Sekedar LPIK

My photo
Lembaga Pengkajian Ilmu Keislaman (LPIK) Bandung

Saturday, November 6, 2010

Psikografi Agama dalam Perspektif Komunikasi

Oleh RIDWAN SANGKAKALA

Ada sebuah kisah menarik tentang pemahaman seseorang seputar agama. terlepas dari apakah agama yang ia yakini itu islam, kristen, hindu, budha, atau bahkan ia yang mengaku tanpa agama.

Namun, perlu digarisbawahi bahwa kalaupun kita mengaku bertuhan tanpa agama ataupun sebaliknya, pada hakikatnya kita tak akan pernah bisa memisahkan dan berpaling dari keduanya. setiap manusia yakin dengan fitrah ketuhannya, maka dari itu simaklah sedikit refleksi saya perihal agama yang saya maktubkan melalui kisah sederhana di bawah ini:
alkisah, ada seorang dokter. di negerinya dokter tersebut terkenal dengan keahliannya menyembuhkan berbagai penyakit pasiennya waktu itu. namun, dibalik keahliannya itu, ia sering kali mengatakan bahwa dirinya hanya sekedar penghantar keagungan Tuhan dalam menyembuhkan pasiennya itu. mungkin secara psikologis dan sosial, dokter itu mencoba menjadi seorang sosok rendah hati dan tak mau membanggakan diri karena ia tahu bahwa dirinya tak mempunyai daya dan kekuatan apapun dalam menyambuhkan pasiennya. ia hanyalah seorang manusia biasa yang penuh dengan kesalahan. maka dari itu, ia pun tak punya sekecil hati untuk bisa membanggakan dirinya. dan itu ia sadari sebagai insan yang penuh dengan kealpaan, terlebih dirinya sebagai manusia yang bertuhan dan patuh terhadap ajaran agamanya.

suatu hari, ia kedatangan seorang pasien yang mengidap sakit gigi. mulutnya membengkak karena sakit gigi yang ia derita begitu FARAH. hal ini terjadi dikarenakan orang tersebut enggan memriksakan penyakit giginya itu kepada seorang ahli kesehatan, dalam hal ini dokter. si pasien ini berfikiran bahwa tanpa seorang dokterpun ia mampu menyembuhkan dirinya dari sakit gigi yang telah lama ia rasakan. terlebih, karena dirinya yakin bahwa sebagai insan yang beragama seklaigus bertuhan, tentu tuhan akan membantunya dalam menyelesaikan permaslahannya itu. awalnya, prinsip seperti itu (baca : prinsip si pasien yang terlihat layaknya fatalistik) ia pegang begitu kuat, tak gentar sedikitpun ia berpaling dari prinsipnya itu. bahkan, tercatat, sepanjang hidupnya itu dan selama ia mengidap penyakitnya itu, indera pengecapnya belum pernah sedikitpun mengecap rasa manis atau paj\hit dari sebuah obat. hingga suatu hari, ia tak tahan lagi dengan sakit gigi yang ia derita. dan akhirnya ia pun mau menemui dokter untuk sekedar meredakan ras nyerinya itu.

kemudian, di sebuah ruang praktek dokter tersebut, terjadilah sebuah speak up singkat antara dokter dengan si pasien itu. apa yang anda rasakan? tanya si dokter. saya meraskan rasa nyeri dalam diri saya, ujar si pasien. ras nyeri di sebelah mana? tanya dokter kembali. rasa nyeri di bagian mulut. jawab si pasien ketus karena ia tak tahan lagi dengan penyakitnya itu. lantas, dalam hati si pasien itu berkata, mengapa dokter ini bertanya terus mengenai penyakitnya? kalau emang ia ahli harusnya ia sudah tahu apa yang harus ia lakukan tanpa harus bertanya lagi.

lantas, si dokter menjelaskan bahwa: ketika kita meraskan sakit, maka kewajiban kita adalah berdo'a dan berikhtiar. Tuhan memang akan menolong kita, tapi bagaimana caranya kita menjemput pertolongan Tuhan yang ada di depan kita. apakah kita hanya harus diam saja. tentu tidak. begitupun ketika kita memahami agama? agma hadir bukan hanya untuk di terima dengan apa adanya secara konsepsional, tapi agama hadir untuk di yakini, di mkritisi dan diimplementasikan dalam kehidupan nyata. kalau hanya memahami agama dari satu aspek saja, maka yang terjadi ialah parsialitas dalam memahami agama.

mendengar penuturan si dokter, pasien itu sadar bahwa ia memang harus mencari kebenran tentang agama yang ia yakini selama ini dari aspek konsepsinya semata. ia tidak pernah mencoba memahami agama secara faktual dengan melirik sedikit kondisi sosial di lingkungannya. ia secara sadar meyakini bahwa ia beragma hanya untuk dirinya bukan untuk sosial. terlepas dari itu, si pasien yang awalnya tak pernah mau meminum obat, akhirnya ia pun mau meminum obat yang diberikan oleh dokter itu. setelah selesai si pasien itu meminum obat itu, lantas si dokter bertanya, bagaiaman rasanya pak? jawab si pasien pahit dok. nah, begitulah rasa agama yang selama ini anda yakini.

bersambung....