Sekedar LPIK

My photo
Lembaga Pengkajian Ilmu Keislaman (LPIK) Bandung

Monday, June 18, 2007

Menggugat Mahasiswa

Menggugat Idealisme Mahasiswa

Oleh Endang Suhendang



Jika anda membicarakan masalah-masalah yang berhubungan dengan kemanusiaan, seperti ketidakadilan, pengangguran, pelacuran, kekerasan terhadap anak dan perempuan, pemerintahan yang makin korup dan masih banyak lagi permasalahan yang jika di sebutkan dan dibahas tidak akan selesai sampai kita lelah menyebutkannya dengan aktivis mahasiswa, saya yakin anda akan tertegun kagum dengan begitu pasih dan lancarnya dia menguraikan masalah tersebut dari penyebab masalah itu terjadi sampai solusi yang dia tawarkan. Tentunya ucapannya ini dilengkapi dengan kutipan dari beberapa tokoh yang semakin menguatkan anggapan kita bahwa dia bukan mahasiswa yang ahli dalam demonstrasi saja, tapi tidak ketinggalan dalam wacana keilmuan.

Penulis banyak bergaul dan kenal baik dengan beberapa aktivis mahasiswa, mereka semua sangat menaruh perhatian yang cukup serius terhadap permasalahan-permasalahan yang terjadi dinegara ini pada khususnya dan dunia pada umumnya. Mereka bahkan mendirikan badan-badan yang bisa menjadi wadah dalam melancarkan gerakan-gerakannya. Dalam lingkup yang paling dekat misalnya, mereka (mahasiswa) dengan organnya bisa mengontrol dan memberikan kritikan terhadap kebijakan-kebijakan dari pihak rektorat yang dianggap merugikan dan dianggap tidak sesuai dengan kepentingan dan kebutuhan mahasiswa. Seperti tuntutan perbaikan sarana dan pasilitas kampus yang bisa menunjang proses perkuliahan.

Perhatian dan gerakan mahasiswa seperti itu tidak bisa dilepaskan dari sikap dan sifat idealisme yang dimilikinya sebagai mahasiswa. Mahasiswa dengan idealismenya bisa berdiri digarda paling depan mendobrak barisan polisi dan TNI dengan moncong senjatanya tanpa rasa takut. Walaupun sekarang ini para demonstran tidak hanya dari kalangan mahasiswa saja. Dimana ada ketidakadilan disana pasti ada demonstran. Namun haruskah sikap dan sifat idealisme dimiliki oleh mahasiswa dan dimiliki pada saat menjadi mahasiswa saja?

Jika jawabannya tidak, kenapa dari dulu hingga sekarang para aktivis mahasiswa yang selama mereka menjadi mahasiswa begitu lantang dan berpihak pada rakyat banyak yang tertindas dan setelah mereka keluar dari bangku kuliah dan mereka disuguhi jabatan-jabatan yang memungkinkan dia bisa lebih efektif bersuara malah tak bersuara. Kalaupun bersuara mereka menyuruh rakyat sabar dan lebih percaya pada pemerintah? Sabar katanya…? Kemana nilai-nilai idealisme yang dulu membuat dia berani berkoban demi kepentingan rakyat? Atau jangan-jangan dulu ketika ramai-ramai turun kejalan mereka bukan memperjuangkan rakyat, tetapi agar kelihatan sebagai aktivis kemudian kelihatan oleh penguasa dan diambil sebagai kaki tangannya?.ataukah berpura-pura menjadi aktivis agar dikenal banyak wanita kemudian jadi selebritis kampus yang dipuja-puja sebagai seorang pembernani. Munafik sekali mahasiswa seperti itu. Mudah-mudahan itu semua salah dan tidak terjadi.

Jika memang sikap dan sifat idealisme yang ada pada mahasiswa hanya sebatas dia menjadi mahasiswa saja. sungguh sangat ironis sekali. dimana salah satu ciri mahasiswa yang membedakan dia dengan tukang becak atau tukang bajai adalah sikap kritis dan penggunaan penalaran-penalaran yang rasional dengan menggunakan logika sebagai alat utamanya. Dan rasanya tidak banyak manfaatnya (walaupun ada). Adalah lebih baik jika sikap-sikap yang kritis dan mengutamakan nilai-nilai idealisme terus tertanam dalam diri dan menjadi darah daging walaupun para mahasiswa sudah keluar dari bangku kuliah.

Jika sikap idealisme dimiliki hanya sebatas ketika menyandang predikat sebagai mahasiswa saja. Setelah keluar "persetan dengan sikap idealisme", katanya. Maka tidak heran jika kita melihat tidak ada bedanya antara pola pikir seseorang yang lulusan SD dengan seseorang yang lulusan sarjana. Sama-sama tidak menggunakan rasio sebagai pisau yang bisa melihat dan menelanjangi seluruh permasalahan (walaupun tidak seluruhnya) bisa menggunakan akal.

Jika sikap idealisme dimiliki lebih karena mereka terbebani oleh karena menjadi seorang mahasiswa, maka jangan heran mereka yang diteriaki oleh para mahasiswa dengan berbagai sebutan yang menurut orang yang tidak biasa mendengarnya akan panas telinga. Akan menanggapi dengan tersenyum sambil berkata "ah dulu juga saya seperti kamu, berteriak lantang dan turun kejalan bahkan saya lebih berani dari itu, mahasiswa kan harus seperti itu agar bisa jadi pejabat. Maka saya tak perlu terlalu menanggapi dan dibikin pusing oleh bocah itu". sikap idealisme seperti itu tidak lebih dari rotasi regenerasi yang tidak boleh terputus. Dan jika sikap dan anggapan itu benar ada pada diri mahasiswa, sungguh tidak sadar para mahsiswa ini. mereka tidak lebih dari seorang pemain teater yang sedang memainkan pagelaran alam yang mengantarkan mahasiswa pada panggung kemunapikan dan menikmatinya tanpa menyadarinya.

"Berbahagialah orang yang mati muda" (Gie), dan memang benar ucapan Gie ini. Mereka yang memiliki sikap idealisme mati muda sebelum mereka tercemari oleh arus yang bisa menyeret siapa saja, dari golongan dan agama apasaja hingga akhirnya bermuara pada tempat bernama kekuasaan.( yang miring)

Orang-orang seperti Soe Hok Gie, Chairil Anwar, Ahmad Wahib dan mungkin masih banyak lagi orang-orang idealis (bukan sifat pribadi) yang tidak tercatat dalam sejarah pergerakan mahasiswa dan sejarah pada umumnya adalah orang-orang idealis sejati karena mereka mati muda. Mungkin mereka akan tidak sanggup untuk bisa menolak jika mereka berumur panjang dengan berbagai kesempatan dan peluang yang mengantarkan mereka pada puncak bernama kekuasaan (yang miring) maka mereka memilih berdo'a lebih baik mati muda.

Tentunya aktivis mahasiswa pada tiap masa sangat banyak namun hanya sedikit saja dari mereka yang benar-benar memiliki sikap yang jujur dan menjungjung tinggi nilai-nilai kemanusiaan.(mungkin salah satunya yang mati muda itu) sedangkan mereka yang masih hidup sekarang, kemana mereka? Kemana mereka para aktivis tahun 66? Yang begitu gigih berjuang untuk kepentingan rakyat. Kemana mereka para aktivis 98 yang menumbangkan rezim Soharto? Rakyat rindu akan keberanianmu. Rakyat rindu akan perjuanganmu.rakyat rindu akan perjuangan-perjuangan mahasiswa-mahasiswa berikutnya yang berjuang tidak hanya sebatas menjadi mahasiswa tapi sepanjang nyawa bersarang pada jasad sepanjang itu pula perjuangan dilakukan.

Penulis mahsiswa sosiologi smester tiga

1 comment:

SEKJEN PENA 98 said...

Memang banyak yang pergi
Tidak sedikit yang lari
Sebagian memilih diam bersembuyi
Tapi… Perubahan adalah kepastian
dan untuk itulah kami bertahan
Sebab kami tak lagi punya pilihan
Selain terus melawan sampai keadilan ditegakan!

Kawan… kami masih ada
Masih bergerak
Terus melawan!
www.pena-98.com
www.adiannapitupulu.blogspot.com