai dari lukisan dinding di gua, lembar-lembar papyrus, buku-buku, pita rekaman dan kini berupa disket atau CD dan DVD. Begitu juga mereka kini tidak saja dihubungkan satu sama lain dalam diri manusia, tetapi juga dengan neuron-neuron di luar diri manusia yang berjauhan melalui berbagai media telekomunikasi massa, mulai dari telegraf, telepon, mesin faksimil, radio, televisi hingga kini internet. Maka lalu lintas mem antar manusia pun semakin lama semakin cepat.
Seperti Dawkins dan Dennett, Blackmore menganggap sains, filsafat, seni dan bentuk-bentuk budaya lainnya sebagai kompleks meme atau meme-plex. Begitu juga agama. Bagi mereka agama adalah suatu meme-plex yang salah dan sains adalah meme-plex yang benar. Tampaknya mereka tak bisa menjadi Darwinian total karena masih menggunakan nilai-nilai benar atau salah untuk menilai suatu meme atau meme-plex. Padahal meme, seperti gene, tak mengenal kata benar atau salah, indah atau buruk dan baik atau buruk. Dia adalah suatu yang netral.
Memetics atau memetika bagi Blackmore adalah sebuah cabang sains untuk mempelajari kebudayaan dengan wawasan evolusi Darwin tanpa menekankan gene ataupun individu organisme. Neo-darwinisme telah memaknai evolusi biologis secara revolusioner dengan membalik cara berpikir Darwin yang menekankan individu sebagai subyek menggantikannya dengan gene, maka ultra-darwinisme para pendukung teori meme mencoba membalik studi kebudayaan dari studi kreativitas diri-pribadi manusia dengan cara menggantikannya studi tentang meme. Soalnya, bagi Blackmore, diri manusia tak lain dari kompleks meme koadaptif yang disebutnya sebagai self-plex.
Inilah dua kalimat terakhir Blackmore dalam artikelnya dalam majalah Sceptics.
In the past hundred years we have successfully thrown off the illusion that a God is needed to understand the design of our bodies. Perhaps in the next millenium we can throw off the illusion that conscious agents are needed to understand the design of our minds. [6]
Apakah harapan Blackmore akan menjadi kenyataan? Tampaknya, “meme” itu sendiri adalah sebuah meme yang seperti halnya sebuah gen terus mengalami mutasi.
Blackmore telah memutasi meme dari Dennett yang merupakan hasil mutasi meme dari Dawkins. Blackmore mencoba membuat meme menjadi konsep ilmiah setelah mengalami ideologisasi di tangan Dennett. Tapi ilmu dan ideologi adalah cabang-cabang peradaban seperti halnya juga seni. Itulah sebabnya mutasi berikutnya adalah mengangkat sejenis meme lebih tinggi dari meme yang lain. Jenis itu adalah meme yang mengatur produksi dan reproduksi meme lainnya. Jenis itu adalah VMEME singkatan dari “values meme” seperti yang diajukan oleh Don Beck dan Chris Cowan dari Amerika Serikat dalam teorinya Dinamika Spiral.

DON BECK: DARI SELF-PLEX KE V MEME
Don Beck dan Chris Cowan adalah penulis buku Spiral Dynamics: Mastering Values, Leadership, and Change. [7] Konon metodanya digunakan untuk rekonsiliasi nasional Afrika Selatan pasca apartheid. Menurut Beck, VMEME adalah komplemen bagi meme. Sebenarnya, jika meme adalah unit jiwa-jiwa individu menurut psikolog Inggris Susan Blackmore, maka bagi psikolog Amerika Serikat Mihaly Csikszentmihalyi penulis buku The Evolving Self [8], meme adalah unit informasi bagi jiwa-jiwa kolektif.
Dan bagi Don Beck, jika kolektivitas itu sangat besar, yaitu peradaban, maka unit informasi peradaban adalah VMEME. Jika mem Dawkins itu mirip partikel, maka vMEM Don Beck itu mirip sebuah gelombang. VMEME, menurut Beck, adalah prinsip-prinsip organisasi yang bertindak sebagai atraktor bagi meme. VMEME yang besar itu adalah asam amino bagi "DNA" psikososial yang merupakan gaya tarik magnetik yang menyatukan meme lain menjadi suatu paket-paket gagasan yang terpadu. Jika meme membentuk perilaku kita, maka VMEME menyandikan perintah-perintah untuk pandangan hidup kita berupa asumsi-asumsi tentang bagaimana segala sesuatu bekerja dan merupakan alasan-alasan bagi putusan-putusan yang kita ambil. VMEME membentuk sikap-sikap dasar hidup kita. Beck mencatat adanya delapan buah VMEME yang bersaing dan mendominasi sejarah peradaban manusia dan dia memberikan kode warna bagi kedelapan VMEME tersebut yaitu, beige, ungu, merah, biru, jingga, hijau, kuning dan torquoise. Menurut Beck urutan warna tersebut bersesuaian dengan urutan kronologis di mana VMEME yang dikodekan itu menjadi dominan. Lima vMEME telah mewarnai sejarah peradaban selama ini yang berujung pada peradaban industrial ilmiah korporatif yang ditandai dengan warna jingga.
Kedelapan VMEME itu bersesuaian dengan delapan keadaan eksistensial atau diri, atau self-pleks menurut terminology Blackmore, yang diajukan oleh gurunya, yaitu Clare Graves. Bagi Graves kedelapan diri itu adalah diri hewani, diri dependen, diri egosentris, diri bertujuan, diri pragmatis, diri sosiosentris, diri interdependensi dan diri eksperiensial. Kedelapan jenis self-plex itu menurut Beck bersesuaian dengan delapan struktur politik, sesuai dengan delapan VMEME, yang secara bergiliran telah dan akan mendominasi peradaban manusia yaitu: (1) keluarga, (2) paguyuban suku, (3) kerajaan kota, (4) kerajaan bangsa feodalistik dan (5) negara kebangsaan korporatif, di masa lalu, dan (6) komunitas nilai transnasional, (7) struktur sistemik global dan (8) struktur holistik planeter, di masa depan. Perkembangan ini menurut Beck bergerak secara spiral, di mana kini kita sedang menuju tingkat ketujuh sebagai pengulangan tingkat pertama yang individual pada skala peradaban global.
Belakangan, Beck bergabung dengan Ken Wilber dan sejumlah ilmuwan lainnya dalam Integral Institute[9] yang mempromosikan wawasan empat kuadran delapan jenjang versi integralisme universal Wilber.[10] Menurut Wilber, realitas itu adalah sebuah keutuhan yang berjenjang, yang disebutnya holarki, dan setiap jenjangnya, yang disebutnya holon, mempunyai empat aspek yaitu: aspek subyektif, aspek obyektif, aspek interobyektif dan aspek intersubyektif. Keempat aspek itu bersesuaian dengan jiwa, badan, masyarakat dan budaya yang masing-masingnya dipelajari oleh psikologi individual, sains natural, sosiologi sistemik dan humaniora kultural. Apa yang dipelajari oleh Beck sebenarnya hanyalah satu kuadran saja yang mencerminkan budaya yang bersifat intersubyektif, karena itu harus diintegrasikan dengan tiga kuadran lainnya secara integral.
Begitulah, wawasan gene sebagai atom-atom informasi yang memprogram proses tubuh biologis telah mengilhami lahirnya konsep ”meme” sebagai atom-atom informasi yang memprogram prilaku dan kesadaran individual manusia. Namun wawasan ”meme” akhirnya bermutasi menjadi konsep ”VMEME” sebagai atom-atom nilai yang memprogram budaya dan peradaban manusia secara kolektif.
Kalau kita menafsirkannya dengan model empat kuadran Wilber, maka dapat dikatakan bahwa meme merupakan pelengkap subyektif bagi gene yang obyektif dan vMEME itu adalah pelengkap intersubyektif bagi meme yang merupakan atom-atom subyektivitas. Maka, oleh karenanya, tak mengherankanlah jika ada orang yang bergerak untuk memutasinya dengan konsep meme yang subyektif itu menjadi meme yang interobyektif. Orang itu adalah seorang paleopsikolog dari Amerika Serikat bernama Howard Bloom.

