Sekedar LPIK

My photo
Lembaga Pengkajian Ilmu Keislaman (LPIK) Bandung

Saturday, November 6, 2010

Menilik Do’a dari Sudut Epistemologi

Oleh RIDWAN RUSTANDI

Do’a merupakan salah satu medium seorang hamba dalam mendekatkan diri terhadap Tuhan yang telah menciptakan diri dan seluruh fungsinya. Do’a dipandang sebagai wujud syukur seseorang terhadap dirinya sendiri, sekaligus menegasikan kesombongan seorang manusia atas segala potensi yang dimiliki olehnya.

Dengan melaksanakan do’a maka manusia menjadi tahu bagaimana kiranya kita bisa memohon anugerah Tuhan di dunia ini. Dan jelas, bagi seluruh umat beragama do’a merupakan elemen penting dalam mengarungi kehidupan.
Umumnya, do’a dijadikan sebagai alternatif terakhir ketika raga sudah tidak berdaya. Tatkala segala macam usaha telah dilakukan guna memperoleh hasil yang memuaskan. Dan memang jika usaha tersebut telah maksimal, maka jalan terakhir adalah menyeimbangkan ikhtiar dengan memohon keberkahan Tuhan (do’a). Ini menunjukkan kepasrahan makhluk atas kuasa Tuhan.

Secara ontologis, do’a dimaksudkan untuk memperoleh hasil yang maksimal atas apa yang kita usahakan. Tujuan do’a secara garis besar sangat jelas adalah untuk mendapat keberkahan dari Tuhan. Beragam cara yang dilakukan oleh manusia tatkala ia bedo’a, banyak yang kemudian dilakukan dalam bentuk yang kurang rasional, sehingga tak jarang metode yang dilakukan dalam berdo’a ada yang mengundang silang pendapat di antara sesama. Namun, terlepas dari itu semua do’a adalah sebuah jalan atau thoriqoh bagi kita dalam mendekatkan diri terhadap Tuhan.

Epistemologis Do’a

Apa yang kemudian saya utarakan di awal merupakan sebuah pengantar bagaimana kita sebagai manusia, terlebih sebagai umat islam, memandang do’a sebagai sebuah kebutuhan. Hakikatnya, do’a dalam agama kita merupakan sebuah bentuk afirmasi makhluk terhadap Kholik, yakni bentuk pengakuan kita atas keagungan Allas SWT. Serangkaian harapan yang terkandung dalam do’a itu sendiri menegaskan bahwasanya terdapat rasa ketidakmampuan dalam diri manusia atas kuasa Tuhan, sehingga kita sebagai makhluk-Nya mengajukan permohonan guna mendapatkan apa yang kita inginkan.

Epistemologis do’a memandang bahwa do’a bukan semata-mata sebuah kewajiban hamba terhadap Allah, melainkan lebih jauh do’a adalah sebuah kebutuhan. Tentunya, beragam cara kita sebagai umat islam menyampaikan do’a. Jangan salah, ritualistik Ibadah Sholat yang sering kita lakukan didalamnya terkandung berbagai macam do’a yang menjadi kebutuhan hidup kita. Lebih jauh, Epistemologi do’a berbicara mengenai lafadz-lafadz do’a yang kita lantunkan. Apakah berupa lafadz secara zahir (Qaulun), ataukah dalam bentuk lambang (symbolic praying) atau dalam bentuk tindakan (Bi-alhal). Kesemuanya itu bagian dari metode berdo’a.