HOWARD BLOOM: DARI VMEME KULTURAL KE MEME UNIVERSAL
Kalau VMEME itu adalah meme memprogram peradaban kolektif manusia, maka Howard Bloom menganggap bahwa bukan hanya pada masyarakat manusia meme itu bekerja. Baginya meme itu telah ada sejak organisme mempunyai neuron. Keinginan dan prilaku meniru bukan hanya ada pada manusia, namun juga pada hewan-hewan. Bahkan jika meniru adalah hal khusus dari sinkronisasi bagian-bagian yang serupa, maka meme itu mungkin bermula pada makhluk-makhluk satu sel, bahkan mungkin pada partikel-partikel elementer non-biologis di awal kelahiran jagat-raya belasan milyar tahun yang lalu. Itulah sebabnya, dia menulis buku tentang itu: The Global Brain: the Evolution of the Mass Mind from the Big Bang to the 21st Century. [11]
Dalam bukunya itu, Bloom yang mendukung darwinisme itu bahkan memperluas darwinisme menjadi sejenis super-darwinisme yang menekankan bahwa seleksi alam bukan hanya pada tataran gene ataupun organisme, tetapi juga pada kumpulan multi-organisme atau masyarakat, yang menurut dia, membentuk sebuah superorganisme. Dan menurut dia meme bagi superorganisme itu setara dengan gene bagi organisme. Bahkan, menurut dia, superorganisme itu merupakan sebuah komputer yang sangat dahsyat melebihi sebuah superkomputer buatan manusia. Itulah yang ditulisnya dalam makalah ilmiah Beyond The Supercomputer: Social Groups as Self-Invention Machines[12] yang merupakan cikal bakal bagi bukunya The Global Brain.
Yang menakjubkan, bagi Bloom, kelompok-kelompok sosial itu, bukan bermula pada tataran biologis, tetapi bermula pada kumpulan proton, yang terbentuk berdasarkan dua prinsip yang saling bertentangan yaitu produksi massa dan destruksi massa. Prinsip Destruktif yang disebut Bloom sebagai Prinsip Lucifer alias Asas Iblis merupakan pasangan komplementer bagi Prinsip Kreatif di jagad raya yang mungkin bagi sebagian orang akan disebut sebagai Prinsip Kreator alias Asas Tuhan. Evolusi jagatraya menunjukkan bahwa lahirnya kelompok-kelompok sosial yang besar bersamaan dengan matinya kelompok-kelompok sosial yang lebih kecil. Ini bukan hanya berlaku pada tataran biologis, tetapi juga pada tataran pra-biologis seperti lahirnya galaksi-galaksi raksasa di mana yang besar memakan yang kecil.
Kreativitas berbasis dektruktivitas berlanjut ke tataran biologis dengan prinsip simbiosa dan kompetisi, dan seterusnya berlanjut pada tataran kultural melalui persekutuan dan peperangan antar kelompok yang terus berlanjut hingga sekarang. Tak mengherankan jika Richard Dawkins menganggap organisme sebagai wahana perang bagi gene dan organisasi sosial budaya sebagai wahana perang bagi meme, belakangan pengikut Don Beck melihat peradaban sebagai wahana perang bagi VMEME.[13] Dan kita, konon, sedang berada dalam perang besar antara peradaban Barat dengan peradaban Islam yang selalu ditutup-tutupi, artinya selalu dibantah, tetapi selalu dipertontonkan secara terbuka oleh media massa.
Dan lucunya, kita tak sadar bahwa media massa itu adalah wahana yang mengungkapkan kedua prinsip itu secara blak-blakan. Kalau dilihat pada tataran biologis, kedua prinsip universal itu tak lain dari seks dan kekerasan. Kalau dilihat pada tataran sosiologis, tak lain dari koalisi dan perang. Howard Bloom sendiri dalam bukunya yang pertama yaitu The Lucifer Principle: A Scientific Expedition into the Forces of History[14] salah satu babnya justru mewanti-wanti tentang terorisme Islam lebih setahun sebelum peristiwa runtuhnya menara kembar di kota pusat dagang buana yang dipertontonkan di layar kaca di rumah-rumah seluruh dunia sebagai bukti bagi terorisme Islam. Bahkan, bab itu sekarang juga ditayangkan di internet sebagai bagian dari Perang vMEME Global.[15]

KESIMPULAN
Tampaknya Darwinisme telah diangkat menjadi sebuah paradigma keilmuan global yang sekaligus ditawarkan sebagai supra-ideologi paradigmatik peradaban dunia melalui sebuah peperangan multi-frontal untuk merebut jiwa kita masing-masing. Mungkin saja, Charles Darwin tak pernah bermimpi bagaimana teorinya akan menjadi sedemikian luas, namun kita, di abad ke-21 ini, justru melihat bahwa ideologi Darwinisme justru di lawan oleh ideologi Anti-Darwinisme di berbagai kalangan agama seperti kaum Kreasionis di kalangan Kristen fundamentalis dan kelompok Harun Yahya di kalangan umat Islam. Mereka melawannya dengan mengatakan bahwa memang kita di abad ke-21 ini sedang menghadapi Perang Dunia Ketiga, yang tak dideklarasikan, yang bersifat aneka tataran dengan media komunikasi dan informasi modern sebagai senjata.
Namun, tentunya, tidak semua kita terpancing untuk melakukan kekerasan pikiran seperti itu, karena evolusi sebenarnya tak lain dari proses sinambung penciptaan jagad raya, yang dalam tasawuf Islam disebut sebagai tanazzul dan dalam tradisi mistik lain disebut involusi atau emanasi alias pelimpahan. Jika involusi bekerja dari atas ke bawah, atau top down, evolusi bergerak dari bawah ke atas atau bottom up. Proses evolusi adalah manifestasi proses kreatif dimana nilai-nilai transendental merasuki materi secara bertahap melalui penggabungan-penggabungan yang mencerminkan Kasih Sayang atau Cinta. Peperangan, konflik dan kompetisi hanyalah merupakan gesekan yang diperlukan untuk naik ke dunia luhur nilai-nilai.
Perkembangan sejarah sains modern menunjukkan hal itu. Mula-mula, ditemukan atom sebagai unit-unit materi. Kemudian, ditemukan pula sel sebagai unit-unit kehidupan energetik terkecil. Lalu, ditemukan gene dan meme sebagai unit-unit informasi kehidupan dan kesadaran terkecil. Selanjutnya, ditemukan pula VMEME sebagai meme nilai atau keyakinan peradaban manusia. Akhirnya ditemukanlah bahwa VMEME superorganisme peradaban ini harus diperluas meliputi MEME universal berupa prinsip-prinsip yang mendasari evolusi semesta. Asas Destruktivitas dan Asas Kreativitas, seperti yang diajukan Howard Bloom, dalam teori evolusi semestanya sebenarnya hanyalah merupakan nama lain dari KuasaNya dan CintaNya.
Sains dan teknologi adalah manifestasi dari KuasaNya dan Seni adalah manifestasi CintaNya dan KreativitasNya. Sebenarnya, kita bukan menghadapi perang meme atau VMEME yang kecil, tetapi kita sedang menghadapi perjuangan spiritual yang lebih besar di mana kehidupan harus dikuasai oleh kesadaran dan kesadaran harus dikuasai oleh keyakinan akan KuasaNya dan CintaNya. Hanya dengan demikian lah perdamaian di muka bumi dapat ditumbuhkan dan tugas seniman adalah mengekspresikan kreativitasNya melalui karya-karya ciptaannya yang mendukung proses perdamaian semesta itu. Semoga memang demikianlah adanya.

ARMAHEDI MAHZAR,
Dosen Fisika dan Filsafat ITB

[1] Richard Dawkins, The Selfish Gene, Oxford University Press (Oxford 1976)
[2] Bab 11 buku Dawkins The Selfish Gene dapat diperoleh di http://www.rubinghscience.org/memetics/dawkinsmemes.html
[3] Daniel Dennett, Consciousness Explained, Little, Brown (Boston 1991)
[4] Daniel Dennett, Darwin's Dangerous Idea, Simon & Schuster (NewYork 1995)
[5] Susan Blackmore, The Meme Machine, Oxford University Press (Oxford 1999)
[6] Susan Blackmore, The Power of the Meme Meme dalam majalah Skeptic Juni 1997, Vol 5, #2, hal 43--49
[7] Don Edward Beck, Christopher Cowan, Spiral Dynamics, Blackwell Publisher (Oxford. 1996)
[8] Mihaly Csikszentmihalyi , The Evolving Self , HarperCollins, l993
[9] http://www.integralinstitute.org
[10] http://wilber.shambala.com
[11] Howard Bloom, The Global Brain, Wiley (2000)
[12] Artikel Howard Bloom dalam Research in Biopolitics, Volume 6, 1998. Sociobiology and Biopolitics.editor Albert Somit dan Steven A Peterson. Greenwich, CT: JAI Press Inc., 1998: 43-64. dapat diperoleh di internet di http://howardbloom.net/Beyond_The_Supercomputer.htm
[13] Ray Harris, v-Memes at War di http://www.swin.edu.au/afi/Harris%20-%20memes%20at%20War.pdf
[14] Howard Bloom, The Lucifer Principle, Atlantic Monthly Press (1997)
[15] http://howardbloom.net/islam.htm

Sunday, March 15, 2009

Masyarakat

Masyarakat “Instan”
Prof.Dr.H.Afif Muhammad,M.A

Masyarakat kita sekarang ini adalah masyarakat “instan”, dan agama [Islam] yang dianutnya adalah agama publik yang tidak perlu pendalaman. Jika mereka menghadapi suatu masalah, mereka tidak butuh dalil-dalil filosofis, argumen-argumen dari pendapat para ulama, atau kutipan dari kitab-kitab tebal mau pun tipis. Bahkan tidak butuh ayat Al-Quran dan hadits. Mereka hanya perlu sandaran otoritas saja.

Kira-kita 15 tahun yang lalu (!) saya membaca di rubrik tanya-jawab yang diasuh oleh Ustadz Quraish Shihab di sepanjang bulan Ramadhan di harian REPUBLIKA, pertanyaan dari seorang pembaca seperti ini (dia menggunakan bahasa Betawi, yang saya kutip dari ingatan saya. Mudah-mudahan saya tidak keliru):

“Ustadz, sekarang bulan puase. Tetapi ane baru saje nikeh. Isteri ane boto. Ane suka-suka tidak kuat ngeliat dia. Karena itu, ane suka peluk-peluk dan cium-cium die. Pertanyaan ane: apakah puasa ane batal?”

Jawaban Ustadz Quraish sungguh luar biasa. Hanya empat kata, tanpa referensi, tanpa ayat al-Qur’an, tanpa hadits: “Puasa ente tidak batal” (!).

Lantas, apakah orang itu yakin akan kebenaran jawaban Ustadz Quraish, dan mengamalkannya? Saya yakin dia percaya, dan mengamalkannya. Mengapa? Karena “yang mengatakannya Ustadz Quraish” (!).
Itulah yang dibutuhkan masyarakat kita. Sandaran otoritatif.

Pada kali lain, saya ngobrol-ngorol dengan salah seorang sahabat saya yang sering dipanggil “Ustadz” oleh banyak orang. Ustadz yang sahabat saya ini bercerita kepada saya bahwa dia sering menerima pertanyaan dari banyak orang lewat sms hp-nya. Sekali waktu masuk pertanyaan berikut:

“Ustadz, bagaimana hukum suami-isteri nonton video porno?” Ustadz itu menjawab dengan satu kata (sekali lagi “satu kata”): Boleh. Tahu Anda, apa respons sang penanya? Ini: Syukron!

Itulah masyarakat kita. Masyarakat yang tidak butuh ayat-ayat Al-Quran atau hadits untuk menjawab persoalan yang mereka hadapi. Yang mereka butuhkan hanyalah sandaran otoritas.

Ketika susu Dancow diisukan mengandung lemak babi, masyarakat sempat dibuat geger, dan Anda bisa bayangkan paniknya pemilik pabrik. Bisa bangkrut! Tetapi sang pemilik pabrik sepertinya mengerti betul “psikologi” hukum masyarakat Indonesia. Cepet-cepet dia mengundang salah seorang Kiai besar pimpinan MUI pusat. Kepada Pak Kiai dijelaskan ingredient susu Dancow untuk meyakinkan bahwa susu tersebut tidak mengandung unsur haram. Lalu, di bawah sorotan kamera berbagai stasiun teve yang dipancarkan ke seluruh Indonesia, Pak Kiai dimohon meminum susu Dancow. Besoknya, susu Dancow halal!

Prof.Dr.H.Afif Muhammad,M.A,
Direktur Pascasarjana UIN Sunan Gunung Djati Bandung

(naskah ini ditulis ulang oleh Ahsa dari diskusi di milis: ikhwanusshafa@yahoogroups.com)

Friday, March 13, 2009

Kreatif

Mewujudkan Jabar Kreatif
Oleh IU RUSLIANA

KRISIS global terus menelan korban. Bangkrutnya beberapa korporasi, ketatnya pengucuran kredit perbankan dan pemutusan hubungan kerja (PHK) di industri manufaktur seperti tekstil, alas kaki, furnitur, dan yang lainnya terus terjadi. Korporasi besar yang masih bertahan tampaknya akan berhati-hati dalam berekspansi. Pertumbuhan ekonomi 5 persen di 2009 adalah angka yang paling realistis.

Kini hanya ada beberapa pelaku dan sektor industri yang bisa diharapkan bakal menjadi kekuatan penggerak ekonomi, yaitu pemerintah dan partai politik. Pemerintah dengan anggaran belanja tahun 2009, seribu triliun rupiah lebih harus menjadi stimulus ekonomi. Termasuk kebijakan menggenjot kredit perumahan kelas menengah ke bawah dan kredit motor serta menurunkan harga BBM (premium dan solar) ke Rp 4.500,00 per 15 Januari 2009 adalah salah satu kebijakan penting. Demikian juga partai politik, kampanye yang besar-besaran dengan dana triliunan rupiah diyakini akan menggerakkan ekonomi nasional yang tengah terpuruk.

Harapan itu ada, namun apakah akan selamanya begini? Adakah potensi besar yang harusnya disyukuri dan menjadi penopang menuju kemandirian ekonomi? Pada konteks Jawa Barat, misalnya, beberapa industri diperkirakan segera melakukan PHK, karena dampak krisis, menyusul menurunnya order dari pasar Eropa dan Amerika Serikat. Dengan jumlah pengangguran yang bakal meningkat, apakah program padat karya yang sifatnya insidental saja yang bisa diandalkan? Bukankah sebaiknya dana bantuan sosial ekonomi yang disalurkan bisa menggerakan ekonomi berbasis masyarakat lokal.

Ekonomi kreatif
Sebagai bangsa yang kaya sumber daya alam dan keragaman budaya, kita harus menyadari potensi ekonomi yang berasal dari gagasan kreatif masyarakat. Masyarakat Indonesia, apalagi masyarakat Jawa Barat, telah menyatukan diri dengan budaya dan alam sehingga melahirkan pelbagai produk yang unik dan kreatif. Industri kreatif Indonesia menyumbangkan sekitar 4,75% dari Produk Domestik Bruto atau PDB Indonesia pada 2006, berada di atas sektor listrik, gas, dan air bersih. Laju pertumbuhan industri kreatif Indonesia tahun 2006 sebesar 7,3% per tahun, melebihi pertumbuhan ekonomi Indonesia yang 5,6%. (Bisnis Indonesia, 24/10/2007).

Menurut Agung Bawantara (2008), di negara maju Inggris, industri kreatif digenjot untuk menggerakkan perekonomian negara. Hebatnya, sumbangan industri kreatif di negeri ini mencapai 8,7 persen yang melampaui pendapatan Inggris dari sektor industri manufaktur. Di Korea, geliat industri kreatif mengalami pertumbuhan sekitar 20 persen per tahun dan berada pada posisi kedua setelah industri finansial.

Maka pemerintah Indonesia, dalam menunjang keajekan industri kreatif, pada 2006 meluncurkan Indonesian Design Power 2006-2010. Ini dilakukan untuk menggenjot industri kreatif sehingga mampu memberikan pendapatan negara sebesar 10 persen pada 2016. Melihat potensi negara ini, dengan kekayaan budaya dan alam, optimisme mewujudkan program itu bukan isapan jempol. Tentunya dengan memperhatikan pranata pendukung yang dapat mewujudkan cita-cita 10 persen pada tahun 2016.

Pranata yang mesti diperhatikan dalam mengembangkan industri kreatif mulai dari masyarakat lokal, institusi formal (pemerintah), lembaga pendidikan, agen, studio, toko, sampai pada keberadaan komunitas dan institusi. Aspek-aspek yang terkait dengan pengembangan kreativitas, mulai dari proses sampai pemanfaatan sarana informasi dan pengetahuan yang berhubungan dengan perkembangan ekonomi kreatif, sisi teknologi, dan prospek bisnis adalah komoditas yang harus mulai digarap serius.

Jabar kreatif
Untuk konteks Jawa Barat, potensi ekonomi kreatif telah ada namun perlu kebijakan khusus untuk mengembangkannya. Misalnya, industri kreatif di Kota Bandung, sebagai kota yang dihuni 60 persen kalangan muda di bawah 40 tahun dan tempat berkembangnya perguruan tinggi, industri kreatif tumbuh pesat. Hal ini merupakan potensi besar bagi perkembangan industri kreatif di Jawa Barat. Apalagi sektor industri kreatif menyumbang 7,8 persen Produk Domestik Regional Bruto (PDRB) Jabar. (www.tempointeraktif.com).

Penting kiranya mendorong kemampuan masyarakat (individu) agar mampu berkreasi dan menjadi bagian dari sektor industri kreatif. Maka, hal yang penting diperhatikan untuk mendorong tumbuhnya budaya kreatif. Pertama, pemanfaatan internet dan saluran informasi (information tool) untuk dapat memetik dan mempelajari kreativitas dunia. Kedua, menciptakan pasar domestik dan pasar ekspor yang menyerap berbagai produk kreatif ini. Ketiga, dengan cara menggandeng komunitas kreatif.

Kita tidak bisa berharap kepada APBD dan Daftar Isian Pelaksanaan Anggaran (DIPA) APBN 2009 yang mencapai Rp 23,969 triliun. Itu hanya stimulus. Jawa Barat punya potensi ekonomi kreatif yang besar dan unik. Unik karena tiap daerah punya ciri khas dan terbukti menjadi penggerak ekonomi masyarakat di daerah tersebut. Tahu cibuntu, tahu sumedang, ubi cilembu, tas dan sepatu Cibaduyut, kerajinan rotan Cirebon, kerajinan kulit Garut, dodol garut, factory outlet Kota Bandung, dan sederet potensi ekonomi kreatif yang tak tertandingi dan telah melakukan kegiatan ekspor. Industri ini tak pernah mati karena menjadi bagian dari budaya masyarakat. Namun, tak bisa tumbuh pesat karena belum ada sentuhan serius dari pemerintah.

Pemerintah daerah tidak perlu mencari-cari ke luar daerah apalagi ke luar negeri. Kita telah punya potensi, tinggal dikembangkan dan dikelola dengan baik. ITB, IPB, UIN Bandung, UPI, dan kampus terkemuka lain ada di Jawa Barat. Mengapa tidak, industri kreatif berbasis teknologi dikembangkan melalui kerja sama pemerintah daerah dengan kalangan akademik. Sinergi stakeholder; pemerintah, komunitas kreatif, dunia usaha, kampus, dan masyarakat lokal menjadi penting dilakukan untuk membangun industri kreatif ini.

Ke depan, konsep one village one product (OVOP) bisa dikembangkan, bukan hanya berorientasi pada pasar domestik, tapi juga pasar dunia. Ini soal political will dan merupakan bagian dari pemberdayaan ekonomi masyarakat yang sesungguhnya. Jika ini dikelola dengan serius dan sinergi antar-stakeholder tercipta dengan baik, bukan mustahil jika toko sepatu Cibaduyut menjamur di Eropa dan dodol garut jadi menu orang Asia. Wallahu`alam.***

Penulis, mahasiswa Program S-2 Ekonomi Keuangan Syariah Universitas Indonesia (UI) dan pengajar pada Fakultas Ushuluddin UIN Bandung.

http://newspaper.pikiran-rakyat.com/prprint.php?mib=beritadetail&id=59756


Menulis

Menulis Buku Itu Hanya Soal Taktis!
Oleh AHMAD SAHIDIN

SABTU (7/03/2009) pekan kemarin saya beruntung dikutsertakan menjadi peserta dalam training “Taktis Menulis Buku” yang diselenggarakan oleh Trim Communication di salah satu hotel ternama di Bandung. Pesertanya dari beragam profesi yang hadir, dimulai dari mahasiswa, editor, pengajar, karyawan Disnaker, karyawan Takaful, presenter TV dan juga seorang ibu sepuh mantan dosen. Jika tidak salah hitung, ada sekitar 15 peserta yang masiung-masing berasal dari Bandung, Jakarta, dan Solo.

Training yang berlangsung dari jam 09.00 hingga sore ini dipandu langsung oleh Bambang Trim. Siapa yang tak kenal Bambang Trim? Mereka yang berkecimpung dalam dunia kepenulisan dan penerbitan (editing) pasti mengenalnya.

Dari training itu saya mendapatkan sesuatu yang sangat berbeda dari beberapa pelatihan menulis yang sebelumnya telah saya ikuti. Tidak hanya memberikan motivasi dan mengubah mindset, tapi juga membimbing bagaimana membuat buku dari awal hingga akhir: prewriting, darfting, revising, editing, publishing, dan powerfull writing.

Yang menarik, Pak Bambang Trim, mempersilahkan setiap peserta untuk menuliskan judul atau tema buku yang akan ditulisnya. Kemudian dibimbing menurunkannya menjadi outline dan diberi tips untuk pengembangannya agar tulisannya itu mendalam, luas dan berbobot. Bahkan, diberi tips mengimajinasikan kover buku dan cara membuat teks punggung buku.

Di tengah acara, novelis Tasaro GK—penulis novel “Galaksi Kinanthi” yang diterbitkan Salamadani, 2009—hadir untuk berbagi pengalaman dan strategi menulis karya fiksi, khususnya novel.

Menurut Tasaro, sebuah karya fiksi bisa dikatakan bagus dan akan diterima dimasyarakat pembaca apabila di dalamnya menyajikan kisah yang baru, memiliki karakter kuat (bagus), alur cerita yang luar biasa, dan diksi atau pilihan kata yang menarik. Apalagi jika ditambah dengan tema dengan isu yang sedang menonjol atau hangat di masyarat, akan membuat makin terasa menarik atau menyedot orang-orang untuk membacanya.

Setelah jeda istirahat dan makan siang. Penulis, pakar editing dan praktisi penerbitan, Bambang Trim kembali melanjutkan. Pak Bambang menjelaskan bahwa penulisan buku berbeda dengan artikel atau feature yang khusus untuk media masa seperti koran, majalah, jurnal, atau online. “Buku itu isinya tuntas, mendalam, dan prosesnya panjang,” katanya.

“Menulis buku itu tidak gampang, juga tidak sulit. Tapi hanya soal taktis saja!” kata Bambang Trim dengan gaya khas. Menurutnya, seseorang yang akan menulis harus berani buka mata, buka telinga, buka pikiran, buka perasaan, dan berani mengalami (buka pengalaman). Apabila seseorang sudah melakukan itu, maka akan keluarlah gagasan yang berwujud tulisan. “Keluarkan buku dari dirimu!” cetusnya. Bisakah? “Tulislah gagasan yang ada dalam pikiran, yang dipikirkan, yang dirasakan atau yang dialami hingga menjadi tulisan!” ujarnya.

“Kumpulkan semua diksi yang berkaitan dengan apa yang kita lihat, dengar, dan pikirkan. Tulislah diksi-diksi itu dan rangkailah dalam sebuah jalinan cerita hingga berwujud tulisan. Ingatlah, gagasan yang tidak segera ditulis akan diambil orang!” pesannya.

Karena itu, seseorang yang akan menulis perlu memiliki keterampilan dalam membuat drafting berupa catatan ide-ide dan outline isi buku yang akan ditulis, sehingga ide yang muncul dalam pikiran tidak lepas begitu saja. Hmm…seperti kata Imam Ali bin Abu Thalib, “Ikatlah ilmu dengan menuliskannya.”

Bambang Trim juga mengatakan bahwa setiap hari tidak lupa membawa buku catatan kecil untuk menulis ide-ide yang muncul. “Selain mencatat di handphone, communicator atau blackberry, ya bawa buku kecil dan pulpen untuk mencatat ide-ide atau hal-hal menarik yang bisa kita kembangkan menjadi buku,” pesannya.

Hal lainnya, kata Bambang Trim, seorang penulis harus mampu menghadirkan memori pengetahuan atau pengalaman yang menjadi bahan tulisannya itu dengan senantiasa mengakrabkan diri dengan membaca referensi, belajar dan berlatih tiada henti, dan sering melakukan silturahim atau berinteraksi dengan orang-orang untuk meluaskan wawasannya.

“Jangan membuat buku yang tidak orang sukai, yang tidak dikuasai, dan jangan membuat buku yang tidak ada referensinya,” pesan Pak Bambang Trim di akhir acara.

Luar biasa dan mencerahkan. Meski seharian, dari pagi hingga sore, saya tidak merasa bosan dalam menyerap ilmu kepenulisan yang disampaikan dalam training itu. Ya, tentu saja selanjutnya yang harus dilakukan adalah mempraktikannya dengan segera.

Bandung, 11-12 Maret 2009



Monday, March 9, 2009

bedah buku

Bedah Buku "The Road to Rasulullah saw"

Salam.

Yayasan Muthahhari Bandung mengundang Bapak, Ibu, Saudara
untuk menghadiri Bedah Buku "The Road to Rasulullah saw" karya Jalaluddin Rakhmat.

Pada: Ahad, 15 Maret 2009
Jam : 08.00-selesai
Lokasi: Gedung Sunan Ambu STSI, Jalan Buah Batu Bandung.
Narasumber: Jaalaluddin Rakhmat (penulis)
Gratiss!! untuk umum


pemimpin

DISKUSI Mencari Pemimpin Besar

Re: Bls: [ikhwanusshafa] mencari PEMIMPIN BESAR
Sabtu, 7 Maret, 2009 19:07
Dari: "Afif Muhammad" Kepada: aahsa@....
Cc: ikhwanusshafa@yahoogroups.com

Mumpung sekarang lagi Maulid Nabi Saw akan enak rasanya jika kita ngobrol tentang Nabi kira yang suci. Jika kita jadikan beliau sebagai teladan dalam kepemimpinan, maka beliau adalah pemimpin yang lengkap dalam semua sisinya. Artinya, beliau adalah pemimpin agama (ummat), sekaligus pemimpin negara (bangsa). Kepemimpinan seperti ini sudah tidak kita temukan hari ini. Yang ada hanyalah pemimpin agama (ulama, MUI) atau pemimpin negara/politik.

Masing-masing bidang kepemimpinan membutuhkan ilmu dan syarat-syaratnya sendiri. Gampangnya, menjadi pemimpin agama haruslah menguasai ilmu-ilmu agama dan syarat-syarat sebagai pemimpin agama. Begitu pula dengan pemimpin negara/politik. Ia harus faham betul masalah-masalah politik-ketatanegaraan dan punya kecakapan dalam bidang politik. Mencari pemimpin yang sekaligus memiliki ilmu dan kecakapan dalam kedua bidang itu teramat sulit. Sebab, sistem pendidikan dan kultur kita sudah terlanjur dikhotomis (ilmu agama terpisah dari ilmu kealaman, termasuk politik). Inilah pang pada gilirannya melahirkan kelompok Ulama (pemimpin agama) dan Umara' (pemimpin politik).

Anak-anak UIN/IAIN bergelut di ilmu-ilmu keagamaan, dan mereka--termasuk Ahmad Sahidin (Ahsa) dan saya--bergelut di ilmu-ilmu keagamaan, dan hampir tidak mengerti tentang ekonomi, fisika, matematika, kimia, kedokteran, pertanian, etc. Karenanya kita hanya cocok menjadi Ulama. Sulit cari kerja karean kita tidak mengerti tentang ilmu-ilmu yang berurusan dengan bidang-bidang yang disebutkan terkemudian itu. Kawan-kawan kira yang lain (UNPAD, UI, ITB, UPI) bergumul dengan ilmu-ilmu yang berurusan dengan dunia tadi, tetapi kurang paham tentang ilmu agama (wong mereka belajar cuma 2 jam di SD, SMP, SMA, dan 2 sks selama hidup menjadi mahasiswa hingga menjadi sarjana). Jika kemudian masing-masing kita menjadi pemimpin, maka kepemimpinan kita pun kepemimpin yang cuma berada di satu bidang saja (menjadi Ulama atau Umara). Jika jadi ulama, kemungkinan moralnya bagus karena dibangun oleh agama. Tetapi kata Imam al-Ghazali ada juga Ulama al-su' (ulama bejat, pseudo-ulama). Mungkin, ada satu dua orang yang sekaligus memiliki dua ilmu dan kecakapan itu (di Iran rata-rata Ulama mengusai fisika, filsafat, politik: Muthahhari, Ja'far Suhani, Ali Syari'ati).

Dahulu, di Indonesia cukup banyak yang seperti itu, misalnya Pak Natsir, Syafruddin Prawiranegara. Tetapi, semakin kompleksnya kehidupan menyebabkan kita, saat ini, menjadi spesialis-spesialis di bidang-bidang yang satu sama lain terkapling-kapling seperti yang Anda katakan itu: Pak Amien ulama politik, Kang Jalal ulama Komunikasi, Pak Habibie ulama pesawat terbang. (Mohon Anda tidak lupa bahwa syarat dasar bagi keulamaan yang mana pun adalah ketakwaan kepada Allah). Di sebelah yang lain, ada "ulama" politik, ekonomi, teknologi, hukum, etc, yang akhlaknya kurang bagus (karena sejak kecil hanya belajar sedikit saja tentang agama). Memang ada satu-dua orang yang memiliki kecakapan di dua bidang atau lebih. Tetapi umumnya tidak demikian. Misalnya, orang pasti mengesani bahwa Pak Ali Yafie itu ulama agama yang hebat, tetapi mungkin kurang paham teknologi. Sebalik, Pak Habibie itu "ulama" pesawat terbang, tetapi tidak banyak tahu tentang tafsir al-Qur'an. Susahanya, sekarang ini banyak ulama (yang saya duga kurang ngerti politik), semakin banyak yang tergiur pada urusan politik (katanya, Pak Dien pengen jadi Presiden, ya?). Jika seorang ulama kurang mengerti politik, lantas terjun ke dunia politik, bisa-bisa mereka masuk penjara lho!

Lantas, apa yang mesti kita lakukan? Tentu saja melahirkan generasi yang memiliki ilmu-ilmu yang terintegrasi. Hebat kan, kalau ada di antara kita yang ngerti Mu'amalah sekaligus ekonomi konvensional? Tetapi, untuk generasi saya dan generasi Anda, hal pengintegrasian seperti itu sangat sulit, kalau tidak boleh disebut mustahil. Karenanya, anak-anak kitalah yang harus menjadi orang-orang seperti Ibn Sina (dokter sekaligus filosof dan sufi).
Salam.

--- On Tue, 3/3/09, ahmad sahidin wrote:
From: ahmad sahidin
Subject: Bls: [ikhwanusshafa] mencari PEMIMPIN BESAR
To: ikhwanusshafa@yahoogroups.com
Date: Tuesday, March 3, 2009, 5:14 AM

Model "Pemimpin yang dibesarkan" inilah yang kini sedang bertandang dan sedang mengantri di bursa pemimpin sekarang ini, dalam wajah capres-cawapres, dan caleg, dll.

Menurut Dr.Sri Bintang Pamungkas, sekarang ini tidak ada calon pemimpin yang bervisi ke masa depan. SEmuanya cuma berorientasi money dan kehendak untuk berkuasa sekaligus menguasai untuk diri dan partainya. Saya kira ini perlu kita sikapi, apalagi April 2009 ini kita memilih: memliih caleg atau golput? Di sinilah kita memilah dan memilih serta menentukan.

Namun, bagaimana sesungguhnya sosok pemimpin dalam Islam? Saya harap ada kawan-kawan/jamaah ikhwanusshafa yang sudi memberikan pencerahan untuk masalah ini. Saya kira Ustadz Afif Muhammad dan Ustadz Jalal (Jalaluddin Rakhmat), atau yang lainnya, sudi memberikan pencerahan di sini. Silahkan...

--- Pada Sen, 2/3/09, iu rusliana menulis:
Dari: iu rusliana
Topik: [ikhwanusshafa] Trs: [pstti_pps_ui] [M_S] PEMIMPIN BESAR
Kepada: ikhwanusshafa@yahoogroups.com
Tanggal: Senin, 2 Maret, 2009, 9:03 PM

INI ada tulisan bagus..mohon dipareasiasi…

PEMIMPIN BESAR
Saya melihat pemimpin atau calon pemimpin saat ini terbagi dua; 1. PEMIMPIN BESAR 2 PEMIMPIN YANG DIBESARKAN;

Pemimpin besar seperti buah kuini yang matang dan jatuh ke bumi karena ditiup angin sepoi-sepoi basah, baunya harum dan wangi yang memikat semua makhluk untuk datang ketempatnya. Rupanya cantik yang membuat orang suka padanya. Rasanya enak, sedap dan lazat yang susah dikalimatkan dengan kata-kata seorang pujangga. Sehingga menjilat jari, yang membuat kita merasa ingin, ingin dan ingin lagi. Pemimpin besar seperti pokok kelapa yang tinggi menjulang. Uratnya untuk obat, batangnya digunakan untuk papan dan jembatan, lidinya digunakan untuk membuat sapu, daunnya untuk membuat ketupat, dahan, sabut dan tempurungnya untuk kayu api, santannya untuk memasak, minyaknya untuk menggoreng.

Pemimpin yang dibesarkan seperti buah kuini muda yang jatuh karena dilempar anak-anak, dipanjat atau dijolok dengan galah yang panjang lalu diperam berhari-hari lamanya. Walaupun masak orang tetap menamakannya masak busuk, tak wangi dan harum, rupanya berkerut dan tidak cantik, rasanya masam yang membuat orang `trauma` dan tobat untuk tidak akan memakannya lagi. Pemimpin yang dibesarkan seperti benalu yang hidup menompang di atas orang lain, menompang nama besar, kehebatan, keagungan, populeritas orang lain dan membawa-bawa nama institusi karena diri sendiri hampa tak berisi.

Pemimpin besar adalah orang yang besar dengan sendirinya. Terbukti memiliki bau yang wangi, rupa yang cantik dan rasa yang enak. Pemimpin yang besar adalah seorang yang cerdas yang dapat dilihat dari tulisan-tulisannya selama ini. Seorang yang merakyat bukan hanya karena mau pemilu saja. Seorang yang terbukti sukses dalam akademik, karier, keluarga, agama, moral, kejujuran, keadilan, penyayang. Pemimpin yang besar adalah orang yang terkenal secara natural dan media akan datang menyiarkan karena kepribadiannya yang unggul dan amal soleh yang sering dia lakukan. Pemimpin yang besar adalah seperti bibit unggul yang apabila jatuh ke bumi akan menjadi benih dan akhirnya tumbuh berkembang menjadi pokok yang rindang dan menaungi. Pemimpin besar berpijak di alam nyata, membuat kreatifitas, menjadi diri sendiri dan teruji.
Pemimpin yang dibesarkan adalah seorang yang melakukan apa saja untuk mencapai tujuannya. Dia dibesarkan oleh iklan-iklan yang dia bayar untuk tv, radio, surat kabar dan berbagai media lainnya. Mereka dibesarkan oleh nama-nama nenek moyang mereka (seperti; aku adalah anak, cucu, cicit wali, raja, pahlawan, sultan eyang prabu marang kepunden marang keteper) Mereka dibesarkan oleh media dengan membuat dan mengatakan perkara-perkara yang aneh dengan tujuan khalif tu`raf (berbeda untuk terkenal). Mereka membayar media dengan jumlah yang sangat mahal agar bisa terkenal. Pemimpin yang dibesarkan adalah mereka-mereka yang mendapat nama besar bukan karena kemampuan diri pribadinya yang unggul, tetapi karena mereka di unggulkan atau mengunggulkan orang lain.

Pemimpin yang dibesarkan seperti buah yang masak dikarbit, dan buah masak busuk yang jatuh waktu muda, jangankan manusia, tupai dan kerapun enggan memakan. Hanya ulat yang datang mendekat, itupun karena menghalang jalan mereka sehari-hari... . Pemimpin yang dibesarkan bagaikan hidup di alam bunian, penuh dengan hayalan, menghitung bintang di langit. Seperti bujang lapuk yang mengharapkan bidadari, seperti labu dan labi yang yang tidak tidur sepanjang hari karena asik bermimpi menjadi tarzan, koboi, orang kaya dan kawin dengan anak dara yang cantik. Pemimpin yang dibesarkan tidak akan mampu berbuat apa dan tidak akan kemana-mana karena pribadi mereka sebenarnya kosong. Mereka hanya mengharapkan kembalinya bapak yang telah mati, mereka hanya menunggu wangsit dari nenek moyang yang sudah menjadi history dan mereka hanya berandai kembalinya zaman purba kala yang sudah tiada. Pemimpin yang dibesarkan seperti benalu yang hidup dan tumbuh diatas kebesaran orang lain, bukan karena diri yang sudah teruji. (sampai ada gambar bersalaman dengan Obama, di bawah naungan gambar sang ayah, membawa nama-nama nenek moyang yang sudah mati untuk tujuan kampanye, hahaha…100x)

Pemimpin adalah masa depan kita, pemimpin yang besar akan membesarkan negara dan bangsanya dan pemimpin yang dibesarkan akan menjadikan kita sebagai tumbal untuk membesarkan mereka. Mereka akan selalu menghisap seperti lintah, membunuh seperti nyamuk, merapuhkan seperti benalu.

Kuala Lumpur, 13/02/09,
Afriadi Sanusi
PhD Cand. Islamic Political Science University Of Malaya

Tuesday, March 3, 2009

Sejarah

Eksplorasi Sejarah Syi`ah
Oleh EL-HURR

“Segala sesuatu selalu berubah dalam sejarah,
Kecuali tuduhan terhadap Syi’ah”

-Javad Mughniyah-

“Syi’ah adalah sebuah kekuatan yang berdiri tegar dan tegas,
Melawan kekuatan kezaliman, dan karenanya..
Ia eksis, kokoh, dan semakin hidup! “

-Taha Husein-

Mukaddimah
Tiba-tiba kekuatan Mazhab Syi’ah menggema ke segenap penjuru dunia dan sisi peradaban dunia modern. Politik, ekomoni, dan kebudayaan seakan mendapatkan nafas baru dari kekuatan baru yang bernama mazhab Syi’ah.

Ketika seluruh teori kemanusiaan berkiblat ke barat dan seluruh system kehidupan bangga berperasmanan di atas west red carpet, rongga-rongga nafas dilenakan aroma peradaban asing, dan pada saat seluruh bangsa berlomba-lomba menjual harga hidup mereka pada pasar-pasar perhelatan antara dua kekuatan menakutkan komunisme dan kapitalisme, Sebuah ledakan terjadi di timur asia, gelombang dahsyat peradaban baru mengalir sampai kepesisir membangkitkan kesadaran sebuah bangsa untuk bergerak; berkata tidak pada keangkuhan barat.

Rumusan-rumusan teori Plato di taman-taman fakultasnya –dan ini mungkin membuat kematiannya sedikit terhibur- di praktiskan dengan sangat indah oleh Imam Khumeini; Dalam praktek bernegara, seorang filosof menjelma menjadi politikus-negarawan sekaligus pemimpin spiritual terbesar bukan saja untuk satu Negara, tapi seluruh bangsa. Inqilab-e Ma, Infijar-e Nur Bud (Revolusi kita adalah pancar pijar cahaya). Demikian Imam Khumeini menamakan revolusi nilainya dalam bahasa yang jauh dari aroma keangkuhan kekuasaan.

Dari dataran Persepolis agung, sikhuet cahaya itu membumbung ke kesadaran kaum tertindas; Intifadhah ke dua berkobar di Palestina, bergerak ke Nahr al-Barid terus ke selatan, ke Jabal Amil dan Bint Jabal, pemuda-pemuda Libanon bangkit, Hizbullah menyatukan mereka dalam satu kalimat; Haihat Minna Zillah!

Di sisi lain –dan sayangnya malah datang dari mereka yang mengaku Muslim- tuduhan yang terkadang jauh dari kaidah-kaidah ilmiah-logis dan etis, ditimpahkan kepada Iran. Dan alasannya juga sangat sederhana; sebab Iran mendasarkan negaranya atas mazhab Syi’ah. Syi’ah adalah mazhab sesat, Iran bermazhab Syi’ah, maka Iran adalah sesat! Benarkah?

Dalam tulisan ini, kita akan mencoba menjelajah dan mencari kembali akar-akar Syi’ah dalam sejarah terutama negara-negara di bawah kekuasaan pemerintahan Syi’ah.

Sebab Berkembangnya Mazhab Syi’ah
Abu Zuhrah di akhir bukunya – al-Imam Shadiq – membahas satu bab dengan judul Perkembangan Mazhab Ja’fariyah (nama lain dari mazhab Syi’ah yang di nisbahkan kepada Ja’far as-Shadiq, Imam ke Enam mazhab ini) ia menulis; Mazhab ini berkembang pesat dengan sebab-sebab sebagai berikut:

1. Pintu-pintu ijtihad masih dan selalu terbuka dalam mazhab Syi’ah, dan ini membuka pintu pelajaran dan analisa baru terhadap permasalahan-permasalahan social, ekonomi dan individu.

2. Banyak teori-teori yang terus lahir dan berkembang dalam mazhab ini dan menerima perbedaan pendapat selama berjalan di atas koridor teoritis yang benar dan tidak bercampur dengan hawa nafsu.

3. Mazhab Ja’fariyah telah berkembang dalam warna yang dinamis, dari dataran Cina hingga Eropa yang secara natural memiliki iklim adat, pemikiran, kebudayaan, social dan individual yang berbeda.[1]

Dan semua point tersebut telah menjadikan Mazhab ini seperti sungai yang mengalir di belahan bumi yang beragam dan alih-alih berubah, Syi’ah telah mejadi warna hidup dalam lukisan-lukisan sejarah dan bangsa-bangsa yang ia jamah.

Dr. Taha Husein menulis; Syi’ah adalah sebuah Mazhab yang senantiasa berseberangan dan menjadi lawan politik kotor dan penguasa yang zalim, dan karena garis tegas yang dibuatnya ini, menjadikan ia berkembang dan diminati. Ia –Syi’ah- menjadi ideology perlawanan dan para pengikutnya bergerak di atasnya.[2]

Syi’ah dan Sunnah dalam Peradaban Islam
Salah satu cara yang digunakan para ahli sejarah untuk melakukan pendataan jumlah pengikut sebuah komunitas bisa dilakukan dengan cara mendata Negara-negara dan penguasa sebuah bangsa melalui agama dan mazhab yang dijadikan dasar pemerintahan. mengetahui jumlah pengikut mazhab Syi’ah dan Sunnah bisa ditentukan dengan cara yang sama.

Pada masa kekuasaan dinasti Umawi dan awal mulainya dinasti Abbasiyah, jumlah Ahli Sunnah lebih signifikan dari Syi’ah. Sedang pada masa keemasan peradaban dunia Islam, terutama pada masa dinasti Bawahiyah, Fathimiyah dan Hamedaniyah, pengikut mazhab Syi’ah menjadi mayoritas dalam sejarah Islam. Sedang pada kekuasaan Saljukiyah, Ayyubiyah dan Utsmaniyah, jumlah Ahli Sunnah berkembang pesat sampai beberapa generasi, sedang Syi’ah lebih dari segi kuantitas.

Sayyid Muhsin Aminy menulis; “Syi’ah sampai sekarang masih berkembang dan diakui, menampakkan atau menyembunyikan identitas, pengikut mazhab Syi’ah bisa ditemukan atau tidak tergantung pada penguasa yang dihadapinya, mereka dikejar-kejar dan hidup dalam kekerasan penguasa ataupun hidup dalam ketenangan, hingga jumlah mereka sekarang ini sekitar 75 juta orang.[3]

Timbul sebuah pertanyaan, apa penyebab jumlah Syi’ah yang setelah mengalami perkembangan yang sangat pesat dalam masa keemasan peradaban Islam dan pernah memiliki dinasti-dinasti besar dan menjadi penguasa dunia Islam cukup lama atas beberapa generasi, mengalami penurutan kuantitas yang sedemikian banyak?

Jawaban atas pertanyaan tersebut bisa kita dapatkan dalam kitab-kitab sejarah, al-Jauzy dalam jilid kedelapan bukunya, al-Muntazham, menulis bahwa hal tersebut terjadi karena fanatik buta pengikut Ahli Sunnah yang permusuhan mereka yang keras terhadap Syi’ah.

Yaqut dalam Mu’jam-nya menukil bahwa pada tahun 617 H, ia memasuki kota Rey (salah satu kota di Iran sekarang), ia mendapatkan sebagian besar kota tersebut hancur, setelah mencari tahu apa yang penyebab dari kerusakan kota. Dari pemuka penduduk ia mengetahui bahwa kota tersebut dihuni oleh tiga golongan; Syi’ah, Ahnafiyah, dan Ahlu Sunnah Syafi’iyah. Ahnafiyah dan Syafi’iyah bergabung menyerang dan menghancurkan Syi’ah, terjadikah penyerangan oleh Ahnafiyah yang bergabung Syafi’iyah atas Syi’ah. Pembantaian dan pembumi hangusan besar-besar terjadi atas Syi’ah, hingga yang selamat hanya mereka yang berhasil melarikan diri. Selanjutnya Ahnafiyah dan Syafi’iyah bersengketa, terjadilah peperangan di antara mereka. Kekalahan di pihak Ahnafiyah. Semua peperangan ini hanya terjadi dibagian kota yang dihuni oleh Syi’ah dan Ahnafiyah.[4]

Iran dan Syi’ah
Sebagian penulis menganggap bahwa kemunculan Syi’ah berkaitan dengan bangsa Persia dan Iran. Mazhab adalah merupakan ‘kreatifitas’ Persia. Anggapan ini terutama pertama kali dihembuskan oleh orientalis yang sayangnya kemudian secara turun temurun melaui metode non-ilmiyah, tuduhan ini lantas dinukil oleh para penulis muslim yang antipati terhadap Syi’ah dan lebih kotor lagi, musuh-musuh Iran secara politik.[5]

Beberapa teori mereka kemukakan untuk memperkuat pandangan tersebut, diantaranya;

1. Akidah terhadap kepemimpinan merupakan wasiat dan alih waris, terutama dalam akidah imamah Syi’ah tidak pernah ada dalam dunia Islam sebelumnya, terlebih di kalangan orang-orang Arab. Tapi kepemimpinan melalui jalan alih waris dan wasiat hanya terdapat dalam adat turun temurun para penguasa dan raja bangsa Persia.

2. Penghormatan yang khusus bangsa Iran terhadap para Imam Syi’ah yang lahir dari emosi nasinalistik, karena Imam Husein as. Menikahi salah seorang putri raja Persia yang bernama Syahr Banu putri Yazdgard III, dan para Imam setelah Imam Husein as. Seluruhnya lahir dari hasil pernikahan tersebut.

3. Kebencian dan dendam bangsa Persia atas kekalahan mereka dalam peperangan dengan kaum Muslim terutama yang berbangsa Arab. Dan untuk sebagai cara mereka melakukan balas dendam terhadap Islam dan kaum Muslim terutama orang-orang Arab, mereka menciptakan akidah yang bernama Syi’ah yang berbeda dengan akidah Ahli Sunnah.

Inilah beberapa anggapan yang mereka hembuskan kepada Syi’ah. Pernyataan di atas bisa dijawab dengan mengemukakan beberapa jawaban sebagai berikut;

1. Akidah bahwa keimamahan melalui jalan alih waris banyak terdapat dalam hadits-hadits bahkan dalam kedua mazhab Sunni dan Syi’ah riwayat-riwayat yang menjelaskan hal tersebut berjumlah sangat banyak.

Jadi bisa dikatakan bahwa teori ini benar-benar terdapat dalam akidah Islam, dan tidak ada hubungannya dengan adat dan kepercayaan orang-orang Iran atau system kerajaan bangsa Persia.[6]

2. Wilayah geografis Syi’ah sepanjang sejarah Islam klasik adalah di tanah Arab terutama Hijaz (Sekarang Saudi Arabiyah), Irak, dan Yaman bukannya Iran. Pengikut terbanyak Imam Ali as. Sendiri sepanjang periode beliau adalah dari orang Arab. Sebagaimana dapat ditemukan, bahwa pasukan yang dibentuk dalam perang Jamal, Shiffin dan Nahrawain merupakan gabungan beberapa kabilah Arab.

3. Mengikuti laporan sejarah, penduduk Persia ketika itu sebaliknya kebanyakan bermazhab Sunni baik secara kekuasaan, pemikiran dan akidah, adapun Syi’ah datang belakangan dari mazhab yang disebutkan terdahulu.

Ada banyak sebab yang menjadikan Syi’ah berkembang pesat di Iran. Diantaranya adalah hijrahnya para pengikut Syi’ah dari tanah-tanah Arab seperti Hijaz, Irak dan Yaman dikarenakan penyiksaan yang mereka dapatkan dari penguasa yang memusuhi Ahlul bait Nabi. Dari orang-orang Arab inilah, akidah Syi’ah didapatkan oleh orang-orang Iran sekaligus Syi’ah menjadi mazhab yang pada perkembangannya mayoritas dianut oleh banga Persia.

Yaqut Hamawi menulis[7]; kota ini (Kota yang pertama kali menjadi basis orang Arab mendawakan Syi’ah) dibangun pertama kali oleh Thalhah bin Ahwash Asy’ary pada masa kekuasaan Hajjaj bin Yusuf. Kota tersebut merupakan gabungan dari tujuh desa dan dulunya bernama Kamandan. Yaqut melanjutkan; hal tersebut dikarenakan, Abdul Rahman bin Muhammad bin Asy’ab bin Qais yang kalah dalam perlawanannya terhadap pemerintahan zalim Hajja penguasa Sistan (salah satu kota besar di Iran), putra-putra Sa’ad bin Malik Asy’ary yang bergabung dalam pasukannya, setelah kekalahan tersebut melarikan diri ke Iran melalui kota Qom, dan di tujuh desa yang bernama Kamandan berniat dan berkonsentrasi didaerah tersebut. Dan mereka yang menyebarkan mazhab Syi’ah Imamiyah di kota Qom kemudian berkembang dan meluas ke berbagai kota lain di Iran.[8]

Abu Zuhrah menulis; Bangsa Persia menerima Syi’ah sebagai mazhab mereka dari orang-orang Arab, yang diakibatkan penyiksaan dan kekerasan yang mereka dapatkan dari penguasa bani Umayah dan Abbasiyah, kemudian hijraj ke kota-kota di Iran seperti Fars, Khurasan (di kota ini terdapat makan Imam Ridha as. Imam kedelapan Syi’ah Imamiyah, sekarang terkenal dengan nama Mash’had) dan kota lainnya. Dan sebelum runtuhnya dinasti Umawi, Syi’ah telah berkembang pesat di tanah ini.[9]

4. Bukti sebagai jawaban tuduhan di atas diantaranya adalah bahwa selain bahwa yang menyebarkan Syi’ah ke tengah-tengah bangsa Persia adalah orang Arab, ulama-ulama besar dari mazhab Syi’ah Imamiyah adalah orang-orang Arab, seperti Alu A’yan, Ali Atiyah, Bani Darrah, Syaikh Mufid, sayyid Murtadha, Muhaqqiq Hilli, Allamah Hilli, Ibn Tawus, Ibn Idris, Fadhil Miqdad, Syahid Awal dan Tsany, serta yang lainnya yang tidak mungkin disebutkan di sini adalah orang-orang Arab. Di sisi lain, pemuka mazhab empat Sunni bukanlah orang Arab, demikian juga para pemuka ilmu kalam, ahli hadits dan faqih terkemuka mazhab Sunni adalah dari non Aran dan kebanyak dari orang-orang Persia.

5. Aalah tidak benar bahwa orang-orang Iran memberikan perhatian dan perhormatan lebih kepada lebih kepada keturunan Imam Husein dan mengikuti keimamahan mereka karena mereka lahir dari rahim putri Iran yang bernama Syarh Banu. Penghormatan mereka terhadap Nargis Khatun as. Ibunda Imam kedua belas Syi’ah Imamiyah adalah putri dari Roma bisa dikatakan tidak kalah bahkan lebih terhadap Syahr Banu as. Sendiri.

Apabila penghormatan bangsa Persia terhadap para Imam-imam Syi’ah karena fanatic nasionalistik Sasaniyah, maka penghormatan yang sama akan mereka lakukan terhadap keluarga dinasti bani Umawi, karena Walid bin Abdul Malik juga menikahi salah seorang putri Syah Afarid, dan dari pernikahan itulah lahir Yazid bin Walid. Jadi Yazid juga memiliki darah dinasti Sasaniyah, tapi kenapa penghargaan dan penghormatan yang sama tidak didapat dari orang-orang Iran?

6. Akidah Syi’ah Itsna Asyariyah mengenai Imama juga masalah yang lain, bersumber dari al-Qur’an dan Hadits Rasul, riwayat-riwayat dari para Imam as, serta dalil akal yang pasti.

Maka tuduhan bahwa mazhab ini muncul dilatari rasa dendam bangsa Persia dan untuk membalasnya Syi’ah kemudian mereka munculkan adalah sebuah tuduhan yang tidak beralasan dan tidak ilmiah.

Kesaksian sejarah cukup menjadi bukti bahwa keislaman bangsa Persia bukan karena rasa dendam dan paksaan, tapi karena keinginan dan kecintaan kepada Islam. Beberapa alasan bisa di kemukakan di antaranya; Pertama, kebenaran dari akidah Islam itu sendiri, kedua, Islam telah menyelamatkan mereka dari kezaliman raja diraja Sasania ketika itu. Dengan bahasa lain, prinsif keadilan, persamaan yang terdapat dalam Islam di sisi lain, dan ketidak adilan dan kezaliman raja-raja Sasaniah atas penduduknya, ini kemudian yang menyebakan orang-orang Iran tidak melakukan perlawanan terhadap pasukan Islam, bila tidak demikian, maka ceritanya pasti lain, sebab menaklukkan Iran tidak akan semudah yang telah terjadi.

Selain itu, kaum Muslim menguasai Iran, mereka diebaskan untuk menerima Islam atau membayar Jizyah bagi mereka yang beragama lain. Sebagaimana agama-agama langit yang lain, tidak akan punya prinsif memaksakan akidah dan ajarannya kepada orang-orang diluar pemeluknya, agama Islam tidak akan memaksakan ajarannya untuk dipeluk.

Edward Brown, menulis; melakukan penelitian terhadap perkembangan luas dan pengaruh dalam agama Islam atas Saratustra, sungguh lebih sulit ketimbang melakukan penelitian terhadap penguasaan kaum muslim terhadap kekuasaan dinasti Sasania. Banyak yang mengira bahwa pasukan perang Islam memberikan dua pilihan terhadap sebuah bangsa atau kekuasaan yang mereka kalahkan; al-Qur’an atau Pedang!

Tapi, sungguh tidaklah demikian, karena mereka yang beragama Kristen, Yahudi, dan Saratustra tetap dengan bebas memeluk dan menjalankan keyakinan mereka. Mereka hanya dibebankan untuk membayar zakat, dan ini sangat adil, karena orang-orang di luar Islam dibebaskan untuk tidak ikut dalam peperangan, bebas dari membayar zakat dan memberikan khusmus yang diwajikan atas umat Rasulullah Saw.[10]

PENULIS adalah mahasiswa S1, Ulumul Qur'an, Imam Khomeini University of Qom, Iran

CATATAN:

[1] . Lihat, Javad Mughniyah, As-Syi’ah fi al-Mizan, Hal. 203-206

[2] . Dr. Taha Husein, Ali wa Banuh, Mukaddimah kitab

[3] . A’yan As-Syi’ah ditulis sekitar 300 tahun yang lalu, dan tentu saja jumlah yang disebutkan sekarang ini telah mengalami perkembangan yang pesat.

[4] . Lihat juga al-Kamil fi at-Tarikh, Inb Katsir, peristiwa tahun 301-6-8, 334, dan 444

[5] . Kant Kevin dan Edward B, merupakan orientalis yang menulis deskripsi teori kemunculan Syi’ah adalah dari orang-orang Iran. Sedangkan dari kalangan penulis muslim bermazhab Ahlu Sunnah adalah Ahmad Amin dari Mesir dalam bukunya Fajr al-Islam.

[6] . Selain itu, bisa kita bisa melihat dalam sejarah perkembangan kepemimpinan dalam Islam, Sejak masa Muawiyah menjadi penguasa, ia melantik putranya Yazid untuk menggantikannya sebagai raja tanpa memperhatikan suara dari kaum muslim lainnya. Abu A’la al-Maududi menyebut bahwa Mu’awiyahlah yang pertama kali dalam dunia Islam yang menggatikan system kehilafahan menjadi system dinasti. Lihat al-Khilafah wa al-Muluk

[7] . Mu’jam al-Buldan, 4/394

[8] . Lihat juga Buhuts fi al-Milal wa an-Nihal 6/145, A’yan as-Syi’ah: 1/26

[9] . Muhammad Abu Zuhrah , Imam Ja’far As-Shadiq, hal: 454

[10] . Tarikh Adabiyat-e Iran, 1/297




Agama

Memahami Kebhinekaan
Oleh Prof.Dr.Abdul Hadi W. M.

MEMAHAMI kemajemukan atau kebhinekaan agama, dan mazhab-mazhab yang pasti dijumpai di dalam setiap agama, memang bukan persoalan mudah. Begitu pula untuk bertoleransi seandainya faktor-faktor sosial budaya, politik, ekonomi, dan pendidikan tidak turut membantunya. Damai di muka bumi dimulai dari damai dalam hati. Jika hati manusia erganggu oleh faktor-faktor luar yang menyebabkan timbulnya rasa kurang aman dan tak merasakan damai lagi, maka tibalah masanya untuk hanya mementingkan didirnya sendiri dan golongannya sendiri.

Dalam al-Quran, surat al-Baqarah ayat 251 Allah berfirman, "Seandainya Allah tidak mengimbangi segolongan manusia dengan golongan yang lain, pasti bumi akan cepat hancur. Namun kasih sayang Allah bagi semesta alam melimpah ruah."

Jalaluddin Rumi pernah menulis, "Keyakinan itu banyak, namun jiwa yang mengikatnya satu semata. Ibarat sinar matahari di kolam air dan danau yang berbeda-beda, yang kelihatan banyak, namun sumbernya satu." Bagi orang yang biasa melihat segalka sesuatu dari segi lahir dan formal kehidupan, tidak mudah melihat bagaimana Sumber yang satu menggerakkan itu semua. Jika kita lihat sinar matahari di danau yang bergelombang airnya, akan berbeda dengan melihat pantulan sinar yang sama di bak air yang tenang. Hanya dengan penglihatan batin yang terang dapat menyaksikan bahwa Yang Esa tidak pernah berhenti berurusan dengan ciptaan-Nya. Baba Tahir, sufi dan penyair Persia abad ke-12, dianugerahi penglihatan batin seperti itu. Maka dia dapat menulis syair berikut ini:

Hanya Tuhan Kulihat

Di pasar, di biara -- hanya Tuhan kulihat
Di lembah dan gunung -- hanya Tuhan kulihat
Sering ia tampak berada di sampingku kala bencana menimpa
Dalam senang dan di tengah keberuntungan
Hanya Tuhan kulihat
Tatkala berdoa dan berpuasa, waktu shalat dan tafakkur
Dalam agama Rasulullah hanya Tuhan kulihat
Bukan jiwa atau tubuh, bukan kejadian atau hakikat
Bukan sifat atau sebab -- hanya Tuhan kulihat.
Kubuka mata dan dengan sinar wajah-Nya di sekelilingku
Yang terjumpa mata dalam segala -- hanya Tuhan kulihat.
Seperti lilin aku lebir dalam nyala-Nya
Di dalam kepungan api berkobar -- hanya Tuhan kulihat.
Kulihat jelas dengan mata hatiku
Namun bila kulihat dengan mata Tuhan - hanya Tuhan kulihat.



Tetapi di mana letak mata yang dapat menyaksikan hakikat kesatuan itu? Rumi menulis dalam Matsnawi:

Ketika rahasia penciptaan terbuka
Tanda-tanda keagungan dan keindahan-Nya pun sirna
Kucari di palang salib, dalam kerumunan orang Nsrani

Payah kucari ke sana ke mari
Namun ia tak kujumpa di palang salib

Kudatangi kuil Hindu, pagoda Buddha dan vihara
Tak juga ia kujumpa di sana
Ke Herat dan Kandahar aku pergi
Ke puncak-puncak gunungnya yang tinggi
Tak, tak kujumpa ia di tempat rendah atau pun tinggi
Ke puncak bukit Qaf aku mendaki
Hanya sarang burung Anqa yang kujumpai
Ke Yerusalem, ke Kuil Sulaiman dan Masjid al-Aqsa
Ke Ka`bah di Mekkah coba kucari di sana
Tak, ia tak ada di tempat berlindung orag tua dan muda

Kutanya Ibn Sina, para filosof ulung
Ia pun tak tahu di mana tempatnya
Belok haluan aku pergim ke tempat lebih jauh
Tak kujumpa ia di istana-istana megah
Yang dipuji setinggi langit
Kini aku pun pergi dan masuk ke dalam hatiku

Ya, kini kulihat tanda-tanda keagungan dan keindahan-Nya itu
Ia ternyata tidak di tempat lain dijumpa
Melainkan dalam hati sendiri


Untuk sementara saya cukupkan sekian dulu. Keyakinan agaknya memang sukar diperdebatkan dan toleransi atau kemajemukan tidak pula dapat dipaksakan, apabila kita sendiri tidak memahami kekurangan-kekurangan dan kelemahan-kelemahan yang ada pada diri kita. Termasuk pemahaman dan pengetahuan tentang agama serta sejarahnya. Telah banyak pencarian dilakukan, akhirnya seperti dikatakan Hamzah Fansuri jua dalam syair tasawufnya:

Hamzah Fansuri di dalam Mekkah
Mencari Tuhan di Baitul Ka'bah
Di Barus ke Quds terlalu payah
Akhirnya dijumpa di dalam rumah

Karena itu jangan terlalu jauh pergi dari keyakinan, pemahaman dan pengetahuan kita sendiri.


PENULIS adalah Dosen ICAS-Jakarta.

SUMBER: milis SuaraHati@yahoogroups.com