Juga, sihir merupakan bagian dari do’a. Seringkali kita memandang bahwa do’a adalah sesuatu yang dimaksudkan untuk kebaikan dan harus dilakukan dengan cara baik. Padahal, konstruksi pemikiran tersebut tidak selamanya benar. Upaya generalisasi definisi do’a adalah kesalahan tersendiri, sehingga tidak mengakomodir do’a dalam bentuk lain. sihir, seperti yang telah diutarakan merupakan bagian dari do’a. Walaupun cara dan tujuan yang dilakukan cenderung bersifat negatif. Namun, hakikatnya sihir pun memohon pertolongan terhadap di luar dari diri kita. Sihir pun bergam bentuk ada yang kemudian bisa kita katakan sebagai sihir modern ( pekembangan teknologi) ataupun sihir tradisional yang kiranya sekarang dipandang sebagai bentuk penyimpangan dari umat beragama. Nilai positifnya, dari sihir tradional ialah bahwa ada kepedulian dari kita untuk senantiasa melesatarikan warisan leluhur kita. Kewajiban kita bukan mencela tradisi tersebut melainkan merasionalisasikan warisan leluhur apakah masih relevan dengan perkembangan zaman, sehingga kita bisa mengambil ikhtisar dari warisan tersebut. Seklai lagi, sihir merupakan bagian dari do’a. Bukan hanya sihir yang dipandang negatif, banyak juga yang lainnya seperti ilmu kanuragan, pancasona, pamacan, pamonyet, mantra dan lain sebagainya. Semuanya, saya masukkan ke dalam bagian dari do’a.

Di atas, saya mengutarakan bahwa do’a dilakukan dengan beragam cara. Tidak hanya ketika kita selepas melaksanakan ritual keagamaan lantas kita melantunkan do’a. Melainkan do’a tidak pernah terbatas dengan konteks ruang dan waktu. Kapanpun dan dimanapun kita bisa memanjatkan do’a sebagai bentuk penghambaan kita terhadap Tuhan.

Adalah istiadah, merupakan bagian dari epistemologi do’a. Istiadah merupakan proses memohon perlindungan kepada Allah sebagai penguasa alam. Lafadz yang biasa kita ucapkan adalah lafadz istiadah. Dimana makna dari lafadz tersebut ialah memohon perlindungan dari segala macam godaan setan yang menjerumuskan. Kemudian, ada yang dinamakan Istoghosah. Yakni proses do’a yang dilakukan guna memohon kehadiran ruh dalam diri kita. Ruh atau spirit atau dalam kajian filsafat disebut geist, merupakan sebutan untuk memohon kekuatan metafisika kepada Tuhan dalam diri kita. Untuk mendapatkannya istighosah dilakukan dengan beragam jalan.

Banyak lagi bentuk do’a yang lainnya, seperti istianah (mohon pertolongan kepada Allah dan Makhluk lain), wirid (kegiatan batiniyah yang berkesinambungan, umunya berisi do’a-doa kebaikan), riyadhoh (berbentuk pelatihan kebatinan, dan ini masyhur ketika aliran sufi merajalela), bermunajat (guna membersihkan citra Tuhan yang terkotori oleh kita), juga Hijb, yakni lembaran do’a-do’a khusus. Kesemuanya itu merupakan bagian dari do’a.

Kemudian, apa bentuk aksiologis dari do’a itu sendiri? Sudah jelas, tujuan do’a adalah memohon pertolongan dari di luar diri kita. Maka aksiologisnya ialah bagaimana kita kemudian senantiasa memanjatkan do’a setelah segala macam ikhtiar kita lakukan. Dengan adanya do’a bukan berarti kita memasrahkan segalanya kepada kuasa Tuhan, melainkan kita menegasikan rasa sombong dalam diri sekaligus wujud syukur kita atas segala keberkahan dan kekuasaan Tuhan.

Do’a lazim kita gunakan sebagai alternatif terakhir atas ketidakberdayaan kita. Kita memasrahkan diri kepada Tuhan di luar kekuatan kita, agar Tuhan memberikan daya kepada diri kita sehingga semua yang kita inginkan benar-benar terwujud secara maksimal.

“ berdo’alah kepada-Ku, niscaya kuperkenankan untukmu”-(Al-Qur’an)-

No comments: